Headline.co.id, Jakarta ~ Di tengah dinamika kehidupan modern yang sarat tekanan, umat Islam kembali meneguhkan pencarian kebahagiaan batin melalui amalan sholawat. Sholawat Sa’adah, yang dipopulerkan oleh Habib Novel bin Muhammad Alaydrus dari Solo, disebut sebagai “kunci” pembuka kebahagiaan dunia dan akhirat. Ajaran ini dirujuk dalam Ebook Sholawat Jalan Selamat karya Habib Novel Alaydrus serta diperkuat oleh kajian ilmiah tentang praktik Majelis Sholawat As-Sa’adah di Sidoarjo. Melalui pendekatan syariat dan hakikat, sholawat ini diyakini menjadi metode penyucian jiwa sekaligus penguat kesalehan sosial.
Dalam konteks edukasi keagamaan, Sholawat Sa’adah tidak hanya dipahami sebagai bacaan rutin, melainkan sebagai metode spiritual yang mengintegrasikan dimensi fiqh dan tasawuf. Prinsip ini ditegaskan dalam berbagai rujukan yang menempatkan sholawat sebagai jalan kebahagiaan yang utuh, mencakup aspek duniawi dan ukhrawi.
Bacaan Sholawat Sa’adah: Arab, Latin, dan Artinya
Merujuk pada sumber yang sama, berikut bacaan lengkap Sholawat Sa’adah:
اَللّهُمَ صَلّ عَلَى سَيّدِنَا مُحَمَّدٍ عَدَدَامَا فِى عِلْمِ اللّهِ صَلَاةً دائِمَةًَ بِدَوَامِ مُلْكِ اللّه
Latin: Allahumma sholli ‘ala Sayyidina Muhammadin ‘adada maa fi’ilmillahi shalatan da imatan bidawami mulkillahi
Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami, Nabi Muhammad SAW sebanyak bilangan yang ada dalam bilangan Allah, dengan rahmat yang abadi seabadi kerajaan Allah.”
Secara etimologis, istilah Sholawat Sa’adah berasal dari dua kata Arab: sholawat dan as-sa’adah. Sholawat adalah bentuk jamak dari sholla yang bermakna doa, rahmat, atau pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Sementara as-sa’adah berasal dari kata sa’ida yang berarti bahagia, beruntung, atau sejahtera. Dengan demikian, Sholawat Sa’adah dimaknai sebagai “Sholawat Kebahagiaan”.
Dalam Ebook Sholawat Jalan Selamat, Habib Novel Alaydrus menyebutnya pula sebagai Sholawat Miftah atau “kunci”. Ia menjelaskan bahwa penamaan tersebut menegaskan fungsi sholawat sebagai pembuka pintu rahmat dan keselamatan hidup.
Dimensi Makrifat dalam Sholawat Sa’adah
Secara spiritual, kekuatan Sholawat Sa’adah terletak pada frasa ‘adada mâ fî ‘ilmillâhi dan bidawâmi mulkillâh. Lafaz ‘adada mâ fî ‘ilmillâhi bermakna “sebanyak bilangan dalam ilmu Allah”, yang menunjukkan ketakterhinggaan. Sementara bidawâmi mulkillâh berarti “kekal sebagaimana kerajaan Allah”.
Konsep ini mengajarkan umat untuk melepaskan batasan matematis manusia dan menyandarkan ibadah pada sifat Allah yang tak terbatas. Dalam sejumlah penjelasan ulama yang dirujuk, satu kali membaca sholawat ini disebut memiliki nilai setara dengan 600.000 sholawat biasa karena dikaitkan dengan bilangan dalam ilmu Allah yang tidak terbatas.
Praktik yang berkembang di Majelis As-Sa’adah Sidoarjo menunjukkan bahwa pengamalan sholawat ini menjadi sarana sinergi antara syariat dan hakikat. Artinya, disiplin dalam menjalankan hukum-hukum fiqh berjalan seiring dengan upaya pembersihan hati atau tazkiyatun nafs.
Habib Novel Alaydrus dalam karyanya menegaskan, “Sholawat ini adalah kunci kebahagiaan dunia dan akhirat.” Pernyataan tersebut menekankan bahwa kebahagiaan sejati bukan semata capaian materi, tetapi hasil dari koneksi batin yang kuat dengan Rasulullah SAW sebagai wasilah menuju ridha Allah SWT.
Tata Cara Mengamalkan Sholawat Sa’adah
Dalam praktiknya, terdapat beberapa tahapan pengamalan Sholawat Sa’adah sebagaimana dijelaskan dalam rujukan yang sama.
Pertama, melafalkan redaksi dengan benar. Bacaan dapat dilantunkan secara sirr (pelan) maupun jahr (keras), kapan saja sesuai kondisi. Ketepatan lafaz menjadi bagian penting agar makna tidak berubah.
