Headline.co.id, Jakarta ~ Pemerintah akan memprioritaskan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di daerah dengan angka stunting tinggi. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menyampaikan hal itu dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin (3/8/2026). Kebijakan tersebut ditempuh untuk mempercepat penanganan masalah gizi nasional melalui intervensi yang diarahkan kepada wilayah dan kelompok yang paling membutuhkan.
Penetapan daerah prioritas dilakukan berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang saat ini sedang disinkronkan oleh BGN. Data tersebut mencakup wilayah secara berjenjang, mulai dari provinsi, kabupaten, kecamatan, hingga desa, sehingga pelaksanaan Program MBG diharapkan dapat berlangsung secara tepat sasaran.
Data Kemenkes Jadi Dasar Penentuan Daerah Prioritas MBG
Sudaryono mengatakan BGN sedang menyisir wilayah berdasarkan data yang dihimpun Kemenkes. Proses sinkronisasi itu dilakukan agar daerah dengan kebutuhan intervensi gizi yang tinggi dapat segera menjadi fokus pelaksanaan program.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Sebagaimana saya sampaikan kemarin terkait daerah 3T, kami menyisir berdasarkan data Kementerian Kesehatan. Sudah ada wilayahnya, provinsi mana, kabupaten mana, kecamatan mana, hingga desanya. Saat ini data tersebut sedang kami sinkronkan sehingga daerah yang menjadi prioritas dapat segera kami fokuskan, terutama wilayah yang memiliki angka stunting tinggi,” ujar Sudaryono.
Menurut Sudaryono, pendekatan berbasis data diperlukan untuk memastikan pelaksanaan MBG tidak hanya berfokus pada cakupan wilayah, tetapi juga mempertimbangkan tingkat kebutuhan gizi masyarakat di setiap daerah.
Prioritas Tidak Hanya untuk Wilayah 3T
Fokus pemerintah melalui Program MBG tidak terbatas pada wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T. Daerah lain yang tercatat memiliki prevalensi stunting tinggi juga masuk dalam perhatian pemerintah.
Sudaryono menyebut Papua dan Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai wilayah yang menjadi perhatian. Selain itu, terdapat sejumlah kabupaten di Sumatera dan Jawa yang juga memiliki angka stunting cukup tinggi sehingga memerlukan intervensi gizi secara cepat.
“Wilayah 3T ini sama dengan angka stuntingnya tinggi. Enggak hanya di Papua, tapi juga di NTT, di beberapa wilayah yang lain termasuk, ada beberapa temuan di beberapa kaupaten di Jawa ada yang memang angka stuntingnya cukup tinggi,” kata Sudaryono.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kategori wilayah 3T dan tingginya angka stunting menjadi dua pertimbangan yang saling berkaitan dalam penentuan sasaran program. Namun, wilayah di luar 3T tetap dapat diprioritaskan apabila berdasarkan data memiliki persoalan stunting yang tinggi.
Sasaran Program Mencakup Anak hingga Ibu Menyusui
BGN menargetkan Program MBG menjangkau wilayah yang paling membutuhkan. Intervensi gizi tersebut secara khusus diarahkan kepada anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita atau kelompok 3B di daerah dengan tingkat stunting tinggi.
Dengan menyelaraskan data Kemenkes dan pemetaan wilayah hingga tingkat desa, BGN berupaya menentukan lokasi yang perlu mendapatkan fokus lebih dahulu. Data yang telah disinkronkan akan menjadi dasar untuk mengarahkan pelaksanaan MBG kepada penerima manfaat sesuai tingkat kebutuhan di masing-masing daerah.
Prioritas terhadap daerah dengan stunting tinggi diharapkan mempercepat penanganan masalah gizi nasional. Pemerintah juga menempatkan wilayah 3T dan sejumlah daerah di Sumatera serta Jawa sebagai bagian dari sasaran yang memerlukan perhatian melalui program tersebut.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.


















