Headline.co.id, Kota Gorontalo ~ Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI), Doddy Izwardy, menegaskan pentingnya penguasaan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) bagi ahli gizi dalam sistem layanan kesehatan nasional. Hal ini disampaikan Doddy dalam Seminar Nasional Kesehatan bertema “Transformasi Layanan Gizi dalam Sinergi Profesi Kesehatan di Era Artificial Intelligence” yang berlangsung di Aula Poltekkes Kemenkes Gorontalo pada Senin, 23 Maret 2026.
Seminar ini diinisiasi oleh Ikatan Alumni Akademi Gizi (AKZI) Manado bekerja sama dengan Unit Pengembangan Kompetensi SDM Kesehatan Provinsi Gorontalo dan Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, dan dilaksanakan secara blended, menggabungkan pertemuan luring dan daring. Doddy menyatakan bahwa digitalisasi memberikan peluang besar dalam meningkatkan kualitas layanan gizi melalui kemudahan akses informasi, interaksi langsung masyarakat dan tenaga ahli, serta pemanfaatan algoritma AI untuk menyusun rekomendasi nutrisi yang personal dan berbasis data.
Doddy juga menyoroti bahwa layanan telemedicine dapat memperluas jangkauan asuhan gizi secara efisien ke berbagai wilayah di Indonesia. “Pada Seminar lalu kami tegaskan bahwa transformasi digital dalam layanan kesehatan menempatkan ahli gizi pada posisi yang semakin strategis. Kita tidak hanya berperan dalam edukasi konvensional, tetapi juga harus mampu memanfaatkan teknologi, termasuk artificial intelligence, untuk memberikan layanan yang lebih personal, cepat, dan berbasis data,” ujar Doddy di Gorontalo, Kamis, 26 Maret 2026.
Lebih lanjut, Doddy menjelaskan bahwa integrasi teknologi dalam praktik gizi harus diimbangi dengan peningkatan kapasitas dan adaptasi sumber daya manusia. Ia menekankan pentingnya kolaborasi pemerintah, organisasi profesi, dan institusi pendidikan untuk memastikan tenaga gizi dapat berperan optimal dalam ekosistem kesehatan digital.
Seminar ini telah terintegrasi dalam platform resmi Kementerian Kesehatan RI, Pelataran Sehat, sebagai bagian dari penguatan kompetensi tenaga kesehatan secara nasional. “Ke depan, ahli gizi harus menjadi bagian integral dari ekosistem kesehatan digital yang terintegrasi, mulai dari edukasi, konsultasi jarak jauh, hingga pemantauan status gizi berbasis teknologi. Ini adalah peluang sekaligus tantangan yang harus kita jawab dengan peningkatan kompetensi dan sinergi lintas sektor,” tambahnya.
Kegiatan yang berlangsung selama satu hari ini diikuti oleh ratusan peserta yang hadir secara langsung maupun daring dari berbagai daerah. Antusiasme yang tinggi dinilai mencerminkan kebutuhan mendesak akan peningkatan kapasitas di bidang gizi, khususnya dalam menghadapi era transformasi layanan kesehatan berbasis teknologi. Seminar ini telah terintegrasi dalam platform resmi Kementerian Kesehatan RI, Pelataran Sehat, sebagai bagian dari penguatan kompetensi tenaga kesehatan secara nasional.




















