Headline.co.id, Insole Atau Alas Dalam Sepatu Sering Kali Dianggap Sebagai Bagian Pelengkap Yang Kurang Diperhatikan ~ padahal memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan kaki dan memengaruhi kondisi lutut, pinggul, hingga punggung bawah. Sayangnya, sepatu lokal dengan insole berstandar kesehatan dan kenyamanan masih terbatas, dan jika ada, harganya cenderung tinggi karena bergantung pada material dan teknologi impor.
Menanggapi tantangan ini, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM) bekerja sama dengan Balai Pemberdayaan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) untuk mendistribusikan insole sepatu lokal yang mendukung kesehatan. Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman di Ruang Jepara, lantai 2 SGLC FT UGM, pada Selasa (10/6). Penandatanganan dilakukan oleh Dekan FT UGM, Prof. Ir. Selo, S.T., M.T., M.Sc, Ph.D., IPU, ASEAN Eng., dan Kepala BPIPI, Syukur Idayati. Acara ini juga dihadiri oleh pimpinan FT UGM, peneliti, perwakilan BPIPI, serta mahasiswa doktoral yang terlibat dalam riset pengembangan insole.
Sebelum kerja sama ini, tim peneliti FT UGM telah mengembangkan insole kesehatan berbasis teknologi 3D printing menggunakan material Thermoplastic Polyurethane. Produk ini berbeda dari insole konvensional karena dapat menyesuaikan bentuk kaki pengguna, memberikan dukungan optimal untuk kenyamanan dan kesehatan. “Kita membuat ekosistem dan teknologinya sendiri. Nanti 3D printer-nya akan kita buat sendiri, podoskopnya buat sendiri,” kata Prof. Herianto, Manajer Layanan Penelitian dan Hilirisasi FT UGM, dalam keterangan yang dikirim Kamis (18/6).
Pengembangan teknologi ini tidak hanya berfokus pada produk akhir, tetapi juga pada pembangunan sistem pendukung yang terintegrasi. Tim peneliti menargetkan terbentuknya database bentuk kaki masyarakat Indonesia untuk menghasilkan insole dan sepatu yang sesuai dengan kebutuhan pengguna. “Insyaallah kita akan punya database sehingga orang membeli sepatu itu bentuknya sesuai dan bisa membantu menanggulangi masalah kesehatannya,” tambahnya.
Untuk memastikan keamanan dan efektivitas produk, tim peneliti juga mengkaji berbagai standar teknis dan hasil penelitian terkait desain serta performa insole kesehatan. Langkah ini dilakukan agar produk yang dihasilkan tidak hanya nyaman digunakan, tetapi juga memenuhi aspek ilmiah dan ergonomi yang diperlukan.
Herianto menjelaskan bahwa tujuan utama pengembangan ini adalah menghadirkan sepatu kesehatan buatan lokal dengan harga lebih terjangkau. Selama ini, sepatu kesehatan umumnya mahal karena penggunaan material khusus yang harus diimpor. “Kita mengejar supaya ada sepatu lokal yang bisa kita brand dengan insole kami yang kemudian dipasarkan untuk orang-orang tertentu, khususnya yang memiliki masalah kesehatan,” ungkapnya.
Sebagai tahap awal implementasi, FT UGM berencana memberikan dukungan sepatu dan insole kepada sekitar 50 pegawai yang memiliki aktivitas berjalan cukup tinggi. Selain itu, tim juga akan melakukan uji coba terhadap 300 pasang sepatu yang akan dievaluasi selama tiga hingga empat bulan sebelum dipasarkan. “Rencananya, sebelum dipasarkan sepatu tersebut akan dites oleh saya sendiri serta beberapa pegawai kami,” kata Herianto.
Teknologi yang dikembangkan memungkinkan proses pembuatan insole dilakukan dalam waktu singkat. Dengan pemindaian bentuk kaki menggunakan perangkat khusus, pengguna dapat memperoleh insole yang dipersonalisasi hanya dalam hitungan jam. Konsep ini bahkan membuka peluang pengembangan wisata berbasis teknologi kesehatan. “Pagi datang, scan kaki, jalan-jalan, sore selesai bisa diambil,” ujarnya.
Kepala BPIPI, Syukur Idayati, menyambut baik kolaborasi ini. Menurutnya, salah satu tantangan terbesar dalam pengembangan industri alas kaki nasional adalah minimnya standar ergonomi yang spesifik untuk masyarakat Indonesia.
Perkembangan industri sepatu lokal yang semakin pesat turut menjadi alasan optimisme dalam pengembangan teknologi ini. Saat ini, berbagai merek sepatu lokal terus bermunculan dengan desain menarik dan harga kompetitif. Kehadiran teknologi insole kesehatan buatan dalam negeri diharapkan dapat menjadi nilai tambah sekaligus memperkuat daya saing produk lokal. “Sekarang sepatu lokal sedang tumbuh banyak sekali, dengan harga bersaing dan model yang bagus-bagus. Makanya kita pun optimis,” tutur Herianto.
Melalui semangat “Indonesia Melangkah”, kolaborasi FT UGM dan BPIPI diharapkan mampu menghadirkan teknologi insole kesehatan yang andal, terjangkau, dan sepenuhnya dikembangkan di Indonesia. Inovasi ini diharapkan dapat membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat untuk memperoleh sepatu kesehatan berkualitas tanpa harus bergantung pada produk impor.





















