by

Angka Kecelakaannya Semakin Tinggi, Masyarakat Harus Lakukan Perubahan

HeadLine.co.id, (Jakarta) – Tingginya angka kecelakaan di sepanjang perlintasan kereta api menjadi permasalahan pokok yang harus segera ditindaklanjuti. Baru-baru ini ada kejadian seorang mahasiswi yang tewas tersambar kereta api saat asik selfie di atas rel kereta, kemudian disusul seorang wanita yang diduga bunuh diri dengan menabrakan dirinya ke kereta yang sedang melaju.

Ada juga pick up yang bermuatan lebih sehingga tersangkut di rel dan akhirnya tertabrak kereta yang lewat dan yang terbaru seorang siswi yang menyebrang perlintasan sebidang bertepatan dengan lewatnya kereta. Sebenarnya siswi tersebut sudah diberikan peringatan oleh warga sekitar namun sepertinya ia tidak mendengar peringatan tersebut.

Dari berbagai jenis kecelakaan yang terjadi, hampir seluruhnya disebabkan oleh kelalaian para pengguna jalan. Dalam UU No 23 tahun 2007, telah ditegaskan bahwa kawasan jalur kereta api adalah kawasan steril. Artinya masyarakat tidak boleh melakukan aktivitas apapun disekitar rel. Masyarakat juga harus menyadari bahwa rel kereta api bukanlah tempat yang bisa digunakan untuk melepas penat atau menunjukkan eksistensi mereka dengan berfoto di rel.

Dalam UU No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan pasal 114 dijelaskan pada perlintasan antara jalur kereta api dan jalan, pengemudi kendaraan wajib antara lain berhenti ketika sinyal sudah berbunyi, saat palang pintu kereta api sudah mulai ditutup, dan/atau ada isyarat lain.

Masyarakat harus mendahulukan kereta api dan memberikan hak utama kepada kendaraan yang lebih dahulu melintasi rel.
Bagi pengendara yang melanggarnya ada sanksi hukum yang menanti sesuai dengan ketentuan Pasal 296 UU NO 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Dalam Pasal 114 huruf a, ada ancaman pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak Rp750 ribu.

Pada kenyataannya masih banyak masyarakat yang tidak peduli dengan UU tersebut. Hal ini terbukti dari banyaknya kasus kecelakaan dimana para pengguna jalan tidak melihat kanan dan kiri sebelum melintasi perlintasan sebidang. Bahkan ada juga yang nekat menerobos palang pintu yang telah tertutup dengan dalih kereta yang masih jauh atau karena diburu waktu.

Mulai saat ini masyarakat harus mulai memperhatikan keselamatannya serta keselamatan perjalanan kereta api. Patuhi rambu yang ada dan juga UU yang berlaku. Jangan melakukan aktivitas apapun di sekitar rel karena kita tidak tahu kapan kereta akan lewat. Angka kecelakaan tidak akan menurun selama masyarakat masih acuh dengan aturan dan tidak peduli dengan keselamatannya sendiri.

Selain itu masyarakat juga dilarang untuk membuat perlintasan tidak resmi atau liar di atas jalur kereta api sesuai dengan Pasal 92 UU No 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian. Adanya perlintasan liar justru akan menambah angka kecelakaan sehingga bila menemukan perlintasan liar diharapkan segera melapor ke stasiun terdekat untuk ditindaklanjuti.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed