Headline.co.id, Bantul ~ Angka harapan hidup penderita kanker payudara di Indonesia masih tergolong rendah. Hal ini disebabkan oleh deteksi dini dan diagnosis yang sering terlambat, di mana sekitar 70 persen kasus ditemukan pada stadium tiga dan empat dengan peluang kesembuhan yang sangat kecil. Sebagian besar penderita menjalani perawatan di rumah dan baru mencari pengobatan di fasilitas kesehatan setelah gejala klinis memburuk, yang menimbulkan tantangan fisik dan psikologis serta kesulitan berinteraksi dengan fasilitas kesehatan.
Menanggapi situasi ini, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FKKMK UGM) melaksanakan proyek penelitian Collaborative cOMMUNIty Care breAst cancEr inDonesia (COMMUNICATED). Program ini bertujuan menyebarluaskan hasil penelitian dan mendorong pemanfaatannya dalam kebijakan, perencanaan program, dan praktik layanan kanker berbasis komunitas.
Martina Sinta Kristanti, S.Kep., Ns., MN., Ph.D., selaku Principal Investigator COMMUNICATED, menyatakan bahwa kader kesehatan masyarakat selama ini banyak terlibat dalam program ibu dan anak, lansia, hingga kesehatan jiwa. Namun, penguatan kapasitas kader terkait kanker, khususnya kanker payudara, masih sangat terbatas. “Pelatihan terkait kanker biasanya bersifat temporer dan insidental, padahal kebutuhan pendampingan pasien kanker di masyarakat sangat besar,” ujarnya pada Kamis (12/2) di Auditorium FK-KMK UGM.
Program pelatihan ini bertujuan memperkuat peran kader dalam memberikan dukungan sosial bagi pasien kanker payudara, termasuk keluarga dan pengasuh pasien. “Hingga kini, sebanyak 112 kader telah mengikuti pelatihan, dengan 43 persen berasal dari Kota Yogyakarta, 23 persen dari Kabupaten Sleman, dan sisanya dari Bantul, Gunungkidul, Kulon Progo, dan Bali,” ungkap Martina.
Pelatihan ini menggunakan filosofi “tonggo ngerumat tonggo”, yaitu pendekatan berbasis kedekatan sosial di lingkungan tempat tinggal. Hanya kader yang memiliki tetangga dengan kanker payudara yang dapat mengikuti pelatihan. Setelah pelatihan, kader diminta melakukan kunjungan ke pasien sebanyak tiga kali dalam rentang dua minggu hingga satu bulan. “Kami ingin melihat efektivitas pelatihan serta perubahan kualitas hidup pasien sebelum dan sesudah pendampingan,” jelas Martina.
Pelatihan dibagi dalam beberapa gelombang, termasuk gelombang di Bali, dengan model edukasi Kader TATAK (Tangguh dan Tanggap Kanker) melalui media edukasi seperti buku, flipchart, dan aplikasi berbasis web-app. “Setiap gelombang berlangsung sekitar dua hingga tiga minggu, dengan metode belajar mandiri dan pertemuan langsung bersama fasilitator,” tambahnya.
Prof. Dr. dr. Lina Choridah, Sp.Rad(K), Wakil Dekan Bidang Penelitian dan Pengembangan FKKMK UGM, menilai program ini memadukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Ia menambahkan bahwa kanker payudara masih menjadi beban penyakit yang membutuhkan perhatian serius, terutama pada pasien dengan kondisi metastasis. “Dengan jargon tonggo jago tonggo, program ini sangat sesuai dengan kultur masyarakat Yogyakarta dan mendukung manajemen kanker secara menyeluruh,” katanya.
Dukungan juga datang dari Prof. dr. Ari Natalia Probandari, MPH., Ph.D., Guru Besar Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret. Ia menilai COMMUNICATED sebagai inovasi penting untuk meningkatkan keterampilan kader dalam mendampingi pasien kanker dan keluarganya. “Inovasi yang baik ini perlu dilanjutkan dan dipikirkan bagaimana bisa diintegrasikan ke dalam program pemerintah,” tuturnya.
Menurut Ari, hasil dari proyek COMMUNICATED berpotensi besar untuk disinergikan dengan program Integrasi Layanan Primer (ILP) yang dijalankan pemerintah. Ia menekankan bahwa kader kesehatan dalam program pemerintah juga perlu dilatih dengan keterampilan standar. “Program ini bisa diintegrasikan melalui kegiatan kunjungan rumah yang sudah ada di masyarakat,” jelasnya.



















