Headline.co.id, Jakarta ~ Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan RI, Andi Saguni, menegaskan bahwa pemerintah terus meningkatkan kewaspadaan terhadap Hantavirus di Indonesia. Hingga saat ini, belum ditemukan kasus Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) di Indonesia, namun terdapat kasus Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dengan strain Seoul Virus yang terkonfirmasi.
Andi Saguni menyatakan, “Perlu kami sampaikan bahwa sampai saat ini belum ditemukan kasus HPS di Indonesia. Kasus yang terdeteksi merupakan tipe HFRS dan terus kami pantau melalui sistem surveilans nasional,” dalam keterangan Kemenkes yang dikutip Selasa (12/5/2026).
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa dari 2024 hingga Mei 2026, terdapat 256 kasus suspek dengan 23 kasus terkonfirmasi HFRS. Kasus-kasus ini tersebar di berbagai wilayah, termasuk DKI Jakarta, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Sulawesi Utara, Sumatra Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Tren peningkatan kasus terkonfirmasi terlihat dari satu kasus pada 2024, menjadi 17 kasus pada 2025, dan bertambah lima kasus hingga Mei 2026. Peningkatan ini, menurut Andi, dipengaruhi oleh penguatan kapasitas deteksi dini dan pemeriksaan laboratorium di Indonesia.
“Peningkatan kasus yang terlaporkan menunjukkan sistem kewaspadaan dan deteksi dini kita semakin baik. Karena itu masyarakat tidak perlu panik, namun tetap harus waspada terhadap faktor risiko penularan,” katanya.
Hantavirus diketahui menular melalui kontak dengan tikus atau celurut yang terinfeksi, termasuk paparan urin, air liur, atau kotorannya. Risiko penularan meningkat di lingkungan dengan populasi tikus tinggi, gudang tertutup, area banjir, serta kegiatan luar ruang seperti berkemah dan mendaki.
Selain memantau kasus di dalam negeri, Kemenkes juga merespons notifikasi internasional terkait satu kontak erat kasus HPS dari kapal pesiar MV Hondius yang berada di Indonesia. Kontak erat tersebut telah menjalani pemeriksaan di RSPI Sulianti Saroso dan hasil laboratorium menunjukkan negatif Hantavirus tipe HPS maupun HFRS. “Begitu notifikasi diterima, kami langsung melakukan penyelidikan epidemiologi, koordinasi lintas sektor, pemeriksaan laboratorium, hingga pemantauan terhadap kontak erat tersebut,” jelas Andi.
Sebagai langkah antisipasi, Kemenkes memperkuat pengawasan di pintu masuk negara melalui thermal scanner, pengamatan visual, dan sistem surveilans pelaku perjalanan. Pemerintah juga menyiapkan jejaring laboratorium dengan kemampuan pemeriksaan PCR dan Whole Genome Sequencing (WGS), serta memperkuat kesiapan 198 rumah sakit jejaring pengampuan penyakit infeksi emerging di seluruh Indonesia.
“Kami terus memperkuat kesiapsiagaan nasional mulai dari surveilans, laboratorium, hingga layanan kesehatan agar setiap potensi kasus dapat ditangani secara cepat dan tepat,” ujarnya.
Kemenkes mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan, menghindari kontak langsung dengan tikus dan kotorannya, menyimpan makanan di tempat tertutup, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala seperti demam, nyeri badan, batuk, atau sesak napas. “Masyarakat diharapkan tetap tenang dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), seperti cuci tangan pakai sabun, sebagai langkah utama pencegahan penyakit virus Hanta,” tutup Andi Saguni.




















