Headline.co.id, Jakarta ~ Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap strategi baru dalam penguatan modifikasi cuaca untuk menghadapi ancaman banjir dan cuaca ekstrem yang semakin meningkat akibat perubahan iklim. Strategi tersebut diwujudkan melalui penguatan kerja sama internasional, peningkatan standar teknis, serta pengembangan riset dan pelatihan bersama negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Langkah ini disampaikan setelah delegasi BMKG melakukan kunjungan studi teknis ke Department of Royal Rainmaking and Agricultural Aviation (DRRAA) Thailand pada 14–17 Juni 2026.
Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, mengatakan kolaborasi internasional menjadi bagian penting dalam meningkatkan efektivitas Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang selama ini dimanfaatkan untuk mitigasi bencana hidrometeorologi di Indonesia.
Sebagai Ketua ASEAN Weather Modification Center (AWMC), Indonesia mendorong penerapan standar teknis yang sejalan dengan praktik global agar pelaksanaan modifikasi cuaca di kawasan Asia Tenggara dapat berjalan aman dan efektif.
“Dalam waktu dekat, delegasi DRRAA Thailand akan berkunjung ke Indonesia untuk melihat dan mendapatkan pengalaman langsung mengenai eksekusi Operasi Modifikasi Cuaca yang kami lakukan,” ujar Seto.
Penguatan Teknologi dan Standar Operasi
Dalam pertemuan dengan DRRAA Thailand, BMKG memaparkan pengalaman Indonesia dalam memanfaatkan teknologi modifikasi cuaca untuk mengurangi curah hujan sebagai bagian dari mitigasi banjir dan antisipasi cuaca ekstrem.
Sebaliknya, pihak Thailand memperkenalkan pemanfaatan instrumen observasi atmosfer modern yang digunakan untuk mendukung analisis cuaca tingkat lanjut. Selain itu, DRRAA juga menjelaskan standar penggunaan bahan semai awan yang diterapkan dalam berbagai operasi modifikasi cuaca di negara tersebut.
Pertukaran pengalaman tersebut diharapkan dapat memperkuat kapasitas ilmiah dan teknis Indonesia dalam menjalankan operasi modifikasi cuaca yang semakin kompleks di tengah perubahan pola cuaca global.
BMKG dan DRRAA saat ini juga tengah menyusun rencana pelaksanaan pelatihan serta lokakarya internasional di bidang modifikasi cuaca yang akan digelar di Indonesia. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya peningkatan kompetensi sumber daya manusia dan penguatan jejaring kerja sama antarnegara anggota AWMC.
Riset Kolaboratif untuk Hadapi Cuaca Ekstrem
Selain pengembangan kapasitas teknis, kedua lembaga juga membuka peluang riset kolaboratif yang melibatkan negara-negara anggota AWMC. Penelitian bersama tersebut diharapkan mampu memperluas pemahaman ilmiah mengenai pengelolaan atmosfer sekaligus memperkaya referensi praktik terbaik dalam pelaksanaan operasi modifikasi cuaca.
Direktur Tata Kelola Modifikasi Cuaca BMKG, Edison Kurniawan, yang turut hadir dalam kunjungan tersebut menjelaskan bahwa BMKG memiliki peran sebagai pengampu aktivitas modifikasi cuaca di Indonesia.
Menurutnya, kerja sama bilateral dengan Thailand diharapkan dapat menghasilkan berbagai rekomendasi untuk meningkatkan kualitas modifikasi cuaca nasional, baik dari sisi standar maupun prosedur pelaksanaannya.
Modifikasi Cuaca untuk Mitigasi Bencana
Teknologi modifikasi cuaca selama ini menjadi salah satu instrumen yang digunakan pemerintah dalam mendukung mitigasi berbagai bencana hidrometeorologi, termasuk banjir, cuaca ekstrem, kekeringan, dan kebakaran hutan serta lahan.
Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, Prof Yonny Koesmaryono, menjelaskan bahwa modifikasi cuaca bukanlah upaya menciptakan hujan dari kondisi tanpa awan.
“Modifikasi cuaca adalah membuat perubahan dari sesuatu yang sudah ada. Jadi bukan membuat hujan atau membuat air, tetapi memodifikasi proses yang terjadi di atmosfer,” ujarnya dalam program IPB Pedia yang tayang di kanal YouTube IPB TV.
Menurut Prof Yonny, teknologi tersebut bekerja dengan mengintervensi proses fisika pada awan yang memiliki potensi berkembang menjadi hujan. Intervensi dilakukan menggunakan bahan higroskopis atau aerosol yang berfungsi sebagai inti kondensasi untuk membantu mempercepat pertumbuhan awan.
“Yang kita lakukan adalah mengintervensi proses fisika di awan agar pertumbuhannya bisa terkendali. Jadi bukan membuat hujan dari nol,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan operasi modifikasi cuaca sangat dipengaruhi oleh kondisi atmosfer. Karena itu, berbagai pengukuran dilakukan terlebih dahulu sebelum operasi dilaksanakan untuk memastikan efektivitas intervensi.
Melalui penguatan kerja sama internasional, peningkatan standar operasional, serta pengembangan riset dan pelatihan, BMKG menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan penguasaan teknologi modifikasi cuaca guna menghadapi tantangan cuaca ekstrem dan memperkuat upaya mitigasi bencana di Indonesia.



















