Headline.co.id, Jakarta ~ Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyampaikan pandangan Indonesia mengenai dinamika ekonomi global dan pentingnya memperkuat kerja sama regional di Asia. Hal ini disampaikan dalam sesi Asian Leaders Roundtable pada rangkaian acara Tokyo Conference 2026 yang berlangsung dari 10 hingga 12 Maret 2026 di Tokyo, Jepang.
Acara tersebut dipimpin oleh mantan Perdana Menteri Jepang, Fumio Kishida, dengan Co-Chair mantan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono. Sejumlah tokoh ekonomi dan kebijakan kawasan turut hadir, termasuk mantan Deputi Perdana Menteri Singapura Heng Swee Keat, mantan Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani Indrawati, eks Gubernur Reserve Bank of India Duvvuri Subbarao, mantan Gubernur Bank of Thailand Tarisa Watanagase, eks Sekretaris Jenderal ASEAN Ong Keng Yong, dan mantan Menteri Perdagangan Malaysia Tengku Zafrul Tengku Abdul Aziz.
Dalam diskusi tersebut, Menko Airlangga menyoroti perubahan signifikan dalam tatanan global, yang ditandai dengan meningkatnya politik berbasis kekuatan, proteksionisme, serta menurunnya kepercayaan terhadap sistem multilateralisme. “Situasi geopolitik global yang memanas, termasuk eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel dengan Iran, turut memberikan tekanan terhadap stabilitas ekonomi global,” kata Airlangga dalam siaran pers yang diterima pada Kamis (12/3/2026).
Lonjakan harga minyak dunia yang telah melampaui USD100 per barel dan potensi terganggunya jalur energi global melalui Selat Hormuz menunjukkan bahwa stabilitas dan perkembangan ekonomi dunia sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik. Menyikapi kondisi ini, Pemerintah Indonesia terus memperkuat ketahanan energi nasional dengan mengimplementasikan program Biodiesel B40 dan menargetkan percepatan menuju B50.
Selain itu, Pemerintah juga mendorong pengembangan Bioetanol melalui program E10 yang akan dipercepat implementasinya menuju E20. Di sektor energi baru terbarukan, Indonesia tengah menyiapkan pengembangan kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga sekitar 800 Gigawatt sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat transisi energi dan meningkatkan kemandirian energi nasional.
Menko Airlangga menegaskan bahwa Asia memiliki peran penting sebagai kekuatan penyeimbang yang mampu menjaga stabilitas ekonomi global. Kawasan Asia diproyeksikan akan menyumbang sekitar 52 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) global pada 2050, sehingga penguatan kerja sama regional menjadi semakin strategis. Asia perlu tetap berpegang pada prinsip inklusivitas dan multilateralisme berbasis aturan (rules-based multilateralism).
Kerja sama regional melalui berbagai kerangka seperti ASEAN, kemitraan ekonomi regional, serta forum multilateral seperti G20 menjadi instrumen penting untuk memperkuat integrasi ekonomi, meningkatkan konektivitas, serta menjaga stabilitas kawasan di tengah rivalitas kekuatan besar dan kawasan lainnya. Lebih lanjut, Asia juga didorong untuk mencegah fragmentasi ekonomi global menjadi blok-blok yang saling bersaing.
Sebaliknya, kawasan perlu memperkuat keterbukaan perdagangan, konektivitas ekonomi, serta kerja sama strategis yang saling melengkapi guna mendorong pertumbuhan bersama. “Arahan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia sendiri harus ada di tengah panggung ekonomi global karena kinerja ekonomi yang tetap solid di tengah ketidakpastian global. Indonesia juga akan terus melakukan diplomasi non-blok dalam menavigasi ketidakpastian global ini,” tutur Menko Airlangga.
Menko Airlangga juga menyampaikan bahwa perekonomian Indonesia diproyeksikan tumbuh sekitar 5,4 persen pada 2026, dengan inflasi yang tetap terkendali dan defisit fiskal yang terjaga. Selain itu, Indonesia berhasil mempertahankan surplus neraca perdagangan selama 69 bulan berturut-turut hingga awal 2026. Pemerintah Indonesia terus mendorong pendekatan “Indonesia Incorporated”, yaitu sinergi Pemerintah, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat transformasi ekonomi nasional dan meningkatkan daya saing global.
Menutup paparannya, Menko Perekonomian menekankan bahwa Asia memiliki peluang besar untuk menjadi kekuatan stabilisasi dalam perekonomian global apabila kawasan tetap berkomitmen pada keterbukaan, kerja sama regional, serta penguatan sistem ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. “Jika Asia tetap berpegang pada semangat keterbukaan regional dan menolak pendekatan zero-sum dalam rivalitas kekuatan besar, maka abad ke-21 dapat benar-benar menjadi abad Asia,” pungkas Menko Airlangga.























