Headline.co.id, Jakarta ~ Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Ahmad Haikal Hasan mendorong visi “Halal Satu Logo, Halal Satu Standar” untuk memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem halal global. Gagasan itu disampaikan dalam penutupan The 5th Halal 20 (H20) Summit 2026 di Jakarta, Jumat (20/9/2026). Menurut Haikal, standar halal perlu dikembangkan dengan mengedepankan transparansi, keterlacakan, kebersihan, kesehatan, kualitas produk, dan kepercayaan konsumen. Penguatan tersebut ditempuh melalui standardisasi dan kerja sama lintas negara.
Visi Halal Satu Logo dan Halal Satu Standar menjadi salah satu gagasan utama yang didorong BPJPH dalam forum H20 Summit 2026. Forum yang diselenggarakan BPJPH itu berlangsung pada 18–20 September 2026 dengan tema “Bridging Bridges: Connecting Nations and Stronger Partnerships through Global Halal Trade & Economy”.
Halal Satu Logo dan Satu Standar
Haikal menjelaskan, gagasan tersebut berangkat dari kebutuhan untuk membangun standar halal yang dapat dipahami dan dipercaya masyarakat serta pelaku usaha di berbagai negara. Keseragaman pemahaman dan standar dinilai dapat memperkuat kepercayaan sekaligus memudahkan konektivitas produk halal dalam perdagangan internasional.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Ia mengibaratkan standardisasi halal dengan standar internasional seperti ISO yang memiliki kerangka dan pengakuan lintas negara. Menurut Haikal, standar halal juga dapat dikembangkan agar memiliki pemahaman yang lebih terintegrasi di berbagai kawasan.
“Jika ingin berbicara tentang ISO, standarnya sama. Di Amerika, Afrika, Asia, Australia, bahkan Indonesia, ISO ya ISO. Lalu, mengapa halal tidak bisa seperti itu?” katanya.
Dalam sambutannya, Haikal menegaskan pentingnya menjadikan halal sebagai bagian dari standar kualitas. “Halal Satu Logo! Halal Satu Standar! Halal sebagai standar untuk Anda, untuk makanan, untuk dimakan!” ujar Haikal.
Halal sebagai Jaminan Kualitas Produk
Haikal menilai pemaknaan halal perlu diperluas, tidak hanya terkait pemeriksaan terhadap bahan yang dilarang. Halal, menurut dia, perlu ditempatkan dalam ekosistem jaminan kualitas produk yang juga memperhatikan transparansi, keterlacakan, kebersihan, kesehatan, kualitas, dan kepercayaan.
Transparansi dan keterlacakan dinilai penting agar konsumen dapat mengetahui proses serta jaminan atas produk yang dikonsumsi. Pandangan itu sejalan dengan konsep halalan thayyiban, yakni halal sekaligus baik.
“Bukan hanya bicara tentang tidak ada babi, tidak ada lemak babi, tidak ada alkohol. Kita berbicara tentang makanan berkualitas, makanan elite, transparansi, keterlacakan, dan kepercayaan,” ujar Haikal.
Meski demikian, ia menyebut aspek seperti keamanan pangan, kandungan gizi, kebersihan, dan standar kesehatan memiliki ketentuan tersendiri dalam regulasi sektoral. Karena itu, penguatan ekosistem halal perlu berjalan bersama standar dan ketentuan lain yang berlaku.
Pengalaman Internasional dan Kepuasan Konsumen
Untuk menjelaskan pentingnya layanan halal bagi konsumen global, Haikal menceritakan pengalamannya ketika pertama kali bepergian menggunakan pesawat menuju Australia pada 1992. Saat berada di kelas ekonomi, ia memperoleh makanan halal yang disiapkan secara khusus oleh maskapai.
Pengalaman itu ia gunakan sebagai ilustrasi bahwa kebutuhan terhadap produk halal telah menjadi bagian dari layanan dalam industri penerbangan internasional. Menurut Haikal, layanan halal dapat dikembangkan sebagai bagian dari pemenuhan kebutuhan dan kepuasan konsumen.
“Bagi Australia pada tahun 1992, halal adalah kepuasan pelanggan,” ujarnya.
Haikal menilai standar halal berpeluang diterima lebih luas apabila dikembangkan sebagai bagian dari kualitas layanan dan kepercayaan konsumen. Dengan pendekatan tersebut, halal tidak hanya dipahami sebagai pemenuhan kewajiban, tetapi juga sebagai unsur yang mendukung kualitas produk dan layanan.
BPJPH Dorong Kolaborasi Lintas Negara
Haikal menyadari terwujudnya standar halal yang semakin terintegrasi tidak dapat dilakukan Indonesia sendirian. Ia mendorong kerja sama dengan lembaga halal, akademisi, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan dari berbagai negara.
BPJPH juga mendorong terbentuknya jejaring kerja sama halal Indonesia dengan berbagai kawasan, termasuk Eropa, Amerika Serikat, dan Australia. Jejaring tersebut diharapkan menjadi ruang pertukaran pengetahuan, pengalaman, serta penguatan kapasitas di bidang halal.
“Indonesia tidak bisa melakukan ini hanya dengan Indonesia. Namun, kita harus bersama-sama. Kita harus kuat,” kata Haikal.
Menurutnya, kolaborasi internasional diperlukan untuk memperkuat konektivitas antarlembaga halal. Dengan komunikasi dan pemahaman bersama, pengembangan standar halal diharapkan dapat dilakukan secara lebih terarah.
H20 Summit 2026 menjadi salah satu ruang bagi Indonesia untuk memperluas komunikasi dan kerja sama dalam pengembangan ekosistem halal global. Haikal mengatakan visi Halal Satu Logo dan Halal Satu Standar merupakan gagasan jangka panjang yang membutuhkan konsistensi serta kerja sama lintas negara.
Ia menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk berkontribusi dalam pengembangan ekosistem halal global karena memiliki basis industri dan pasar halal yang besar. Menurut Haikal, pengulangan gagasan dan kerja nyata diperlukan agar visi tersebut dapat berubah menjadi agenda yang diwujudkan.
“Untuk mencapai target, Anda harus mengulang dan mengulang. Ini adalah hukum pengulangan,” ujarnya.
Melalui penguatan standardisasi, kerja sama internasional, peningkatan kualitas, dan keterlacakan produk, BPJPH mendorong halal Indonesia menjadi bagian dari peningkatan daya saing industri halal. Visi tersebut diarahkan untuk memperluas manfaat ekosistem halal bagi masyarakat sekaligus memperkuat kontribusi Indonesia dalam rantai nilai halal dunia.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.

















