Headline.co.id, Pariaman ~ Gladi kesiapsiagaan gempa bumi dan tsunami di Sumatera Barat mengungkap waktu evakuasi masyarakat dari kawasan pantai masih mencapai 30 hingga 40 menit. Evaluasi itu disampaikan dalam latihan berformat Field Training Exercise (FTX) yang digelar di Lapangan Parkir Josal Football Academy, Cubadak Aia Utara, Kota Pariaman, Rabu (30/9/2026). Sekitar 1.200 peserta dari unsur pemerintah, aparat, relawan, masyarakat, hingga pelajar mengikuti simulasi dengan skenario gempa berkekuatan 8,8 skala Richter yang berpotensi memicu tsunami. Temuan tersebut menjadi dasar penguatan jalur evakuasi, koordinasi, rencana kontingensi, dan sistem rujukan kesehatan di Sumatera Barat.
Gladi tsunami Sumbar uji evakuasi dan penanganan korban
Gladi tsunami Sumbar tidak hanya menguji kemampuan masyarakat dan petugas untuk menyelamatkan diri, tetapi juga menilai kesiapan pemerintah daerah dan berbagai unsur pendukung dalam menghadapi bencana. Peserta latihan terdiri atas pemerintah daerah, TNI-Polri, Basarnas, Palang Merah Indonesia (PMI), instansi teknis, organisasi kemanusiaan, relawan, dunia usaha, akademisi, media, masyarakat, serta pelajar.
Rangkaian simulasi mencakup evakuasi masyarakat, penanganan korban, pencarian dan penyelamatan, pengelolaan posko, pelayanan kesehatan, pemenuhan kebutuhan pengungsi, distribusi logistik, pemulihan, hingga keberlanjutan sektor pendidikan.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Sestama BNPB RI Rustian menyoroti waktu evakuasi yang masih berada pada kisaran 30 hingga 40 menit. Menurutnya, kecepatan menjadi faktor penting ketika gempa besar berpotensi diikuti tsunami.
Ia mengingatkan masyarakat di kawasan rawan tsunami agar memahami jalur evakuasi dan titik kumpul sebelum bencana terjadi. Jalur yang jelas juga diperlukan untuk mencegah penumpukan massa di satu titik sehingga proses penyelamatan tidak terhambat.
“Kalau gempa dan tsunami yang terjadi, di atas 8 skala Richter itu kecepatannya sama dengan pesawat. Jadi tidak bisa jalan dan lari-lari kecil, harus berlari,” kata Rustian.
Rustian meminta pemerintah daerah memastikan jalur evakuasi dan tempat evakuasi mudah dikenali serta dipahami masyarakat. “Pastikan jalur evakuasinya di mana. Dan tempat evakuasinya di mana,” ucapnya.
Mahyeldi minta temuan gladi segera ditindaklanjuti
Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah menegaskan, berbagai persoalan yang muncul selama gladi harus didokumentasikan, dievaluasi, dan ditindaklanjuti secara konkret. Pemerintah kabupaten dan kota juga diminta menyiapkan dukungan anggaran untuk memperbaiki kelemahan yang teridentifikasi.
Mahyeldi mengatakan kesiapsiagaan tidak boleh berhenti pada pelaksanaan simulasi. Kesiapsiagaan harus menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat dan sistem kerja pemerintah daerah.
“Melakukan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana itu wajib hukumnya. Kesiapsiagaan ini krusial agar risiko bencana, potensi korban jiwa, hingga tingkat kerusakan dapat ditekan sekecil mungkin,” tegasnya.
Ia juga meminta masyarakat dan pemerintah tidak menunggu bencana terjadi untuk mempelajari koordinasi maupun jalur penyelamatan.
“Jangan menunggu bencana datang untuk belajar berkoordinasi, jangan menunggu sirine berbunyi untuk mencari jalur evakuasi. Bencana mungkin tidak dapat kita hindari, tetapi risikonya dapat kita kurangi dengan kesiapsiagaan dari sekarang,” jelas Mahyeldi.
Rencana kontingensi dan rujukan kesehatan perlu diperbarui
Selain perbaikan waktu evakuasi, Rustian menekankan pentingnya pembaruan rencana kontingensi di setiap kabupaten dan kota. Dokumen tersebut harus dipahami seluruh unsur yang terlibat agar dapat menjadi pedoman saat bencana terjadi.
Sumatera Barat terdiri atas 19 kabupaten dan kota. Dalam pemaparannya, Rustian menyebut delapan daerah berada pada indeks risiko bencana tinggi, sedangkan 11 daerah berada pada kategori risiko sedang.
“Rencana kontingensi yang ada di setiap kabupaten kota ini betul-betul harus bisa di-update, jangan hanya ada saja,” harap Rustian.
Pembaruan itu mencakup pembagian peran, jalur koordinasi, lokasi pengungsian, mekanisme evakuasi, serta pelayanan bagi korban.
Sistem rujukan kesehatan juga menjadi perhatian. Rustian mengingatkan agar rumah sakit yang berada di kawasan rawan tidak otomatis dijadikan tujuan rujukan karena fasilitas kesehatan tersebut berpotensi ikut terdampak bencana.
“Jadi jangan terjadi di sini, rujukannya ke rumah sakit yang berada di zona terdampak. Tidak boleh. Silakan cari yang aman,” tegasnya.
Dinas Kesehatan diminta memetakan sejak awal fasilitas kesehatan yang berada di lokasi aman dan memiliki kapasitas sebagai rumah sakit rujukan ketika terjadi bencana besar.
Pariaman dorong latihan kebencanaan berkelanjutan
Wali Kota Pariaman Yota Balad menilai latihan kebencanaan perlu dilakukan secara serius dan berkelanjutan. Menurutnya, masyarakat tidak dapat mencegah bencana, tetapi dapat mempersiapkan diri untuk mengurangi dampaknya.
“Kita tidak bisa mencegah alam berkehendak, tetapi kita bisa menyiapkan diri untuk mengurangi dampaknya,” kata Yota.
Ia menyebut simulasi diperlukan untuk membangun refleks masyarakat agar tidak panik ketika menghadapi kondisi darurat. Latihan juga membantu masyarakat memahami langkah yang harus dilakukan dan jalur evakuasi secara tepat.
“Gladi simulasi ini adalah kunci keselamatan kita. Melalui latihan ini, kita mengasah naluri, melatih refleks, dan memahami jalur evakuasi secara tepat,” jelasnya.
Yota mengajak masyarakat menjadikan kesiapsiagaan sebagai kebiasaan melalui semangat “Siap untuk Selamat”. Gladi tersebut sekaligus menjadi momentum mengenang gempa Sumatera Barat 2009 serta satu abad gempa Padang Panjang.
Hasil utama latihan itu adalah tindak lanjut terhadap temuan di lapangan, terutama perbaikan waktu evakuasi, penguatan komunikasi lintas daerah, pemahaman jalur evakuasi, pembaruan rencana kontingensi, serta penyiapan sistem rujukan kesehatan.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.

















