Headline.co.id ~ Market-clearing yield dinilai menjadi ujian penting bagi koordinasi fiskal dan moneter Indonesia ketika pasar keuangan global menghadapi kenaikan imbal hasil obligasi serta biaya modal internasional. Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menyampaikan pandangan itu dalam keterangannya pada Senin (28/9/2026). Menurut dia, kemampuan pasar menemukan tingkat imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) yang sesuai akan menunjukkan efektivitas koordinasi Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia (BI). Proses tersebut perlu berlangsung dengan tetap menjaga stabilitas rupiah dan pasar keuangan.
Market-clearing yield merupakan tingkat imbal hasil ketika investor bersedia menyerap obligasi pemerintah secara alami sesuai kondisi pasar. Fakhrul menilai, fokus kebijakan tidak semestinya hanya diarahkan untuk mempertahankan yield SBN pada level serendah mungkin, tetapi juga memastikan tingkat imbal hasil tersebut dapat diterima investor tanpa terlalu bergantung pada dukungan kebijakan atau tambahan likuiditas.
Koordinasi Fiskal-Moneter Menghadapi Tekanan Global
Fakhrul mengatakan kerangka koordinasi pemerintah dan bank sentral kini semakin jelas. Kerangka itu mencakup lima pilar, yaitu pertumbuhan ekonomi, ketahanan eksternal, pengelolaan likuiditas, pengendalian inflasi, serta pendalaman pasar keuangan.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Namun, kejelasan kerangka tersebut akan diuji oleh kondisi pasar global yang ditandai kenaikan yield dan meningkatnya harga modal internasional. Ia menilai pasar akan melihat bagaimana koordinasi kebijakan bekerja ketika tekanan eksternal memengaruhi pembentukan harga aset domestik.
“Kerangka koordinasinya sekarang jauh lebih jelas. Ada lima pilar, yaitu pertumbuhan, ketahanan eksternal, pengelolaan likuiditas, pengendalian inflasi, dan pendalaman pasar keuangan. Tetapi justru karena kerangkanya sudah jelas, pasar sekarang akan segera menguji bagaimana koordinasi itu bekerja dalam kondisi yang sulit,” ujar Fakhrul.
Salah satu bentuk pengujian tersebut, kata dia, terlihat dari kemampuan pasar SBN menemukan tingkat imbal hasil yang mencerminkan keseimbangan kebutuhan pembiayaan pemerintah dan minat investor.
Perbedaan Repricing Global dan Risiko Spesifik Indonesia
Fakhrul mengingatkan agar kenaikan yield obligasi domestik dibaca secara hati-hati. Menurut dia, tidak seluruh kenaikan yield menunjukkan memburuknya persepsi investor terhadap fundamental Indonesia.
Sebagian penyesuaian dapat terjadi akibat kenaikan global risk-free rate dan term premium. Kedua faktor tersebut mencerminkan perubahan harga risiko serta biaya modal di pasar global. Karena itu, kenaikan yield akibat penyesuaian harga secara global perlu dibedakan dari kenaikan premi risiko yang secara khusus terkait dengan Indonesia.
“Kita harus membedakan kenaikan yield karena repricing global dengan kenaikan Indonesia-specific risk premium. Yang kedua harus dicegah. Tetapi yang pertama tidak selalu bisa ditahan,” ujarnya.
Ia menilai, ruang bagi pasar untuk menemukan market-clearing yield menjadi bagian dari strategi menjaga stabilitas eksternal. Harga obligasi yang mencerminkan kondisi pasar global diperlukan agar investor memperoleh kompensasi risiko yang sesuai.
Risiko Jika Yield Dipertahankan Terlalu Rendah
Fakhrul mengatakan, mempertahankan yield domestik terlalu rendah dibandingkan tingkat yang dibutuhkan investor marginal tidak otomatis menghilangkan tekanan penyesuaian harga. Tekanan tersebut justru dapat berpindah ke berbagai kanal, termasuk permintaan investor asing, penyerapan lelang SBN, nilai tukar rupiah, dan pasar saham.
“Kalau harga obligasi tidak cukup menyesuaikan, adjustment bisa berpindah ke foreign demand, ke auction absorption, ke Rupiah, bahkan ke aset berisiko lain seperti pasar saham. Jadi, menahan yield terlalu rendah bukan berarti menghilangkan risiko. Bisa saja hanya memindahkan risikonya,” kata Fakhrul.
Menurut dia, apabila yield tidak mencerminkan harga modal global, investor asing tidak memperoleh kompensasi yang memadai. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat menimbulkan tekanan terhadap rupiah dan pasar saham, kemudian memengaruhi sentimen serta optimisme dalam perekonomian.
“Kalau yield tidak mencerminkan harga modal global, investor asing tidak mendapat kompensasi yang cukup. Pada akhirnya tekanan bisa muncul di Rupiah dan pasar saham yang berujung pada penurunan sentimen dan optimisme dalam perekonomian,” ujarnya.
Koordinasi Tidak Menggantikan Price Discovery
Fakhrul berpandangan, lima pilar koordinasi fiskal-moneter dapat digunakan untuk mengelola penyesuaian pasar tanpa menghilangkan mekanisme pembentukan harga. Pilar ketahanan eksternal dapat diarahkan untuk memperkuat arus modal asing sekaligus mengurangi biaya lindung nilai. Sementara itu, pengelolaan likuiditas diperlukan untuk memastikan ketersediaan dana berjalan secara efisien.
Pendalaman pasar keuangan juga dinilai penting agar berbagai instrumen dan pelaku pasar, termasuk SBN, Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), perbankan, dan investor, dapat berkembang tanpa menciptakan distorsi dalam pembentukan harga.
“Koordinasi tidak boleh menggantikan price discovery. Koordinasi justru harus memastikan price discovery bisa terjadi tanpa membuat sistem menjadi tidak stabil,” ujar Fakhrul.
Ia menambahkan, sasaran kebijakan bukan sekadar memperoleh yield paling rendah, melainkan mendapatkan tingkat yield yang dapat dipertahankan pasar secara berkelanjutan.
“Yield yang terlalu rendah tetapi tidak menarik investor bukan yield yang murah. Pada akhirnya biaya penyesuaiannya bisa muncul di Rupiah, di foreign flow, atau di pasar saham,” katanya.
Menurut Fakhrul, kondisi pasar SBN ke depan akan menjadi ruang untuk melihat bagaimana arsitektur koordinasi fiskal-moneter yang telah diperjelas bekerja menghadapi tekanan eksternal. “Karena itu saya melihat ujian pertama koordinasi fiskal–moneter ini sangat sederhana tetapi penting: apakah pemerintah dan BI siap membiarkan pasar menemukan harga yang benar,” ujarnya.
Ia menilai efektivitas koordinasi pada akhirnya tidak hanya tercermin dari kerangka kebijakan yang dibangun, tetapi juga dari kemampuan pemerintah dan BI menjaga stabilitas ketika proses pembentukan harga berlangsung di tengah perubahan kondisi global.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.




















