Headline.co.id, Jayapura ~ Ketua Sinode Gereja Kemah Injil Indonesia di Tanah Papua, Pdt. Petrus Bonyadone, M.Th., mengimbau masyarakat untuk bersyukur atas kesempatan menjalani tahun 2026 dengan damai. Dalam pernyataannya, ia menyoroti insiden kekerasan yang terjadi baru-baru ini di Papua, termasuk penembakan terhadap pilot dan kopilot di Korowai yang menimbulkan duka mendalam. “Sebagai hamba Tuhan, saya melihat dari sisi kemanusiaan. Nyawa itu ada dalam tangan Tuhan. Tidak ada satu pun manusia yang berhak merampas nyawa sesamanya,” tegasnya.
Pdt. Petrus Bonyadone menekankan bahwa para penerbang selama ini melayani daerah terpencil untuk membantu masyarakat, sehingga insiden tersebut sangat disayangkan dan tidak dapat dibenarkan dari sudut pandang iman maupun kemanusiaan. Ia menegaskan bahwa gereja tidak menyetujui tindakan kekerasan dalam bentuk apa pun karena bertentangan dengan nilai-nilai Injil. “Apapun alasannya, menghilangkan nyawa adalah tindakan yang tidak manusiawi dan pasti ada konsekuensinya,” ujarnya.
Selain itu, ia juga menyoroti insiden penembakan lain di beberapa wilayah pegunungan Papua yang berdampak pada masyarakat sipil. Ia mengingatkan bahwa Papua dikenal sebagai “Tanah Injil”, sehingga tindakan kekerasan seharusnya tidak terjadi di tanah yang menjunjung tinggi nilai keimanan. Pdt. Bonyadone menyatakan keprihatinannya terhadap dampak sosial akibat situasi keamanan yang terganggu, termasuk warga jemaat yang terpaksa mengungsi, yang berdampak pada ekonomi keluarga, pendidikan anak-anak, dan pelayanan kesehatan.
Ia berharap semua pihak yang terlibat dapat menahan diri dan mengedepankan pendekatan persuasif demi menjaga keamanan dan kebersamaan. Pdt. Bonyadone juga menyampaikan apresiasi kepada Kepolisian Negara Republik Indonesia serta Satgas Damai Cartenz yang dinilai terus berupaya menjaga stabilitas keamanan dan memberikan perlindungan kepada masyarakat. “Atas nama gereja, kami mengimbau semua pihak untuk menjaga Papua sebagai Tanah Damai. Hentikan segala bentuk kekerasan yang merugikan masyarakat,” katanya.
Ia juga mengajak para pelayan gereja dan seluruh umat untuk mendukung terciptanya kedamaian melalui doa dan pelayanan kemanusiaan. “Harapan kita di tahun 2026 ini, mari kita hentikan semua tindakan kekerasan dan bersama-sama mewujudkan Papua sebagai Tanah Damai, sehingga seluruh masyarakat dapat hidup aman, tenteram, dan sejahtera,” tutup Pdt. Petrus Bonyadone, M.Th.





















