Headline.co.id, Gorontalo ~ Made Kuat, yang lebih dikenal sebagai Made Saritani di kalangan kesehatan, telah menjadi tokoh penting dalam pengembangan layanan kesehatan nasional dari puskesmas terpencil. Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Provinsi Gorontalo, Anang Otoluwa, juga mengenalnya dengan nama tersebut. “Made Saritani adalah sosok yang luar biasa,” ujar Anang Otoluwa, Jumat (22/5/2026).
Anang menyaksikan sendiri bagaimana Made Saritani, Kepala Puskesmas di daerah terpencil, berhasil mengangkat nama puskesmasnya ke tingkat nasional. Salah satu momen penting adalah saat peluncuran buku Pedoman Kerja Puskesmas Integrasi Layanan Primer (ILP) oleh Kementerian Kesehatan pada tahun 2024. Puskesmas Saritani meraih penghargaan sebagai Terbaik 1 dalam kategori puskesmas sangat terpencil untuk layanan ILP. Anang mendampingi Made saat menerima penghargaan dari Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.
Anang merasa bangga karena puskesmas yang akses jalannya masih berlumpur saat hujan bisa meraih prestasi nasional. Selain itu, Puskesmas Saritani juga dipilih sebagai lokasi pembelajaran lapangan dalam kegiatan pelatihan kepemimpinan (PIM 2) tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Bapelkes Cilandak dan Kemenkes. Anang sempat bertanya kepada panitia, “Mengapa memilih Puskesmas Saritani?” Ia melihat daftar pembicara yang diisi oleh banyak tokoh hebat, bahkan Gubernur setempat dijadwalkan membuka acara.
Anang berpendapat bahwa keterbatasan justru memacu semangat Made. Made pernah bercerita bahwa hidupnya penuh perjuangan sejak kecil. Setelah lulus SMP, Made melamar menjadi sopir untuk membantu ekonomi keluarga, tetapi ditolak karena usianya belum 17 tahun. Namun, penolakan itu membawanya ke dunia kesehatan. Dr. Ilahude, Kepala Dinas Kesehatan saat itu, menyekolahkan Made di SPK dan Made tinggal bersamanya. Ketika dr. Ilahude pindah ke Surabaya, Made beruntung karena Ida Oli’i menampungnya hingga menyelesaikan SPK.
Merasa hidupnya banyak terbantu, Made berusaha mengabdikan diri dengan sepenuh hati. “Pendeknya apa saja yang disuruh, saya kerjakan dengan baik,” kata Made kepada Anang. Anang belajar dari Made bahwa pengabdian tidak harus dimulai dari tempat yang sempurna dan prestasi tidak harus menunggu fasilitas lengkap. Kadang yang dibutuhkan hanya kemauan untuk bekerja maksimal dalam keadaan apa pun. “Pengabdian tidak harus menunggu fasilitas lengkap,” tutur Anang.




















