Headline.co.id, Semarang ~ Kementerian Agama memutuskan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional digelar setiap tahun dan tidak lagi bergantian dengan Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ). Keputusan itu disampaikan Menteri Agama Nasaruddin Umar saat membuka MTQ Nasional XXXI di Lapangan Pancasila, Semarang, Jawa Tengah, Sabtu malam, 12 September 2026. Kebijakan tersebut diambil untuk memperkuat syiar dan pembinaan Al-Qur’an agar berlangsung lebih konsisten di tengah masyarakat. MTQ Nasional XXXI di Semarang berlangsung pada 11–20 September 2026 dengan diikuti 2.242 peserta dari 37 provinsi.
Selama ini, MTQ Nasional diselenggarakan dua tahun sekali dengan pola bergantian bersama STQ. Mulai penyelenggaraan berikutnya, Kemenag memutuskan kegiatan yang dilaksanakan setiap tahun adalah MTQ Nasional.
“Kami sampaikan kepada Bapak/Ibu sekalian, bahwa kita tidak mengadakan lagi STQ. Karena itu demi untuk syiar, maka Kementerian Agama memutuskan bahwa setiap tahun kita tidak melakukan STQ, tapi yang kita lakukan adalah MTQ,” tegas Nasaruddin Umar.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
MTQ Nasional Jadi Ruang Pembinaan dan Persaudaraan
Menurut Nasaruddin, perubahan pola penyelenggaraan tersebut diarahkan agar pembinaan dan syiar Al-Qur’an dapat dilakukan secara berkelanjutan. Ia menilai MTQ Nasional tidak hanya menjadi ajang kompetisi membaca, menghafal, dan memahami Al-Qur’an.
MTQ Nasional juga memiliki makna sosial dan kebangsaan karena mempertemukan masyarakat dari berbagai daerah dengan latar belakang bahasa, budaya, dan tradisi yang beragam.
“Kafilah dari berbagai penjuru Nusantara datang dengan bahasa, budaya, dan tradisi beragam. Mereka bertemu bukan hanya untuk berkompetisi, tetapi juga untuk membangun persahabatan dan memperkuat persaudaraan,” ujar Nasaruddin.
MTQ Nasional XXXI diikuti kafilah dari 37 provinsi. Para peserta mengikuti delapan cabang lomba yang terbagi dalam 24 golongan dan 48 kategori, mulai dari kelompok anak-anak hingga dewasa.
Materi perlombaan meliputi tilawah, tafsir Al-Qur’an dalam tiga bahasa, serta hafalan mulai dari satu juz hingga 30 juz. Seluruh perlombaan dilaksanakan secara serentak di 12 venue yang tersebar di Kota Semarang, dengan satu lokasi tambahan untuk registrasi kafilah.
Menag Tekankan Penerapan Nilai Al-Qur’an
Nasaruddin menekankan, kedekatan dengan Al-Qur’an harus tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai tersebut, menurut dia, dapat diwujudkan melalui akhlak, integritas, tanggung jawab, dan kontribusi positif kepada masyarakat.
Dalam keluarga, nilai Qurani dapat diterapkan melalui kasih sayang, tanggung jawab, musyawarah, dan sikap saling menghormati. Di lingkungan kerja, nilai itu diwujudkan melalui amanah, kedisiplinan, profesionalisme, serta pelayanan yang adil.
Menag juga mengingatkan pentingnya menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai landasan dalam menggunakan kewenangan dan menjalankan tanggung jawab publik. Ia meminta masyarakat menjauhi korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan tindakan yang dapat merusak kepercayaan.
Di tengah masyarakat, nilai Al-Qur’an dapat diterapkan dengan saling mengenal, membantu dalam kebaikan, dan memeriksa informasi sebelum menyebarkannya. Sikap itu dinilai penting untuk mencegah fitnah, hoaks, ujaran kebencian, serta tindakan yang merusak kehormatan dan persaudaraan.
“Semuanya perlu kita jadikan bagian dari upaya menghadirkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” katanya.
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, Menag menekankan pentingnya keadilan, persatuan, perlindungan terhadap kelompok yang lemah, penghormatan terhadap kemajemukan, serta pengutamaan kepentingan bersama.
“Semakin dekat seseorang kepada Al-Qur’an, semestinya semakin mulia akhlaknya, semakin santun tutur katanya, semakin menghormati perbedaan, dan semakin besar kontribusinya bagi kerukunan dan persatuan Indonesia,” ujar Nasaruddin Umar.
MTQ Nasional Buka Partisipasi bagi Penyandang Disabilitas
Penyelenggaraan MTQ Nasional XXXI juga menghadirkan ruang partisipasi bagi penyandang disabilitas sensorik tuli melalui ekshibisi Al-Qur’an dan pemanfaatan mushaf Al-Qur’an isyarat.
Menurut Menag, kehadiran ekshibisi tersebut menegaskan bahwa Al-Qur’an merupakan petunjuk bagi seluruh manusia tanpa membedakan kondisi fisik, sosial ekonomi, maupun geografis.
“Ini menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk bagi semua, tidak boleh ada seseorang pun yang kehilangan kesempatan mempelajari Al-Qur’an karena kondisi fisik, sosial ekonomi, ataupun geografis,” paparnya.
MTQ Nasional XXXI didukung tujuh Dewan Pengawas dan 155 Dewan Hakim. Nasaruddin meminta seluruh dewan hakim menjalankan tugas secara objektif, profesional, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Ia juga mengingatkan peserta agar mengikuti seluruh rangkaian musabaqah dengan sungguh-sungguh, jujur, dan menjunjung tinggi sportivitas.
Pembukaan MTQ Nasional XXXI di Lapangan Pancasila ditandai dengan pemukulan bedug oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno. Hadir dalam acara tersebut Menteri Agama Nasaruddin Umar, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifatul Choiri Fauzi, Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i, para gubernur dan wakil gubernur, serta Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama dari berbagai daerah.
Menag berharap MTQ Nasional tidak berhenti pada pencapaian prestasi peserta, tetapi juga memperkuat kecintaan terhadap Al-Qur’an, persaudaraan, dan persatuan bangsa.
“Mari kita jadikan MTQ ini sebagai momentum untuk berhijrah. Semoga Allah SWT meridai seluruh ikhtiar kita dan menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya yang menuntun bangsa Indonesia menuju kehidupan yang rukun, maju, adil sejahtera, dan berkeadaban,” ajak Nasaruddin Umar.






