Headline.co.id, Sleman ~ Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengkaji temuan pusara kuno beraksara Jawa di kompleks makam Kalurahan Margokaton, Kapanewon Seyegan, Sleman, pada Selasa (29/9/2026). Pengkajian awal dilakukan untuk menelusuri nilai sejarah sejumlah nisan dan inskripsi yang ditemukan warga. Kompleks tersebut diyakini memiliki keterkaitan dengan tokoh-tokoh era Mataram Islam hingga pergolakan Perang Diponegoro berdasarkan tutur lisan dan tinjauan awal di lapangan.
Tim BPK DIY yang dipimpin Septi turun langsung ke lokasi bersama mahasiswa magang dari Universitas Jambi dan Universitas Gadjah Mada. Mereka mengamati sejumlah nisan serta membedah inskripsi beraksara Jawa kuno dengan didampingi sesepuh desa, Mahfud dan Asngadi.
Berawal dari Penelusuran Warga
Temuan pusara kuno di Seyegan itu bermula dari inisiatif warga Margokaton yang memiliki perhatian terhadap sejarah lokal. Mei Anjar Wintolo, pegiat sejarah lintas masa, bersama budayawan Agus Suprihono menjadi pihak yang pertama kali melakukan penelusuran lapangan di kompleks makam tersebut.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Keduanya kemudian menggandeng Muhamad Yaser Arafat, akademisi sekaligus penulis buku Nisan Hanyakrakusuman, untuk membantu mengkaji guratan aksara pada nisan. Langkah itu ditempuh karena temuan di lapangan dinilai membutuhkan pembuktian dari ahli agar dapat dikonfirmasi secara akademik.
Inisiatif warga tersebut selanjutnya mendapat dukungan dari Lurah Margokaton, Anggit Bimanyu. Pihak kalurahan memfasilitasi komunikasi dengan Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman dan mengirimkan tembusan resmi kepada BPK DIY.
BPK DIY Telusuri Inskripsi Jawa Kuno
Setelah menerima laporan, BPK DIY melakukan observasi awal terhadap pusara dan inskripsi yang berada di kompleks pemakaman Margokaton. Pengkajian dilakukan dengan menelusuri satu per satu tulisan pada nisan, sekaligus mencocokkannya dengan keterangan dari para sesepuh desa.
Dalam tinjauan awal tersebut, kompleks makam disebut memiliki pertalian dengan sejumlah tokoh historis. Nama Eyang Sokmokaton muncul sebagai tokoh yang dipercaya menjadi perintis wilayah. Selain itu, terdapat nama Kyai Branjang Kawat, Sumo Ali, Wiro Probo, dan Dewi Pangaya.
Asngadi mengungkapkan, tiga nama tokoh bersejarah di antaranya tertulis berdampingan pada satu batu nisan. Temuan tersebut menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian dalam pengkajian awal BPK DIY di lokasi.
Dikaitkan dengan Sejarah Mataram Islam dan Diponegoro
Keterkaitan kompleks makam dengan tokoh-tokoh era Mataram Islam hingga masa pergolakan Perang Diponegoro masih didasarkan pada tutur lisan dan hasil tinjauan awal. Karena itu, keberadaan nama-nama tersebut masih memerlukan kajian lebih lanjut untuk menelusuri narasi sejarah yang tersimpan di kawasan tersebut.
Bagi Anggit Bimanyu, pengkajian makam kuno Margokaton bukan semata-mata upaya merawat batu nisan. Langkah itu dinilai penting untuk mengungkap sejarah desa yang selama ini belum banyak diketahui generasi penerus.
Melalui pengkajian awal BPK DIY, masyarakat berharap kompleks makam Margokaton dapat ditetapkan secara resmi sebagai cagar budaya yang dilindungi negara. Penetapan tersebut diharapkan dapat dilakukan setelah nilai sejarah dan keterkaitan pusara dengan tokoh-tokoh masa lalu memperoleh konfirmasi akademik.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.















