Headline.co.id, Jogja ~ Indonesia dikenal memiliki sekitar 5.000 spesies anggrek yang tersebar di berbagai wilayah, menjadikannya sebagai negara dengan persebaran anggrek terbesar kedua di dunia. Keberagaman ini menuntut pentingnya pelestarian agar spesies-spesies tersebut tidak mengalami kepunahan. Salah satu anggrek yang menjadi ikon Yogyakarta adalah anggrek vanda tricolor, yang memiliki kelopak bunga berwarna putih dengan totol coklat kemerahan serta bibir bunga berwarna putih. Anggrek ini dikenal mengeluarkan aroma wangi di pagi hari dan ditemukan di lereng Gunung Merapi.
Prof. Dr. Endang Semiarti, M.S., M.Sc., Guru Besar Fakultas Biologi UGM, menyatakan bahwa anggrek vanda tricolor memiliki ketahanan yang baik terhadap panas. Hal ini terbukti saat erupsi Gunung Merapi tahun 2010, di mana anggrek ini tetap bertahan di habitatnya. Hingga kini, setidaknya 59 jenis anggrek merapi telah dilestarikan di Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM). Namun, jumlah ini dapat berkurang akibat faktor alam dan manusia, seperti bencana alam, perubahan iklim, dan pembangunan infrastruktur.
Endang menekankan pentingnya pendekatan berbasis masyarakat dalam konservasi anggrek. Masyarakat sekitar lereng gunung diajak untuk melestarikan anggrek dengan membudidayakannya di halaman rumah agar menyerupai habitat aslinya. “Saya bersama para pecinta anggrek mengedukasi warga sekitar hutan untuk melakukan konservasi mandiri dengan pengilangan dan penaburan biji yang lebih sederhana agar mudah diikuti semua orang,” ujarnya.
Selain metode sederhana, konservasi juga dapat dilakukan oleh peneliti dan akademisi melalui inovasi. Endang dan mahasiswanya telah melakukan inovasi Kultur In Vitro dari berbagai jenis anggrek yang diperoleh dari berbagai daerah di Indonesia. Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah memproyeksikan anggrek vanda tricolor sebagai ikon daerah dengan menginstruksikan penanaman anggrek di seluruh instansi perkantoran di wilayah Yogyakarta.
Komunitas Pecinta Anggrek Indonesia (PAI) juga berperan penting dalam konservasi anggrek di Indonesia. Mereka membudidayakan temuan anggrek baru dengan penyesuaian habitat aslinya dan mengadakan kompetisi serta seminar sebagai inisiasi edukatif dan konservatif. Endang berharap agar anggrek di Indonesia dapat terus lestari dan lebih dikenal oleh masyarakat luas. Ia banyak berkolaborasi dengan rekan dari bidang lain untuk menulis buku dari penelitian yang telah dilakukan, guna meneruskan perjuangan pelestarian anggrek. “Anggrek adalah identitas bangsa, maka tugas kita bersama adalah memastikan kelestariannya,” harapnya.




















