Headline.co.id, Gorontalo ~ Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Infrastruktur Universitas Negeri Gorontalo (UNG) merancang pengelolaan limbah domestik dan sampah pesisir di Kelurahan Leato Selatan, Kota Gorontalo. Rancangan yang dipaparkan pada Minggu (13/9/2026) itu mencakup sistem biofilter untuk air limbah rumah tangga serta cubluk kembar untuk mengolah blackwater. Selain itu, mahasiswa menyusun sistem pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular untuk mengurangi pencemaran dari daratan ke kawasan pantai dan laut.
Koordinator Desa KKN yang juga mahasiswa Jurusan Arsitektur UNG, Moh. Fathur Maliada, mengatakan desain pengelolaan limbah domestik tersebut disusun berdasarkan survei lapangan, pendataan volume sampah, serta identifikasi masalah dan analisis potensi (IMAP) di wilayah pesisir Leato Selatan.
Rancangan Biofilter dan Cubluk Kembar
Dalam desain pengolahan air limbah rumah tangga, mahasiswa membagi penanganan berdasarkan jenis limbah. Air limbah dari aktivitas rumah tangga atau greywater diarahkan menggunakan sistem biofilter, sedangkan blackwater dirancang untuk ditangani melalui cubluk kembar.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Kami telah memaparkan dua desain pengolahan air limbah rumah tangga, yaitu sistem biofilter untuk greywater dan cubluk kembar untuk blackwater sehingga dapat menurunkan beban pencemar antropogenik sebelum air limbah masuk ke lingkungan perairan,” kata Fathur.
Menurut Fathur, pengintegrasian kedua desain itu diarahkan untuk memutus jalur utama pencemaran dari daratan. Air limbah domestik dan sampah yang tidak dikelola berpotensi terbawa hingga ke kawasan pantai dan laut.
Rancangan tersebut menempatkan pembenahan sanitasi rumah tangga sebagai bagian dari upaya perlindungan lingkungan pesisir. Mahasiswa KKN UNG mengembangkan desain dengan mempertimbangkan kondisi nyata di lapangan dan kebutuhan pengelolaan lingkungan di Kelurahan Leato Selatan.
Sampah Pesisir Dikelola Berbasis Ekonomi Sirkular
Selain limbah domestik, mahasiswa KKN Tematik Infrastruktur UNG mendesain sistem pengelolaan sampah pesisir secara terpadu. Sistem itu mencakup pemilahan, pengangkutan, dan daur ulang dengan pendekatan ekonomi sirkular.
Fathur menyatakan, mahasiswa telah mendata profil dan volume sampah sebagai dasar penyusunan desain pengelolaan. Sampah organik diarahkan untuk diolah menjadi pupuk kompos dan pellet pakan.
Sementara itu, sampah anorganik difokuskan pada pengepakan berdasarkan profil sampah yang memiliki nilai jual. Material yang masih bernilai kemudian dapat dikelola secara terpadu di TPS3R Leato Selatan.
“Material yang masih bernilai dapat diolah secara terpadu di TPS3R Leato Selatan, sekaligus mengurangi sumber pencemaran antropogenik yang dapat mencemari kawasan pemukiman dan perairan laut,” ujar Fathur.
Melalui sistem tersebut, pengelolaan sampah tidak hanya diarahkan untuk mengurangi pencemaran, tetapi juga memanfaatkan kembali material yang masih memiliki nilai guna dan nilai jual.
Dinilai Dapat Menjadi Masukan Kebijakan
Camat Dumbo Raya, Heriyanto M. Abas, yang sejak awal terlibat dalam kolaborasi, mengapresiasi desain yang disusun mahasiswa. Ia menilai rancangan tersebut dibuat berdasarkan data dan kondisi nyata di lapangan.
Menurut Heriyanto, solusi yang ditawarkan mahasiswa bersifat inovatif dan ilmiah. Rancangan itu juga dinilai dapat menjadi masukan bagi pemerintah dalam menentukan arah kebijakan, terutama pada bidang sanitasi, persampahan, dan perlindungan lingkungan pesisir.
“Inovasi ini penting karena Leato Selatan merupakan kawasan pesisir yang terhubung langsung dengan perairan Teluk Tomini, salah satu kekayaan alam Gorontalo yang memiliki fungsi ekologis, ekonomi, sosial, dan pariwisata,” ujar Heriyanto.
Program KKN Tematik Infrastruktur tersebut merupakan kerja sama LP2M-UNG dengan Kementerian PUPR. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa menghadirkan desain ilmiah dan aksi nyata pengelolaan air limbah serta persampahan untuk mendukung arah kebijakan pembangunan berkelanjutan atau sustainable development goals (SDGs).
Rancangan itu berkaitan dengan SDGs tujuan 11 tentang kota dan permukiman berkelanjutan, tujuan 13 mengenai penanganan perubahan iklim, serta tujuan 14 tentang ekosistem lautan. Upaya tersebut juga selaras dengan SDG 17 mengenai kemitraan untuk mencapai tujuan.
Dalam menyusun rancangan aplikatif tersebut, mahasiswa dibimbing Dr. Raghel Yunginger, Mulyani Z. Paramata, M.T., dan Dr. Boby R. Payu. Hasil survei serta pendataan IMAP sebelumnya telah dipaparkan dalam diskusi kelompok terpumpun pertama kepada organisasi perangkat daerah terkait, Balai Penataan Bangunan, Prasarana dan Kawasan (BPBPK) Gorontalo, pemerintah kecamatan dan kelurahan, SDGs Center UNG, masyarakat, serta Perkumpulan Biodiversitas Gorontalo (BIOTA).













