Headline.co.id, Jakarta ~ Liga Santri Indonesia 2026 akan digelar pada pekan keempat Oktober 2026 sebagai kompetisi sepak bola mini tingkat nasional yang melibatkan pesantren dari delapan provinsi. Kegiatan ini diselenggarakan melalui kerja sama Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama (Kemenag), Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), dan Komite Sepakbola Mini Indonesia (KSMI). Liga Santri Indonesia 2026 dirancang sebagai ajang untuk menemukan dan mengembangkan talenta olahraga santri sekaligus membentuk karakter melalui disiplin, kerja sama, kepemimpinan, dan sportivitas.
Delapan provinsi yang menjadi cakupan kegiatan tersebut ialah Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Nusa Tenggara Barat. Kompetisi akan berlangsung secara berjenjang sebelum memasuki putaran nasional yang dijadwalkan digelar selama empat hari pada Oktober 2026.
Liga Santri Indonesia 2026 Tak Sekadar Kompetisi
Penyelenggara menempatkan Liga Santri Indonesia 2026 bukan hanya sebagai pertandingan untuk memperebutkan gelar juara. Lapangan sepak bola mini diharapkan menjadi ruang pendidikan bagi para santri untuk mengembangkan bakat sekaligus memperoleh pengalaman sosial melalui interaksi dengan peserta dari berbagai daerah.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Ketua Umum KSMI Yan Mulia Abidin mengatakan, sepak bola mini dapat mendukung pembentukan santri yang sehat secara fisik dan kuat secara mental.
“Sepak bola mini bukan sekadar aktivitas olahraga. Ini juga sarana pembentukan karakter, penguatan kebersamaan, dan penanaman nilai-nilai sportivitas,” ujar Yan.
Menurut dia, olahraga dapat melengkapi pendidikan yang berlangsung di pesantren. Para santri tidak hanya memerlukan kemampuan keilmuan, tetapi juga ruang untuk mengembangkan potensi lain berdasarkan bakat dan minat mereka.
Dalam kompetisi, para pemain belajar bekerja dalam tim, menghargai lawan, mematuhi aturan, serta menerima kemenangan dan kekalahan secara sportif. Karena itu, kegiatan tersebut dipandang memiliki dimensi lebih luas daripada sekadar pencarian pemain berbakat.
Kemenag Dorong Pengembangan Potensi Santri
Direktur Jenderal Pesantren Kemenag Basnang Said mengatakan, santri perlu memperoleh kesempatan luas untuk berprestasi di berbagai bidang tanpa kehilangan identitas kepesantrenan.
“Liga Santri Indonesia menjadi salah satu ruang aktualisasi bagi santri untuk mengembangkan bakat dan minat di bidang olahraga. Kami ingin santri memiliki kesempatan yang luas untuk berprestasi, tanpa meninggalkan identitas, nilai-nilai kepesantrenan, dan akhlakul karimah,” kata Basnang.
Basnang menilai pertandingan dapat memberikan pelajaran yang tidak selalu diperoleh di ruang kelas. Melalui olahraga, santri berlatih membangun kerja sama, menghormati pihak lain, menaati aturan, serta menghadapi hasil pertandingan dengan sikap sportif.
Direktur Pemberdayaan Pesantren Yusi Damayanti menambahkan, pengembangan pesantren membutuhkan pendekatan yang beragam, termasuk melalui olahraga. Menurut dia, kolaborasi lintas lembaga diperlukan agar potensi santri dapat dikembangkan secara terarah dan berkelanjutan.
“Liga Santri tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana membangun kepercayaan diri, kepemimpinan, kedisiplinan, dan jejaring antarpesantren,” ujar Yusi.
BAZNAS Dukung Pemberdayaan melalui Olahraga
Ketua BAZNAS RI Dr. Ir. H. Sodik Mudjahid, M.Sc., menyampaikan dukungan terhadap pengembangan potensi santri melalui olahraga. BAZNAS memandang olahraga sebagai salah satu instrumen yang dapat memperkuat aspek kesehatan, pendidikan, dan kepemudaan.
Dukungan tersebut memperluas makna pemberdayaan santri dalam Liga Santri Indonesia 2026. Kompetisi tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan tim juara, tetapi juga memberikan kesempatan kepada santri untuk menemukan dan mengembangkan kemampuan yang mereka miliki.
Sistem kompetisi berjenjang memungkinkan pesantren dari sejumlah daerah mengikuti rangkaian pertandingan sebelum mencapai putaran nasional. Pada fase nasional, pertandingan akan mencakup babak penyisihan grup, semifinal, perebutan tempat ketiga, dan final.
Format tersebut memberi kesempatan kepada para pemain untuk merasakan kompetisi secara bertahap. Pertandingan juga dapat menjadi ruang bagi tim pembina dan pemangku kepentingan olahraga untuk melihat potensi pemain yang berkembang dari lingkungan pesantren.
Tantangan Menjaga Pembinaan Berkelanjutan
Penyelenggaraan Liga Santri Indonesia 2026 diharapkan tidak berhenti sebagai agenda tahunan untuk memperebutkan trofi. Keberlanjutan pembinaan menjadi tantangan setelah kompetisi nasional berakhir.
Kompetisi akan lebih bermakna apabila diikuti pertandingan di tingkat daerah, pemantauan pemain, peningkatan kualitas pelatih, dan pembinaan yang berkelanjutan. Dalam konteks itu, sinergi KSMI, BAZNAS, dan Direktorat Jenderal Pesantren dinilai penting untuk menyatukan olahraga, pendidikan pesantren, dan pemberdayaan santri.
Liga tersebut diharapkan menjadi pintu masuk bagi terbentuknya ekosistem olahraga pesantren yang mampu menemukan, membina, dan mengantarkan talenta muda ke jenjang prestasi yang lebih tinggi.
Pesan yang dibangun tidak terbatas pada sepak bola. Santri diharapkan tumbuh dengan ilmu, akhlak, kesehatan fisik, kedisiplinan, daya saing, serta kemampuan bekerja sama. Lapangan olahraga pun menjadi ruang belajar tentang perjuangan, penghormatan terhadap lawan, kerja tim, dan cara bangkit setelah mengalami kekalahan.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.





















