Headline.co.id, Jakarta ~ Dalam upaya memperkuat tata kelola laut berkelanjutan, Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, mengumumkan empat komitmen baru Indonesia pada konferensi Our Ocean Conference (OOC) ke-11 di Mombasa, Kenya. Komitmen ini diharapkan dapat mendatangkan dukungan pendanaan internasional hingga USD260 juta untuk konservasi terumbu karang, restorasi ekosistem laut, dan pengembangan Ocean Centres.
Empat komitmen tersebut mencakup integrasi perencanaan tata ruang darat dan laut ke dalam tata ruang nasional dan provinsi, penyusunan regulasi zonasi lintas wilayah, serta memasukkan kawasan strategis nasional karbon biru ke dalam perencanaan tata ruang nasional. “Langkah ini menegaskan keseriusan Indonesia dalam pengelolaan ruang laut dan pengembangan solusi berbasis alam seperti karbon biru untuk mitigasi perubahan iklim,” ujar Menteri Trenggono.
Target Konservasi Laut
Indonesia menargetkan penetapan 700.000 hektare kawasan konservasi laut baru pada tahun 2026. Langkah ini merupakan bagian dari upaya mencapai target perluasan kawasan konservasi laut hingga 30 persen dari total luas perairan nasional pada tahun 2045. “Ini menunjukkan keseriusan Indonesia dalam menjaga keanekaragaman hayati dan ekosistem laut,” tambah Trenggono.
Evaluasi Efektivitas Konservasi
Komitmen ketiga Indonesia adalah melakukan evaluasi efektivitas pengelolaan 19,10 juta hektare kawasan konservasi laut yang telah ditetapkan. Evaluasi ini bertujuan memastikan manfaat dari kegiatan konservasi dapat dirasakan secara optimal oleh lingkungan dan masyarakat pesisir.
Pengembangan Proyek Karbon Biru
Indonesia juga berkomitmen mengembangkan satu model proyek karbon biru yang dapat dijadikan percontohan untuk direplikasi di berbagai wilayah. “Kami percaya bahwa tantangan laut bersifat lintas batas, sehingga membutuhkan kolaborasi global yang kuat,” kata Trenggono.
Sejak 2016, Indonesia telah berpartisipasi aktif dalam OOC dan menyampaikan 73 komitmen untuk menjaga kesehatan laut. “Melalui komitmen-komitmen yang konkret dan terukur, Indonesia menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi berbasis kelautan dapat berjalan seiring dengan perlindungan ekosistem dan kesejahteraan masyarakat pesisir,” pungkas Trenggono.






















