Headline.co.id, Jakarta ~ Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa musim kemarau di Indonesia semakin meluas, mencakup 423 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 60,5 persen dari total wilayah. Meski demikian, BMKG mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi hujan yang masih dapat terjadi di beberapa daerah dalam sepekan ke depan akibat dinamika atmosfer.
Dalam keterangan yang disampaikan pada Sabtu (18/7/2026), BMKG menyatakan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia saat ini mengalami curah hujan berintensitas rendah. Sekitar 72 persen wilayah mengalami curah hujan rendah, sementara 26 persen lainnya masih mengalami curah hujan sedang, dan hanya sebagian kecil yang mengalami hujan lebat hingga sangat lebat.
Wilayah yang telah memasuki musim kemarau meliputi sebagian besar Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sumatra bagian selatan, serta beberapa wilayah di Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Meski demikian, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih tercatat di beberapa daerah. Curah hujan tertinggi tercatat di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, sebesar 75 mm per hari, diikuti oleh Kota Padang, Sumatra Barat (55,5 mm per hari), Kota Singkawang, Kalimantan Barat (44 mm per hari), dan Kota Medan, Sumatra Utara (21 mm per hari).
BMKG menjelaskan bahwa hujan tersebut dipengaruhi oleh aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) dan gelombang Kelvin yang aktif melintasi sebagian Sumatera, Kalimantan, hingga Sulawesi pada periode tersebut. BMKG memprakirakan dalam sepekan ke depan, kondisi cuaca di Indonesia secara umum masih didominasi curah hujan rendah dengan cakupan wilayah yang semakin luas.
Pada dasarian ketiga Juli 2026, curah hujan rendah diperkirakan meliputi sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, serta sebagian Papua. Kondisi ini dipengaruhi oleh dinamika iklim global yang cenderung mengurangi pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia. BMKG juga memperkirakan fenomena El Nino akan terus menguat sepanjang 2026 sehingga berpotensi memperkuat kondisi musim kemarau.
Meski demikian, aktivitas MJO diprediksi masih aktif di wilayah Riau, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara sehingga dapat meningkatkan peluang hujan di wilayah tersebut. Selain itu, gelombang Kelvin dan Rossby Ekuatorial diprakirakan aktif di Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Sulawesi Utara, Maluku Utara, serta perairan Samudra Pasifik utara Papua. Kondisi ini didukung oleh terbentuknya belokan angin (shearline), daerah konvergensi, serta suhu muka laut yang relatif hangat sehingga masih mendukung pembentukan awan hujan di sejumlah wilayah.
Sementara itu, cuaca di Indonesia umumnya diprakirakan cerah berawan hingga hujan ringan. Namun, masyarakat diminta mewaspadai potensi hujan dengan intensitas sedang di wilayah Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Sumatra Selatan, Bengkulu, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Papua Pegunungan, dan Papua.
Potensi angin kencang diprakirakan terjadi di Gorontalo, Lampung, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Maluku Utara, Maluku, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, dan Papua Barat, sedangkan potensi angin kencang diperkirakan terjadi di wilayah Banten dan Jawa Barat.
Menghadapi musim kemarau yang semakin meluas, BMKG mengimbau masyarakat untuk menjaga kondisi kesehatan dengan mencukupi kebutuhan cairan tubuh, menghemat penggunaan air, serta menggunakan pelindung saat beraktivitas di luar ruangan, seperti topi, payung, dan tabir surya. Masyarakat juga diharapkan terus memantau informasi cuaca dan peringatan dini melalui kanal resmi BMKG, baik melalui situs web, aplikasi Info BMKG, maupun media sosial resmi BMKG. Langkah antisipatif perlu dilakukan untuk meminimalkan risiko dampak cuaca ekstrem, termasuk memahami prosedur evakuasi apabila diperlukan.
BMKG menegaskan bahwa informasi cuaca akan terus diperbarui secara berkala mengikuti perkembangan kondisi atmosfer terkini agar masyarakat dapat merencanakan aktivitas dengan lebih aman selama musim kemarau.





















