Headline.co.id, Jakarta ~ Penelitian internasional berbasis bukti menunjukkan bahwa imunisasi dasar lengkap berperan penting dalam mengurangi risiko stunting pada anak. Imunisasi tidak hanya melindungi dari penyakit menular, tetapi juga menjadi intervensi penting untuk memastikan tumbuh kembang anak yang optimal. Hal ini disampaikan oleh Dokter Ahli Gizi Masyarakat, Tan Shot Yen, dalam webinar bertajuk “Pahami Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi (KIPI), Lengkapi Imunisasi” yang diadakan oleh Kementerian Kesehatan, sebagaimana dilaporkan pada Jumat (24/4/2026).
Tan Shot Yen menjelaskan bahwa stunting tidak hanya disebabkan oleh kekurangan makanan, tetapi juga merupakan hasil dari interaksi kompleks gizi buruk, daya tahan tubuh yang lemah, dan infeksi berulang. “Ini menjadi lingkaran setan. Anak dengan gizi kurang akan memiliki imunitas rendah, sehingga mudah terinfeksi penyakit. Saat sakit, nafsu makan menurun, penyerapan gizi terganggu, sementara kebutuhan energi meningkat. Akibatnya, anak kembali mengalami kekurangan gizi,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa jika kondisi ini tidak segera ditangani, akan terus berulang dan menyebabkan gangguan pertumbuhan jangka panjang. Dalam konteks ini, imunisasi menjadi salah satu intervensi kunci untuk memutus rantai tersebut. Tan Shot Yen juga mengungkapkan bahwa penelitian di Kenya menunjukkan anak yang mendapatkan imunisasi seperti BCG, polio, DPT, dan campak memiliki risiko stunting 27 persen lebih rendah pada usia di bawah dua tahun dibandingkan anak yang tidak diimunisasi.
Studi di Afghanistan juga menunjukkan bahwa imunisasi dapat memberikan perlindungan terhadap stunting hingga 41–46 persen, terutama di wilayah dengan risiko penyakit infeksi yang tinggi. “Artinya, imunisasi tidak hanya mencegah penyakit, tetapi juga melindungi proses tumbuh kembang anak secara keseluruhan,” ujarnya.
Di Indonesia, bukti serupa ditemukan. Studi di Bali menunjukkan bahwa imunisasi dasar lengkap secara signifikan menurunkan angka stunting pada anak di bawah lima tahun. Selain itu, analisis di 13 provinsi memperlihatkan hasil yang konsisten dengan tingkat signifikansi tinggi, yang berarti lebih dari 95 persen bukti ilmiah mendukung peran imunisasi dalam mencegah keterlambatan pertumbuhan.
Meskipun demikian, Tan Shot Yen menyoroti masih adanya kesalahpahaman di masyarakat dalam menyikapi masalah pertumbuhan anak. Banyak orang tua yang langsung menyimpulkan bahwa anak yang sulit makan atau berat badannya tidak naik disebabkan oleh kualitas ASI yang rendah atau kekurangan vitamin. “Padahal, akar masalahnya sering kali tidak dievaluasi. Bisa jadi anak mengalami infeksi berulang atau belum mendapatkan imunisasi lengkap,” tegasnya.
Oleh karena itu, menurutnya, pemberian susu tinggi kalori, vitamin, atau suplemen tanpa penanganan penyebab utama tidak akan efektif dalam meningkatkan berat badan anak. Ia mengingatkan bahwa penanganan stunting harus dilakukan secara komprehensif, tidak hanya melalui pemenuhan gizi, tetapi juga dengan memastikan imunisasi lengkap, pencegahan penyakit infeksi, serta pemantauan kesehatan secara rutin. “Imunisasi adalah bagian penting dari investasi kesehatan anak. Dengan perlindungan yang optimal, anak memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh sehat dan mencapai potensi maksimalnya,” pungkasnya.

















