Headline.co.id, Sleman ~ Sanggar Banyu Bening di Sardonoharjo, Sleman, mengadakan workshop pembuatan selongsong ketupat sebagai upaya melestarikan tradisi lokal dan meningkatkan keterampilan anggota sanggar. Acara yang berlangsung pada Kamis (26/2/2026) ini menghadirkan suasana edukatif dan partisipatif, dengan Ludtina Pangestu sebagai pembimbing utama.
Ludtina Pangestu, yang dikenal aktif dalam pelestarian budaya tradisional, memandu peserta dari teknik dasar hingga tahap akhir pembuatan selongsong ketupat. Ia menekankan bahwa keterampilan ini bukan sekadar aktivitas teknis, melainkan bagian dari warisan budaya yang kaya akan makna filosofis. Dalam tradisi Jawa, ketupat atau kupat dimaknai sebagai simbol spiritual, dengan istilah “kupat” sering diartikan sebagai “ngaku lepat” atau mengakui kesalahan.
Ludtina menjelaskan bahwa anyaman janur pada ketupat melambangkan kompleksitas kehidupan manusia. Pola silang yang terbentuk menggambarkan kesalahan, dosa, dan dinamika hidup yang tidak selalu lurus. Namun, ketika dianyam dengan benar, ketupat menjadi bentuk yang rapi dan indah, melambangkan bahwa kehidupan dapat tertata dengan baik jika dijalani dengan nilai kebaikan.
Bentuk segi empat ketupat juga memiliki makna “kiblat papat lima pancer,” yang merepresentasikan empat arah mata angin dan satu pusat. Ini menggambarkan keseimbangan hubungan manusia dengan sesama, alam, dan Tuhan sebagai pusat kehidupan. Selain itu, selongsong ketupat yang terbuat dari daun kelapa muda atau janur juga memiliki makna tersendiri. Kata “janur” sering dimaknai sebagai “jatining nur” atau cahaya sejati, melambangkan harapan agar manusia kembali pada fitrah dan mendapatkan pencerahan spiritual.
Para peserta workshop tampak antusias mengikuti setiap tahapan kegiatan. Mereka belajar teknik menganyam, memilih bahan janur yang baik, serta cara menjaga kualitas hasil anyaman agar tahan lama dan estetis. “Proses pembuatan ketupat yang tidak instan mengajarkan nilai kesabaran, ketekunan, dan kehati-hatian. Ini menjadi refleksi bahwa hasil yang baik membutuhkan proses yang tidak sederhana,” ujar Ludtina.
Kegiatan ini juga menjadi sarana pemberdayaan komunitas, khususnya dalam meningkatkan keterampilan produktif yang dapat dikembangkan menjadi peluang ekonomi kreatif. Dengan kemampuan membuat selongsong ketupat secara mandiri, para peserta diharapkan mampu memanfaatkan momen hari besar keagamaan untuk menghasilkan produk bernilai jual. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)



















