Headline.co.id, Jakarta ~ Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) mendorong transformasi digital Indonesia bergerak dari sekadar adopsi teknologi menuju penciptaan nilai. Arah tersebut disampaikan Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kemkomdigi Fifi Aleyda Yahya saat menghadiri Business Forum (ABF) 2026 di Jakarta, Rabu (23/9/2026). Mewakili Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, Fifi menilai penguatan kapasitas digital diperlukan untuk meningkatkan produktivitas, nilai ekonomi, keamanan, dan kepercayaan dalam satu dekade ke depan.
Forum ABF 2026 yang mengangkat tema “The Synergy Horizon: Positioning Indonesia for the Next Decade” membahas arah kebijakan ekonomi, investasi, penguatan sektor industri, transformasi ekonomi, serta peluang dan tantangan Indonesia menghadapi perubahan lanskap global.
Transformasi Digital Indonesia Berbasis Tiga Prinsip
Fifi mengatakan kapasitas pembangunan Indonesia dalam 10 tahun mendatang sangat ditentukan oleh fondasi yang dibangun sejak sekarang. Salah satu fondasi tersebut adalah kapasitas digital yang telah menjadi bagian dari infrastruktur pertumbuhan ekonomi.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Teknologi digital kini bukan lagi sekadar pendukung aktivitas ekonomi, tetapi telah menjadi bagian dari infrastruktur pertumbuhan yang menentukan bagaimana masyarakat bekerja, dunia usaha berkembang, dan bagaimana Indonesia berkompetisi,” ujar Fifi.
Menurut dia, transformasi digital Indonesia dibangun melalui tiga prinsip, yakni terhubung, tumbuh, dan terjaga. Prinsip terhubung diarahkan untuk memastikan akses digital yang berkualitas dan merata. Prinsip tumbuh menekankan agar teknologi menghasilkan produktivitas dan nilai ekonomi, sedangkan prinsip terjaga mencakup keamanan serta kepercayaan dalam ekosistem digital.
Pemerintah, lanjut Fifi, kini tidak hanya mengejar perluasan konektivitas, tetapi juga meaningful connectivity. Koneksi yang dibangun harus cepat, stabil, terjangkau, dan aman, sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Pemerintah menargetkan kecepatan broadband hingga 100 Mbps pada 2029 serta perluasan fiber optic hingga 90 persen kecamatan,” katanya.
Konektivitas Dibangun Bersama Pusat Data dan Komputasi
Pemerataan konektivitas menjadi perhatian, terutama untuk membuka peluang ekonomi di luar Jawa serta wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Untuk mendukung tujuan tersebut, pembangunan konektivitas dinilai perlu berjalan bersama penguatan pusat data, cloud, dan kapasitas komputasi nasional.
“Di mana ada masyarakat dan dunia usaha, maka harus memiliki kesempatan yang semakin besar untuk terhubung dengan pasar dan ekonomi digital,” ujar Fifi.
Ia menyebut ekonomi digital Indonesia telah mendekati US$100 miliar pada 2025. Besarnya pasar tersebut perlu diarahkan agar menghasilkan nilai yang lebih besar di dalam negeri, bukan hanya mendorong konsumsi teknologi.
“Kita perlu bergerak dari digital adoption menuju digital creation, dari pengguna menjadi pencipta, dan dari konsumsi menjadi produktivitas,” tegasnya.
Fifi mengatakan perubahan tersebut harus dirasakan sektor riil, mulai UMKM, industri, hingga jasa keuangan. Karena itu, sinergi pemerintah, BUMN, dan sektor swasta perlu diarahkan pada pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan produktivitas, inovasi, dan daya saing.
Adopsi AI Indonesia Capai 92 Persen
Perkembangan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) juga menjadi perhatian dalam transformasi digital Indonesia. Berdasarkan data yang disampaikan Fifi, tingkat adopsi AI di Indonesia telah mencapai 92 persen pada 2026.
Namun, tingginya tingkat adopsi tersebut perlu diikuti kemampuan menciptakan manfaat ekonomi dan produktivitas nasional. Penguatan talenta digital pun dinilai harus berjalan beriringan dengan pembangunan infrastruktur dan industri.
“Tantangan kita sekarang adalah bagaimana memastikan bahwa adopsi tersebut menghasilkan produktivitas dan juga nilai ekonomi nasional. Kita ingin Indonesia tidak hanya menjadi pengguna AI global, tapi juga pengembang dan pencipta nilai,” katanya.
Talenta digital yang disiapkan, kata Fifi, tidak cukup hanya memiliki kemampuan teknis. Mereka juga harus mampu memahami kebutuhan industri dan memberikan solusi atas persoalan nyata.
Dalam investasi digital, Indonesia terbuka terhadap investasi global dengan tetap memastikan investasi tersebut memperkuat kapasitas nasional, termasuk infrastruktur, talenta, riset, industri, dan inovasi.
“Kedaulatan digital bukan berarti menutup diri. Kedaulatan berarti memiliki kapasitas untuk menciptakan dan menentukan masa depan digital kita sendiri,” ujarnya.
Keamanan dan Kepercayaan Jadi Fondasi
Seiring membesarnya ekonomi digital, tata kelola AI, pelindungan data pribadi, serta keamanan infrastruktur digital disebut perlu menjadi fondasi ekosistem digital. Fifi menekankan aspek keamanan harus dirancang sejak awal penggunaan teknologi.
“Prinsipnya adalah security, privacy, and safety by design. Keamanan dan perlindungan tidak hadir setelah teknologi digunakan, tapi sejak awal dirancang,” katanya.
Selain keamanan teknologi, pemerintah menghadapi tantangan disinformasi, misinformasi, dan berbagai bentuk manipulasi informasi yang dapat mengganggu kepercayaan publik. Karena itu, ruang digital yang sehat membutuhkan teknologi yang aman sekaligus ekosistem informasi yang dapat dipercaya.
Fifi menegaskan transformasi digital tidak dapat dibangun pemerintah seorang diri. Kolaborasi diperlukan pemerintah, BUMN, dunia usaha, investor, akademisi, startup, dan masyarakat.
“Dalam satu dekade ke depan, kita ingin bergerak dari digital adoption menuju digital value creation. Dari pasar digital yang besar menuju kapasitas digital yang kuat. Pemerintah siap membuka ruang, dunia usaha siap menciptakan, talenta Indonesia siap mengembangkan,” pungkasnya.
Direktur Utama Benny Siga Butarbutar mengatakan ABF 2026 diharapkan tidak berhenti sebagai forum pertukaran pandangan, tetapi mendorong komitmen konkret pemerintah dan dunia usaha, baik BUMN maupun swasta.
“Melalui ABF, kami berharap lahir dialog yang produktif dan pertukaran gagasan yang konstruktif, serta terbangunnya komitmen yang konkret pemerintah dan pelaku usaha, baik BUMN maupun swasta, dalam menjawab tantangan sekaligus memanfaatkan peluang yang ada,” ujar Benny.
ABF 2026 merupakan gelaran keempat setelah sebelumnya diselenggarakan pada 2023, 2024, dan 2025. Tahun ini, forum tersebut menghadirkan sejumlah pengambil kebijakan dan pemangku kepentingan untuk membahas arah perekonomian Indonesia menuju 2027 serta posisi Indonesia dalam menghadapi dinamika ekonomi global.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.



















