Highlight Berita:
Headline.co.id, Jakarta ~ Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap terdapat 14 segmen megathrust yang tercantum dalam Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024. Zona-zona tersebut tersebar dari barat Sumatera, selatan Jawa, hingga kawasan timur Indonesia dan wilayah di sekitarnya, dengan potensi magnitudo maksimum atau maximum magnitude (Mmax) yang berbeda-beda. Megathrust Aceh-Andaman tercatat memiliki Mmax tertinggi, yakni M9,2, sementara Megathrust Jawa mencapai M9,1. Informasi mengenai gempa bumi megathrust tersebut merupakan bagian dari pemetaan potensi bahaya dan bukan prediksi bahwa gempa besar akan terjadi dalam waktu dekat.
BMKG menjelaskan Indonesia berada di wilayah dengan aktivitas tektonik tinggi karena memiliki sejumlah zona subduksi yang dapat menjadi sumber gempa berkekuatan besar. Megathrust merupakan sumber gempa pada zona subduksi, yakni kawasan pertemuan dua lempeng tektonik ketika salah satu lempeng menunjam ke bawah lempeng lainnya.
“Indonesia berada di wilayah tektonik yang aktif dan memiliki sejumlah zona subduksi yang berpotensi menjadi sumber gempa kuat. Megathrust merupakan sumber gempa pada zona subduksi, ketika dua lempeng tektonik saling berinteraksi,” tulis BMKG dalam unggahan Instagram, Sabtu (26/9/2026).
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Pada zona tersebut, bidang pertemuan antarlempeng dapat terkunci. Kondisi itu memungkinkan energi terus terakumulasi hingga suatu saat dilepaskan dan menimbulkan gempa dengan bidang patahan yang luas.
14 Segmen Megathrust dalam Peta Sumber Gempa Indonesia
Berdasarkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 yang disusun Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN), terdapat 14 segmen megathrust yang disebut dalam materi BMKG. Segmen-segmen itu mempunyai nilai Mmax berbeda berdasarkan karakteristik sumber gempa yang diperhitungkan dalam pemodelan.
Rinciannya meliputi Megathrust Aceh-Andaman M9,2; Nias-Simeulue M8,7; Batu M7,8; Mentawai-Siberut M8,9; Mentawai-Pagai M8,9; Enggano M8,9; Jawa M9,1; Jawa bagian barat M8,9; Jawa bagian timur M8,9; Sumba M8,9; Sulawesi Utara M8,5; Palung Cotabato M8,3; Filipina Selatan M8,2; serta Filipina Tengah M8,1.
Keberadaan sejumlah segmen tersebut memperlihatkan bahwa potensi sumber gempa besar tidak hanya berada di satu kawasan. Zona subduksi membentang di sejumlah wilayah Indonesia dan sekitarnya sehingga potensi bahaya gempa menjadi bagian dari kondisi tektonik yang perlu diperhitungkan dalam mitigasi.
Aceh-Andaman Memiliki Mmax 9,2
Dari daftar tersebut, Megathrust Aceh-Andaman memiliki nilai magnitudo maksimum tertinggi, yakni M9,2. BMKG juga memaparkan skenario terburuk apabila gempa megathrust pada segmen Aceh-Andaman mencapai kekuatan tersebut.
Dalam skenario itu, guncangan maksimal dapat mencapai VIII MMI dan berpotensi berdampak terhadap bangunan. Gempa pada segmen tersebut juga dapat menimbulkan tsunami dengan ketinggian yang signifikan di kawasan Pantai Barat Sumatera.
“Wilayah Pantai Barat Sumatera memiliki potensi ketinggian tsunami di garis pantai hingga lebih dari 3 meter dan di beberapa lokosi hingga lebih dari 10 meter,” tulis BMKG dalam unggahan Instagram pada Rabu (23/9).
Skenario tersebut menggambarkan potensi dampak yang diperhitungkan apabila sumber gempa melepaskan energi dalam skenario terburuk. Informasi itu tidak menunjukkan bahwa gempa dengan kekuatan M9,2 dipastikan akan terjadi dalam waktu tertentu.
Mmax Bukan Prediksi Gempa Akan Segera Terjadi
BMKG menegaskan informasi potensi gempa bumi megathrust tidak dapat diartikan sebagai prediksi waktu terjadinya gempa. Hingga kini, waktu terjadinya gempa belum dapat diprediksi.
Nilai Mmax merupakan besaran maksimum yang diperhitungkan dalam pemodelan sumber gempa berdasarkan kajian terhadap karakteristik masing-masing sumber. Dengan demikian, angka M9,2 di Aceh-Andaman maupun M9,1 di Jawa bukan berarti gempa dengan magnitudo tersebut pasti terjadi.
Pemahaman terhadap perbedaan antara potensi magnitudo dan prediksi kejadian menjadi penting agar informasi mengenai megathrust tidak menimbulkan kesimpulan yang keliru. Peta sumber gempa digunakan untuk menggambarkan potensi bahaya yang harus diperhitungkan, terutama dalam upaya mitigasi.
BMKG Ingatkan Pentingnya Mitigasi Gempa dan Tsunami
BMKG mengimbau masyarakat mengenali potensi gempa dan tsunami di wilayah masing-masing serta menyiapkan langkah mitigasi. Langkah yang dianjurkan antara lain menyiapkan tas siaga bencana, mengenali jalur dan titik evakuasi, berlatih kesiapsiagaan bersama keluarga dan komunitas, serta memastikan bangunan memenuhi prinsip bangunan tahan gempa.
Masyarakat juga diminta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. BMKG telah menyiapkan 533 sensor seismograf serta sistem peringatan dini tsunami InaTEWS atau Indonesia Tsunami Early Warning System untuk mendeteksi kejadian secara cepat dan menyebarkan informasi kepada masyarakat.
Apabila masyarakat merasakan gempa kuat atau guncangan berlangsung lebih dari 30 detik atau sekitar 20 hitungan, kondisi tersebut perlu diwaspadai karena dapat berpotensi menimbulkan tsunami dalam waktu singkat. Masyarakat di kawasan pantai diminta menjauhi pantai dan tepi sungai serta menuju tempat yang lebih tinggi apabila menerima tanda peringatan atau merasakan kondisi yang mengharuskan evakuasi.
Informasi peringatan dini tsunami dapat diterima melalui televisi nasional, radio daerah, maupun pengumuman di sekitar wilayah kejadian. Jika sirene, kentongan, atau alat peringatan lain berbunyi, masyarakat diminta segera melakukan evakuasi ke tempat aman.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.

















