Bagaimana Hukum Menjual Kembali Makanan Sisa? ini Jawabannya ~ Headline.co.id (Jakarta). Dalam dunia bisnis kuliner, kejujuran menjadi prinsip utama yang harus dijunjung tinggi oleh setiap pedagang. Salah satu praktik yang kerap menjadi perdebatan adalah penjualan kembali makanan yang tidak habis di hari sebelumnya tanpa memberitahu pembeli. Apakah hal ini diperbolehkan dalam Islam? Ataukah termasuk dalam kategori penipuan?
Baca juga: Hukum Trading Crypto dalam Islam
Para ulama menegaskan bahwa dalam transaksi jual-beli, transparansi menjadi kunci agar tidak ada pihak yang dirugikan. Rasulullah SAW dalam haditsnya bersabda:
“Barangsiapa menjual sesuatu yang mengandung cacat dan tidak menjelaskannya, ia senantiasa dalam murka Allah, dan malaikat senantiasa melaknatnya.” (HR. Ibnu Majah)
Dari hadits ini, dapat disimpulkan bahwa menjual barang dengan kondisi tertentu tanpa menjelaskannya kepada pembeli dapat dianggap sebagai bentuk kecurangan. Namun, bagaimana jika makanan yang dijual kembali masih dalam kondisi baik dan layak konsumsi?
Baca juga: Kapan Awal Puasa Ramadhan 2025? Ini Jadwal Versi Muhammadiyah hingga Pemerintah
Hukum Menjual Makanan Sisa
Dilansir dari NU Online, Menurut para ahli fikih, praktik menjual kembali makanan yang tidak habis pada hari sebelumnya tidak serta-merta dianggap sebagai bentuk penipuan. Hal ini tergantung pada kualitas makanan tersebut serta kebiasaan yang berlaku di suatu daerah. Jika makanan yang dijual masih dalam kondisi baik dan tidak membahayakan kesehatan, maka penjual tidak berkewajiban memberi tahu pembeli, terutama jika praktik ini sudah menjadi kebiasaan yang diketahui umum.
Namun, dalam kasus di mana kualitas makanan dapat menurun atau tidak sesuai ekspektasi pembeli, penjual sebaiknya memberikan informasi secara jujur. Hal ini sesuai dengan prinsip dasar dalam Islam bahwa seorang Muslim harus menjauhkan diri dari segala bentuk kecurangan.
Baca juga: Sejarah Shalat dan Hikmah di Balik Waktu-Waktu Shalat
Perbedaan Kasus Berdasarkan Konteks
Dalam praktiknya, ada perbedaan antara menjual kembali makanan yang telah diolah dengan menjual barang dagangan lain seperti perabotan atau pakaian. Sebagai contoh, jika seseorang menjual sebuah lemari dengan harga normal tetapi ternyata terdapat lecet yang mengurangi nilai barang, maka wajib bagi penjual untuk menginformasikan kekurangan tersebut kepada pembeli. Jika tidak, maka transaksi tersebut dapat dikategorikan sebagai penipuan.
Namun, dalam konteks kuliner, banyak pedagang yang menghangatkan kembali lauk yang tidak habis pada hari sebelumnya dan menjualnya di hari berikutnya. Jika hal ini merupakan praktik yang umum dan diterima oleh masyarakat setempat tanpa merugikan kualitas makanan, maka tidak ada kewajiban bagi penjual untuk mengungkapkan informasi tersebut.
Baca juga: Hukum Mematikan HP Ketika Shalat: Batal atau Tidak ini Penjelasannya?
Kesimpulan: Jujur Adalah Kunci
Berdasarkan kajian fiqih, penjualan kembali makanan sisa yang masih dalam kondisi baik tidak serta-merta dianggap sebagai penipuan, terutama jika hal tersebut merupakan praktik yang umum terjadi di suatu daerah. Namun, jika terdapat kemungkinan bahwa pembeli akan merasa dirugikan, maka transparansi sangat dianjurkan.
Dalam berdagang, nilai kejujuran harus tetap diutamakan. Menjaga kualitas barang dagangan serta memberikan informasi yang jelas kepada pembeli dapat menciptakan transaksi yang lebih berkah dan menghindari unsur gharar atau ketidakjelasan dalam muamalah. Sebagai umat Muslim, kejujuran dalam berdagang bukan hanya menjaga hubungan baik dengan pelanggan, tetapi juga menjadi bagian dari ibadah yang bernilai di sisi Allah SWT.
Baca juga: Tata Cara Sholat Jenazah: Hukum, Syarat, Rukun, Sunnah






















