Headline.co.id, Jakarta ~ Pemerintah menargetkan pembangunan ekosistem peternakan nasional di lima wilayah rampung dan mulai diresmikan pada 2027. Program yang diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan ini mencakup pembangunan pabrik pakan, fasilitas pembibitan ayam atau day old chick (DOC), budidaya ayam, produksi telur, serta pengembangan sapi perah dan susu.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan pembangunan tersebut dilaksanakan di Lampung, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, dan Gorontalo. Pemerintah menyiapkan anggaran sekitar Rp2,2 triliun untuk lima kawasan tahap awal, sebagai bagian dari total anggaran sekitar Rp17 triliun yang disiapkan untuk pengembangan ekosistem peternakan di sejumlah wilayah.
Percepatan dilakukan untuk memperkuat pasokan ayam, telur, dan susu bagi kebutuhan nasional, termasuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurut Amran, kawasan peternakan itu dirancang terintegrasi dari hulu hingga hilir agar produksi, bahan baku, pengolahan, distribusi, dan penyerapan hasil peternakan berada dalam satu rantai pasok yang lebih efisien.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Lima kawasan peternakan dikebut hingga 2027
Amran menyampaikan target penyelesaian tersebut dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Jumat (2/10/2026). Ia menyebut pembangunan lima pabrik pakan beserta fasilitas pendukungnya ditargetkan selesai pada tahun depan.
“Lima pabrik pakan, DOC dan seterusnya itu selesai tahun depan. Insyaallah lima ini diresmikan tahun depan,” ujar Amran.
Tahap awal pembangunan mencakup lima kawasan yang tersebar di lima provinsi. Untuk program tersebut, anggaran sekitar Rp2,2 triliun telah disiapkan dan disebut telah mendapatkan persetujuan Presiden Prabowo Subianto.
“Anggarannya sudah turun, beliau (Presiden) sudah tanda tangan Rp2,2 triliun untuk lima. Total anggaran yang dipersiapkan pemerintah sekitar Rp17 triliun, tetapi bukan di sini saja,” kata Amran.
Menteri Pertanian menegaskan pekerjaan di lima wilayah itu terus dipercepat. Ia menyatakan dukungan administrasi dan anggaran telah diselesaikan sehingga pembangunan dapat segera dilanjutkan di lapangan.
“Sudah bor-bor. Targetnya tahun depan selesai. Administrasinya sudah selesai, anggarannya juga sudah selesai. Yang penting selesai dulu,” tegasnya.
Rantai pasok ayam, telur, dan susu terintegrasi
Ekosistem peternakan yang dibangun pemerintah tidak hanya berfokus pada hasil produksi akhir. Rancangannya mencakup ketersediaan pakan, pembibitan ayam atau DOC, budidaya ayam, produksi telur, serta pengembangan sapi perah untuk meningkatkan produksi susu nasional.
Integrasi tersebut juga dikaitkan dengan pemenuhan kebutuhan pangan bergizi untuk program MBG. Pemerintah mendorong agar ayam, telur, dan susu yang dibutuhkan program itu berasal dari penguatan produksi dalam negeri.
“Dari hulu ke hilir ini holistik. Ada MBG menjadi off-taker ayam, telur, susu. Kemudian di sini produksi telur, ayam, susu,” jelas Amran.
Menurut Amran, pembangunan fasilitas peternakan dari hulu hingga hilir akan membuat pasokan lebih dekat dengan sentra produksi. Pemerintah juga berharap pendekatan tersebut dapat memperkuat kapasitas produksi dan menciptakan pasar bagi bahan baku peternakan.
Pabrik pakan dibangun dekat sentra jagung
Salah satu komponen penting dalam ekosistem tersebut adalah industri pakan. Jagung yang menjadi bahan baku utama pakan akan didorong berasal dari sentra produksi di sekitar kawasan peternakan.
Amran mencontohkan kebutuhan jagung untuk kawasan di Sulawesi Selatan dapat dipasok dari Bone, Soppeng, dan kabupaten lain di sekitarnya. Pabrik pakan yang dibangun dekat dengan sentra produksi jagung dinilai dapat mengurangi jarak distribusi dan menekan biaya logistik.
“Ayam butuh pakan. Pakannya dari jagung. Jagung ini nanti dari Bone, Soppeng, kabupaten tetangga, dari mana saja. Karena ini yang menjadi pakan nanti,” kata Amran.
Ia menjelaskan, pola tersebut membuat jagung tidak perlu dikirim ke luar wilayah untuk diolah menjadi pakan, kemudian dibawa kembali ke sentra peternakan.
“Jadi dari hulu ke hilir ini holistik. Itu murah. Daripada jagung ini dikirim ke Surabaya, dikirim ke Jakarta, setelah jadi pakan dikembalikan,” ujarnya.
Selain pabrik pakan, pemerintah menyiapkan fasilitas DOC agar kebutuhan bibit ayam dapat dipenuhi lebih dekat dengan lokasi produksi. “Pabrik pakan juga akan dibangun lengkap DOC-nya, anak ayam. Tidak perlu lagi mengambil ke mana-mana. Ambil dari sini. Lengkap,” tutur Amran.
Kawasan Bone seluas 150 hektare
Di Sulawesi Selatan, salah satu kawasan pengembangan ekosistem peternakan berada di Bone dengan luas sekitar 150 hektare. Kawasan ini diharapkan memperkuat rantai pasok peternakan sekaligus mendorong aktivitas ekonomi baru di wilayah sekitar.
Pengembangan sapi perah di kawasan tersebut dan wilayah lainnya diarahkan untuk meningkatkan ketersediaan susu nasional. Amran menyebut susu menjadi bagian penting dalam pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, terutama anak-anak.
“Peternakan sapi itu sapi perah, susu. Kan butuh susu anak-anak supaya tinggi besar nanti,” katanya.
Amran menilai pengembangan ayam, telur, dan susu tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi pangan, tetapi juga investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
“Kenapa? Minum susu, telur, ayam dan seterusnya. Itu mimpi Bapak Presiden. Generasi kita adalah generasi cerdas nanti ke depan, sehingga mencapai Indonesia Emas,” ujar Amran.
Pemerintah juga berharap pembangunan kawasan terintegrasi membuka lapangan kerja dan memperluas aktivitas ekonomi lokal. “Lokal lah. Kalau mau kerja di sini, itu kan lapangan kerja,” ujar Amran.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.




















