SLEMAN — Komunitas Kain dan Kebaya Indonesia (KKI) DPC Sleman menggelar Lomba Fashion Show Kebaya di Balai Budaya Loh Jinawi, Kalurahan Sinduharjo, Ngaglik, Sleman, Rabu (9/9/2026). Kegiatan tersebut digelar untuk memperingati 14 tahun Undang-Undang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Perlombaan ini menghadirkan kreasi kebaya dan kain tradisional dalam dua kategori, yakni Kebaya Gagrak Ngayogyakarta untuk peserta dewasa dan Fashion Show Kebaya Funky untuk remaja.
Ajang Lomba Fashion Show Kebaya Gagrak Ngayogyakarta itu tidak hanya menampilkan busana tradisional, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkenalkan nilai filosofis busana adat Yogyakarta. Penilaian peserta dilakukan dengan mempertimbangkan estetika, keserasian busana, cara pembawaan, serta pemahaman terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam pakem kebaya adat Yogyakarta.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Lomba Fashion Show Kebaya Hadirkan Dua Kategori
Perlombaan yang berlangsung meriah tersebut menampilkan beragam kreasi kebaya dan kain tradisional. Kategori dewasa berfokus pada Kebaya Gagrak Ngayogyakarta, sedangkan kategori remaja mengusung konsep Fashion Show Kebaya Funky.
Pembagian kategori itu memberi ruang bagi peserta untuk menampilkan kebaya sesuai karakter masing-masing. Peserta dewasa mengikuti lomba dengan menonjolkan pakem Kebaya Gagrak Ngayogyakarta, sementara peserta remaja mendapat kesempatan berkreasi melalui konsep kebaya yang lebih funky.
Meski demikian, aspek kreativitas tetap disandingkan dengan pemahaman terhadap busana adat Yogyakarta. Penilaian tidak hanya berorientasi pada tampilan busana, tetapi juga cara peserta membawakan diri serta pemahaman terhadap nilai filosofis yang melekat pada kebaya.
KKI Sleman Tekankan Pelestarian Warisan Budaya
Ketua Panitia Penyelenggara, Sutanti, mengatakan kegiatan tersebut tidak diselenggarakan sekadar sebagai perayaan seremonial. Menurut dia, lomba itu merupakan langkah nyata untuk merawat dan melestarikan warisan budaya lokal melalui kebaya.
“Kebaya bukan sekadar busana, melainkan identitas, tradisi, dan warisan budaya yang harus terus dijaga serta diwariskan kepada generasi penerus,” ujar Sutanti di sela-sela acara.
Pernyataan tersebut menegaskan posisi kebaya sebagai bagian dari identitas dan tradisi. Karena itu, penyelenggaraan lomba diarahkan tidak hanya untuk memperlihatkan keindahan busana, tetapi juga menjaga kesinambungan pemahaman terhadap kebaya sebagai warisan budaya.
Melalui kegiatan yang mempertemukan unsur perlombaan dan pengenalan budaya, KKI DPC Sleman mendorong kebaya tetap hadir dalam kehidupan masyarakat. Kreasi busana tradisional juga diberi ruang untuk berkembang tanpa melepaskan nilai-nilai yang menjadi dasar kebaya adat Yogyakarta.
Kategori Remaja Jadi Sarana Edukasi
Sutanti menambahkan, keterlibatan peserta remaja memiliki tujuan edukatif. Kategori tersebut diharapkan menjadi sarana bagi generasi muda untuk mengenal, mencintai, dan merasa bangga berkreasi dengan kebaya.
Menurut dia, pengenalan kebaya kepada remaja penting agar busana tradisional tersebut tetap dipahami dan dihargai oleh generasi penerus. Kreativitas dalam fashion show diharapkan tidak menghilangkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam kebaya.
Dengan melibatkan kategori dewasa dan remaja, Lomba Fashion Show Kebaya Gagrak Ngayogyakarta memperlihatkan upaya mempertemukan pelestarian pakem busana adat dengan pendekatan yang lebih inovatif. Pendekatan itu diharapkan membuat keberadaan kebaya tetap lestari dan relevan di tengah perkembangan zaman.



















