Headline.co.id ~ Menteri Agama Nasaruddin Umar mendorong pesantren melahirkan cendekiawan yang tidak hanya menguasai ilmu, tetapi juga arif dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Pesan tersebut disampaikan saat Nasaruddin memberikan tausiyah kebangsaan dalam kunjungan silaturahmi ke Pondok Pesantren Mambaus Sholihin, Gresik, Jawa Timur. Menag menjelaskan, keunggulan pendidikan pesantren terletak pada perpaduan ilmu pengetahuan, penghayatan batin, dan pembentukan karakter santri. Menurut dia, proses tersebut dilakukan melalui penguatan nalar, pensucian jiwa, serta latihan spiritual.
Di hadapan para santri, Nasaruddin membedakan orang alim, intelektual, dan cendekiawan. Orang alim, kata dia, adalah mereka yang menguasai suatu disiplin ilmu. Sementara itu, intelektual merupakan orang yang mampu mengamalkan ilmu yang dimilikinya.
Namun, pesantren dituntut melangkah lebih jauh dengan membentuk sosok cendekiawan yang arif. Sosok tersebut tidak hanya memiliki pengetahuan dan kemampuan mengamalkan ilmu, tetapi juga menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Orang yang alim, berkarakter intelek, dan ilmunya dirasakan manfaatnya secara nyata oleh masyarakat, itulah yang disebut cendekiawan. Itulah orang yang arif. Semua orang arif itu pasti alim, tetapi tidak semua orang alim itu arif. Yang kita cari di pondok ini adalah kearifan,” tegas Menag.
Pesantren Padukan Nalar dan Olah Batin
Nasaruddin menjelaskan, pendidikan pesantren memiliki pendekatan yang memadukan olah nalar atau ilmu hushuli dengan olah rohani atau ilmu hudhuri. Menurut dia, kemampuan santri dalam menyerap ilmu pengetahuan turut dipengaruhi kebersihan batin.
Karena itu, proses tazkiyah atau pensucian jiwa perlu dilakukan sebelum ta’lim atau pengajaran. Menag mengutip penegasan Al-Qur’an, “wa yuzakkihim wa yu’allimuhum”, yang dimaknainya sebagai tazkiyah terlebih dahulu, kemudian taklim.
“Al-Qur’an menegaskan wa yuzakkihim wa yu’allimuhum—tazkiyah dulu, pembersihan batin dulu, baru kemudian taklim. Kalau dada kita seluas samudra karena batin yang bersih, maka seluas lautan pula ilmu yang bisa ditampung. Di pesantren, kalian bukan hanya dilatih mengerahkan nalar laboratorium, tetapi mengasah kekuatan rohani untuk meraih makrifat dan hikmah,” jelasnya.
Ia kemudian mengilustrasikan perbedaan metode hushuli dan hudhuri melalui secangkir teh. Dalam metode hushuli, seseorang dapat menyimpulkan minuman itu teh manis hanya berdasarkan pengamatan terhadap air mendidih, teh celup, dan serbuk putih yang dicampurkan.
Namun, kesimpulan tersebut bisa keliru apabila serbuk yang dimasukkan sebenarnya garam. Rasa asin baru diketahui setelah minuman tersebut dicicipi secara langsung. Bagi Menag, pengalaman langsung itu menggambarkan metode hudhuri yang menekankan penghayatan dan pembuktian melalui rasa serta batin.
“Kalau hanya mengandalkan teori nalar, kita bisa salah kesimpulan. Itu metode hushuli. Tetapi di pesantren, kita diajarkan metode hudhuri, kita rasakan dan alami langsung kebenarannya. Di sinilah letak berkah dan kedalaman ilmu pesantren,” terang Menag.
Kurikulum Mambaus Sholihin Gabungkan Turots dan Riyadhah
Pesan Menag tersebut sejalan dengan kurikulum dan tradisi yang diterapkan Pondok Pesantren Mambaus Sholihin. Putera pengasuh sekaligus Rektor UNKAFA Gresik, Muhammad Majduddin, mengatakan pesantren itu sejak didirikan oleh Romo KH. Masbuhin Faqih pada 1981 diarahkan untuk membentuk santri yang kuat secara intelektual sekaligus matang secara spiritual.
Menurut Majduddin, kurikulum Mambaus Sholihin menggabungkan kajian literatur kitab kuning klasik atau turots ala Pondok Pesantren Langitan, penguasaan bahasa internasional ala Pondok Modern Gontor, serta pembinaan batin melalui bimbingan tarekat Romo KH. Utsman Al-Ishaqi.
“Pondok ini mencampurkan pembinaan nalar melalui kajian mendalam Alfiyah, Ushul Fiqh, Nahwu, dan Sharaf, dengan kedisiplinan bahasa, serta amaliah spiritual dan riyadhah batin. Ini adalah ikhtiar kami bersama pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa secara lahir dan batin,” papar Majduddin.
Menag Ingatkan Santri Tidak Mengejar Popularitas
Nasaruddin mengatakan, metode hudhuri juga mengajarkan santri agar tidak silau oleh popularitas duniawi. Menurut dia, orang yang telah mencapai derajat arif akan lebih mengutamakan ketulusan amal dan kemanfaatan bagi sesama daripada pengakuan manusia.
“Seorang yang arif tidak peduli apakah dia populer atau tidak di bumi. Yang terpenting dia dikenal di langit, menjadi ‘artis langit’. Apa gunanya populer di bumi kalau tidak dikenal penduduk langit? Saya meyakini wajah-wajah santri di hadapan saya ini adalah wajah penghuni surga yang harum namanya di langit,” ucapnya.
Dalam kesempatan itu, Menag juga berpesan agar para santri memperbanyak shalawat kepada Rasulullah SAW. Ia meminta santri menghidupkan malam dengan munajat dan tahajud.
Nasaruddin mengutip mahfuzhat “man thalabal ‘ula sahiral layali” dan menyebut malam hari di pesantren sebagai momentum turunnya limpahan rahmat. Ia meminta para santri memperbaiki serta membersihkan hati melalui ibadah malam.
“Perbaiki dan bersihkan hati kalian. Bangunlah di malam hari, pungutlah butir-butir rahasia mutiara hikmah yang berguguran dari langit melalui sujud malam. Di sanalah Allah mengangkat derajat hamba-Nya menuju maqam yang terpuji,” pesan Menag.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.



