Kedua, penyucian diri sebagai aspek syariat. Jamaah dianjurkan berwudhu, menutup aurat secara sempurna, serta menjaga kebersihan dan kerapian. Di Majelis As-Sa’adah, kedisiplinan syariat seperti kerapian shaf dan kesucian badan menjadi prasyarat sebelum memasuki dimensi spiritual.
Ketiga, diawali dengan tawasul dan dzikir. Biasanya pengamalan dimulai dengan menghadiahkan Al-Fatihah kepada Nabi Muhammad SAW, para sahabat, habaib, dan ulama pendiri majelis sebagai penyambung sanad ruhani.
Keempat, istiqamah. Pengamalan dilakukan secara kontinyu, baik secara individu maupun berjamaah. Keutamaan berjamaah dinilai memperkuat ikatan spiritual dan sosial antarjamaah.
Kelima, menghadirkan hati. Saat lisan melafalkan sholawat, hati harus hudhur atau hadir, merasakan kerinduan kepada Nabi Muhammad SAW dan meyakini limpahan rahmat Allah SWT.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa Sholawat Sa’adah bukan sekadar ritual verbal, melainkan latihan spiritual yang terstruktur.
Keutamaan Sholawat Sa’adah Berdasarkan Rujukan
Berdasarkan Ebook Sholawat Jalan Selamat karya Habib Novel Alaydrus dan jurnal ilmiah tentang Majelis Sholawat As-Sa’adah (Solihah & Rafsanjani), terdapat sejumlah keutamaan yang dikaitkan dengan pengamalan Sholawat Sa’adah.
Pertama, bernilai 600.000 sholawat. Sebagaimana disebutkan dalam penjelasan ulama yang dirujuk, satu kali membaca sholawat ini setara dengan 600.000 sholawat biasa karena lafaznya dikaitkan dengan bilangan dalam ilmu Allah.
Kedua, kunci kebahagiaan dunia dan akhirat. Julukan Sholawat Miftah mengandung makna sebagai pembuka pintu rahmat dan keselamatan.
Ketiga, doa yang abadi. Frasa bidawâmi mulkillâh menunjukkan harapan agar rahmat Allah terus mengalir tanpa batas waktu.
Keempat, penyeimbang syariat dan hakikat. Studi kasus di Sidoarjo memperlihatkan bahwa pengamalan sholawat ini berfungsi sebagai sarana tazkiyatun nafs yang menyeimbangkan kepatuhan hukum fiqh dengan kedalaman tasawuf.
Kelima, membangun kesalehan sosial. Energi positif yang lahir dari praktik berjamaah mendorong perilaku sosial yang lebih baik, seperti semangat bersedekah dan menjaga kerukunan.
Perspektif Keilmuan tentang As-Sa’adah
Dalam literatur klasik, Syaikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani dalam kitab Afdhalus Shalawat ‘ala Sayyidis Sadat menyebut selawat yang mendatangkan kebahagiaan bagi pembacanya sebagai Selawat As-Sa’adah. Dalam bahasa Arab, as-sa’adah berarti kebahagiaan, lawan dari syaqiy yang bermakna kesengsaraan.
Makna ini menegaskan bahwa kebahagiaan dalam perspektif Islam bukan sekadar emosi sesaat, melainkan kondisi jiwa yang stabil dan tenteram.
Selain itu, dalam praktik umat, terdapat pula sejumlah sholawat lain yang diyakini memiliki keutamaan tertentu, seperti Sholawat Nariyah, Sholawat Jibril, dan Sholawat Munjiyat. Namun, Sholawat Sa’adah memiliki karakteristik khas pada penyandaran jumlahnya kepada ilmu Allah yang tak terbatas.
Edukasi Spiritual di Tengah Tantangan Modern
Sholawat Sa’adah hadir sebagai salah satu alternatif edukasi spiritual di tengah tekanan hidup modern. Dengan pendekatan yang menekankan keseimbangan antara syariat dan hakikat, amalan ini tidak hanya berorientasi pada pahala individual, tetapi juga pembentukan karakter sosial.
Rujukan dari karya Habib Novel Alaydrus dan jurnal ilmiah tentang Majelis As-Sa’adah memberikan dasar akademik sekaligus praktik nyata di masyarakat. Hal ini memperkuat kredibilitas informasi serta memastikan bahwa penyampaian ajaran dilakukan secara akurat, berimbang, dan dapat dipercaya.
Dengan memahami makna, tata cara, dan keutamaannya secara komprehensif, umat Islam diharapkan dapat mengamalkan Sholawat Sa’adah dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab spiritual, menjadikannya sebagai jalan menuju kebahagiaan yang utuh, baik di dunia maupun di akhirat.



















