Highlight Berita:
Headline.co.id, Tehran ~ Otoritas Iran mengumumkan pembatalan penerbangan dari Tehran menuju Baghdad, Irak, dan Muscat, Oman, setelah sanksi Amerika Serikat terhadap maskapai Iran mulai berdampak pada operasi penerbangan internasional. Juru bicara Organisasi Penerbangan Sipil Iran Majid Akhavan pada Selasa, 22 September 2026, menyatakan bandara di Baghdad dan Muscat akan berhenti menerima penerbangan Iran mulai tengah malam waktu setempat pada Rabu. Iran kini melakukan koordinasi untuk mencari alternatif operasional, termasuk mengalihkan penerbangan tujuan Baghdad ke Bandara Najaf. Kebijakan tersebut muncul ketika Washington meningkatkan tekanan melalui ancaman sanksi sekunder terhadap perusahaan yang memberikan layanan penerbangan kepada maskapai Iran.
Akhavan menjelaskan pemerintah Iran sedang berkoordinasi dan berkonsultasi terkait perubahan rute penerbangan setelah adanya pembatasan di Baghdad. Langkah pengalihan menjadi salah satu opsi untuk mempertahankan konektivitas penerbangan Iran dengan Irak meski penerbangan langsung menuju Baghdad terdampak.
'Karena alasan ini, kami sedang berkoordinasi dan berkonsultasi agar penerbangan yang ditujukan ke Baghdad diarahkan ke Bandara Najaf,' kata Akhavan.
Penerbangan ke Baghdad Diarahkan ke Najaf
Selain pembahasan mengenai rute Irak, negosiasi dengan Oman juga masih berlangsung. Kantor berita Iran ISNA melaporkan pembicaraan terkait penerbangan ke Muscat terus dilakukan setelah muncul kepastian bahwa bandara di ibu kota Oman tersebut tidak menerima penerbangan Iran mulai waktu yang ditetapkan.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Meski rute Baghdad dan Muscat terdampak, penerbangan internasional Iran lainnya dilaporkan tetap berjalan sesuai jadwal. ISNA menyebut penerbangan menuju Istanbul termasuk di antara layanan internasional yang masih beroperasi. Hingga pengumuman tersebut disampaikan, belum ada komentar langsung dari otoritas Irak maupun Oman mengenai pembatasan terhadap penerbangan Iran.
Layanan Bahan Bakar dan Darat Jadi Sasaran Sanksi
Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent sebelumnya mengatakan Washington akan memutus kemampuan maskapai Iran menjalankan operasi internasional mulai Rabu. Upaya tersebut dilakukan melalui ancaman sanksi sekunder kepada perusahaan yang tetap memberikan berbagai layanan penerbangan kepada maskapai Iran.
Bessent mengatakan ketika maskapai Iran mendarat di sebuah bandara, 'Anda tidak dapat menyediakan bahan bakar kepada mereka, Anda tidak dapat menyediakan layanan pendaratan, Anda tidak dapat menjual tiket kepada mereka, atau Anda akan dikeluarkan dari sistem dolar.'
Tekanan terhadap penyedia layanan darat menjadi bagian penting dari pelaksanaan kebijakan tersebut. Analis penerbangan menjelaskan Amerika Serikat tidak memiliki kewenangan untuk menutup wilayah udara negara lain. Namun, pembatasan terhadap perusahaan lokal yang memasok bahan bakar maupun menyediakan layanan penanganan darat dapat menghasilkan dampak operasional serupa karena maskapai membutuhkan dukungan tersebut untuk menjalankan penerbangan.
Kebijakan terbaru itu diterapkan tujuh bulan setelah perang Amerika Serikat dan Israel dengan Iran dimulai. Pembatasan terhadap layanan penerbangan juga menjadi bagian dari perluasan kampanye sanksi Washington terhadap Tehran.
Sanksi AS terhadap Iran Terus Diperluas
Pada awal September, Amerika Serikat memberlakukan langkah yang lebih ketat melalui Kantor Pengawasan Aset Asing atau OFAC di bawah Departemen Keuangan. Kebijakan tersebut memberikan pembatasan terhadap sektor perdagangan, energi, dan lembaga keuangan yang berkaitan dengan Iran.
Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya juga memperluas sanksi sekunder pada akhir Agustus. Perusahaan asing yang menjalankan bisnis dengan Iran dalam bidang pelayaran, teknologi, emas, dan aset digital diperingatkan dapat menghadapi konsekuensi sanksi dari Washington.
Pembatasan penerbangan memperlihatkan bagaimana tekanan ekonomi dan finansial dapat berpengaruh langsung terhadap kegiatan operasional maskapai. Ancaman terhadap akses perusahaan penyedia layanan ke sistem dolar membuat maskapai Iran berpotensi menghadapi kendala memperoleh bahan bakar, layanan pendaratan, penanganan darat, hingga penjualan tiket di luar negeri.
Tehran Tetap Membuka Peluang Perundingan
Di tengah peningkatan tekanan tersebut, Tehran pada Sabtu memberi sinyal masih terbuka terhadap perundingan yang dimediasi Qatar untuk mencapai penyelesaian jangka panjang. Namun, pemerintah Iran pada saat yang sama mempertahankan sikap keras terhadap tekanan dan ancaman dari Washington.
Kepala keamanan Iran Mohsen Rezaei menyatakan, 'Adalah kepentingan Washington untuk menerima kondisi-kondisi ini. Ancaman Trump tidak akan menghasilkan apa pun. Kami siap menghadapi perang yang menentukan.'
Pembatalan rute menuju Baghdad dan Muscat menjadi dampak langsung terbaru dari eskalasi sanksi terhadap sektor penerbangan Iran. Untuk sementara, pemerintah Iran berupaya mempertahankan layanan dengan mencari alternatif rute ke Irak dan melanjutkan negosiasi mengenai penerbangan ke Oman, sementara penerbangan internasional lain tetap dijalankan sesuai jadwal.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.




















