Headline.co.id, Garut ~ Desa Wisata Sindangkasih di Kecamatan Cilawu, Kabupaten Garut, Jawa Barat, terus melakukan pembenahan guna meningkatkan kenyamanan pengunjung sekaligus memperkuat daya saing sebagai destinasi Wisata Garut berbasis alam. Desa Wisata Sindangkasih yang dikenal dengan atraksi river tubing tersebut dikembangkan melalui swadaya masyarakat dan kini mendorong dukungan pemerintah untuk mempercepat digitalisasi layanan wisata. Upaya tersebut dilakukan agar destinasi Wisata Jawa Barat ini mampu menjangkau lebih banyak wisatawan sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.
Desa Wisata Sindangkasih merupakan salah satu desa wisata unggulan di Kabupaten Garut yang menawarkan wisata tirta, homestay, dan wisata budaya. Lokasinya berada di Jalan Garut-Tasikmalaya Km 16, Desa Sukamaju, Kecamatan Cilawu, dengan akses yang mudah dijangkau dari pusat Kota Garut.
Pengelola berharap pengembangan infrastruktur, akses internet, hingga sistem tiket digital dapat memperkuat promosi Desa Wisata Sindangkasih sehingga mampu menarik lebih banyak wisatawan yang ingin menikmati pesona Wisata Garut dan keindahan alam Wisata Jawa Barat.
River Tubing Jadi Daya Tarik Utama
Ciri khas Desa Wisata Sindangkasih adalah aliran sungai berarus deras yang dimanfaatkan sebagai wahana river tubing. Aktivitas tersebut menjadi favorit wisatawan karena menawarkan sensasi menyusuri sungai yang diapit hamparan sawah dan perbukitan.
Selain river tubing, kawasan ini juga menyediakan beragam aktivitas wisata seperti menikmati panorama dari Saung Rangon dan Sasak Panyawangan, berburu foto di Taman Bukit Noah dan Bukit Cinta, mengikuti tradisi ngagogo atau menangkap ikan dengan tangan kosong, hingga menginap di homestay yang dikelola warga.
Desa wisata ini juga dilengkapi berbagai fasilitas penunjang, mulai dari area parkir, musala, toilet umum, gazebo, kantin, taman bermain anak, area swafoto, hingga area kuliner.
Pengelola Dorong Penguatan Infrastruktur Digital
Salah satu pengelola Desa Wisata Sindangkasih, Dedi, mengatakan desa wisata tersebut lahir dari inisiatif masyarakat yang ingin membuka sumber pendapatan baru selain sektor pertanian.
“Dan Alhamdulillah telah diresmikan Pak Bupati tahun 2020, kemudian Alhamdulillah waktu itu dapat dana dari Pak Bupati hibah untuk infrastruktur jalan,” ujar Dedi dalam keterangan tertulis.
Meski promosi secara langsung dinilai telah berjalan, Dedi mengakui pemasaran digital masih menjadi tantangan. Karena itu, pihaknya berharap mendapatkan dukungan Pemerintah Kabupaten Garut, khususnya Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo), untuk membangun website resmi serta meningkatkan kapasitas sumber daya manusia.
“Kebetulan kalau secara face to face memang pemasaran sudah berjalan, cuman untuk melalui internet mungkin karena kekurangan gitu ya, kekurangan pertama operatornya juga harus ada pelatihan, kemudian untuk perangkatnya juga harus minta bantuan dari Diskominfo,” kata Dedi.
Menurutnya, keberadaan website dan promosi digital akan memperluas jangkauan informasi sekaligus meningkatkan kepercayaan calon wisatawan sebelum berkunjung.
Internet hingga Ticketing Digital Masih Dibutuhkan
Selain promosi digital, pengelola juga mengusulkan sejumlah kebutuhan infrastruktur lain untuk menunjang pelayanan wisata.
“Jadi yang paling pertama sekarang itu era globalisasi ya jaringan internet, jadi mohon bantuan sarana internet, kemudian ke ticketing digital, kemudian apalagi itu PJU-PJUnya juga untuk penerangan, kemudian untuk akses-akses jalan ke sini juga harus diperbaiki lagi, kemudian dari segi kulinernya, UMKMnya juga, karena kebetulan di sini masih swadaya, belum tertata belum banyak biaya gitu jadi masih kekurangan,” ungkap Dedi.
Ia berharap dukungan tersebut dapat mempercepat pengembangan kawasan wisata sekaligus mendorong pelaku UMKM lokal agar memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar dari sektor pariwisata.
Tiket Masuk Terjangkau dan Beragam Aktivitas Wisata
Pengunjung dapat menikmati suasana pedesaan dengan harga tiket masuk yang relatif terjangkau, yakni Rp5.000 untuk orang dewasa dan Rp3.000 untuk anak-anak.
Sementara itu, wahana river tubing dikenakan tarif Rp35.000 untuk orang dewasa dan Rp20.000 untuk anak-anak untuk dua kali putaran. Pengunjung juga dapat menikmati berbagai aktivitas lain seperti kuliner khas pedesaan, menangkap ikan, karaoke, hingga menjelajahi desa melalui paket wisata yang tersedia.
Desa Wisata Sindangkasih beroperasi setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WIB.
Pengelola Ingatkan Wisatawan Utamakan Keselamatan
Dedi mengingatkan wisatawan untuk mengikuti seluruh arahan pemandu saat menikmati river tubing demi menjaga keselamatan selama aktivitas berlangsung.
“River tubing minimal lima orang, maksimal sepuluh orang biar petugas bisa mengawasi. Kalau banyak-banyak takutnya tidak terawasi,” ujarnya.
Ia juga mengimbau wisatawan mengenakan pakaian yang nyaman, membawa sandal jepit, tidak memakai perhiasan saat bermain di sungai, serta menjaga kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan.
“Di Sindangkasih alamnya bagus. Tanahnya terasering, pemandangannya suka diambil untuk spot selfie. Setiap sudut bisa,” kata Dedi.
Selain itu, wisatawan yang menginap di homestay disarankan membawa jaket karena suhu udara pada malam hingga pagi hari cukup dingin. Pengelola juga mengarahkan wisatawan datang sejak pagi agar dapat menikmati seluruh aktivitas wisata secara maksimal sebelum cuaca berubah.























