Headline.co.id, Jakarta ~ Di tengah derasnya arus informasi dan ketatnya persaingan konten digital, promosi produk kerajinan tidak lagi cukup hanya dengan foto atau katalog. Perbedaan utama sebuah karya dengan produk lain terletak pada cerita di baliknya. Hal ini disampaikan dalam Sosialisasi Standardisasi Pembuatan Konten Dekranas di Rumah Kriya Asri, Jakarta, Kamis (11/6/2026). Para praktisi komunikasi menekankan pentingnya strategi storytelling untuk memperkuat promosi produk kriya dan wastra Indonesia serta membangun kedekatan emosional dengan masyarakat.
Vice President Marketing INFIA Corp., Vito Wira, menyatakan bahwa tantangan komunikasi saat ini bukan hanya mendapatkan pengikut di media sosial, tetapi juga menciptakan konten yang dapat diingat, dibagikan, dan membangun loyalitas audiens. “Followers bisa dicari, tetapi tantangan sesungguhnya adalah membuat audiens nyaman, terhubung secara emosional, lalu secara sukarela membagikan konten kita kepada orang lain,” ujarnya.
Menurut Vito, media sosial telah mengubah pola promosi dari komunikasi satu arah menjadi ekosistem yang terus berputar. Produk melahirkan konten, konten memunculkan interaksi, interaksi menciptakan komunitas, dan komunitas mendorong lahirnya produk serta kolaborasi baru. Oleh karena itu, organisasi maupun pelaku usaha perlu memikirkan bagaimana sebuah karya dapat terus hidup dalam berbagai bentuk pengalaman, baik di ruang digital maupun dunia nyata.
Ia mencontohkan berbagai karakter kreatif lokal yang awalnya berkembang melalui media sosial, kemudian diperluas menjadi produk komersial, ruang interaksi publik, hingga kolaborasi lintas sektor. Pendekatan ini membuktikan bahwa kekuatan sebuah merek tidak hanya berasal dari produknya, tetapi dari cerita yang mampu membangun hubungan emosional dengan audiens. “Produk bisa ditiru, tetapi kedekatan emosional dan cerita yang dibangun bersama audiens jauh lebih sulit digantikan,” katanya.
Vito juga menyoroti pentingnya kolaborasi sebagai strategi memperluas jangkauan promosi. Menurutnya, kemitraan dengan berbagai sektor dapat membuka akses terhadap audiens baru sekaligus meningkatkan nilai tambah sebuah produk. “Jangan fokus pada kompetisi. Kolaborasi justru membuka peluang pertumbuhan bersama. Ketika dua pihak memiliki audiens yang berbeda, kolaborasi akan menciptakan manfaat bagi kedua belah pihak,” ujarnya.
Sementara itu, Brand and Activation Manager Good News From Indonesia (GNFI), Vicky Febrian, menilai tantangan utama promosi produk kriya saat ini adalah dominannya konten yang hanya menampilkan produk, harga, atau dokumentasi kegiatan tanpa narasi yang kuat. Padahal, menurutnya, setiap karya kerajinan memiliki cerita yang dapat diangkat menjadi konten menarik. “Yang sering terlupakan adalah kisah pembuatnya, proses kreatifnya, nilai budayanya, hingga dampaknya bagi masyarakat sekitar. Di situlah letak kekuatan storytelling,” kata Vicky.
Ia menjelaskan bahwa konten yang memiliki unsur human story, inspirasi, relevansi, dan dampak sosial cenderung lebih mudah diterima serta diingat oleh audiens dibandingkan konten yang hanya menampilkan produk semata. Dalam perspektif komunikasi publik, pendekatan ini juga dapat memperkuat identitas daerah dan meningkatkan nilai sebuah produk kerajinan.
Sebagai contoh, sebuah kain tradisional atau wastra tidak hanya dapat dipromosikan dari motif dan fungsinya, tetapi juga melalui cerita mengenai perajin, sejarah pembuatannya, nilai budaya yang terkandung, hingga kontribusinya terhadap perekonomian masyarakat setempat. “Storytelling membantu membangun kedekatan emosional. Ketika masyarakat mengetahui siapa pembuatnya dan apa makna di balik sebuah karya, nilai produk akan meningkat di mata publik,” ujarnya.
Vicky menambahkan bahwa konten yang kuat bukan hanya menghasilkan perhatian, tetapi juga mampu membangun optimisme dan kebanggaan terhadap karya anak bangsa. Karena itu, setiap publikasi sebaiknya tidak berhenti pada dokumentasi kegiatan, melainkan mampu menunjukkan dampak nyata yang dihasilkan.
Melalui standardisasi konten yang tengah disusun Dekranas, pendekatan storytelling diharapkan menjadi bagian penting dalam strategi komunikasi organisasi. Langkah ini sekaligus membuka peluang lebih besar bagi para perajin untuk memperkenalkan karya mereka kepada pasar yang lebih luas. Di era digital saat ini, promosi tidak lagi sekadar soal menampilkan produk terbaik. Yang semakin menentukan adalah kemampuan menghadirkan cerita yang autentik, menyentuh emosi, dan mampu membuat masyarakat merasa dekat dengan karya yang dihasilkan.
Dengan pendekatan ini, produk kerajinan Indonesia tidak hanya dikenal karena kualitasnya, tetapi juga karena kisah, budaya, dan nilai yang hidup di balik setiap karya.





















