Headline.co.id, Sleman ~ Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melakukan kunjungan kerja ke Sekolah Lansia Kalimasada di Padukuhan Kayunan, Donoharjo, Ngaglik, Sleman, pada Rabu (11/2/2026). Kunjungan ini bertujuan untuk menyerap aspirasi dan mendengarkan langsung kebutuhan para lansia guna mendukung kebijakan serta penganggaran yang berpihak pada kelompok usia lanjut.
Kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan Posyandu Lansia, panen empon-empon oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Panguripan, serta dialog anggota dewan, pengurus sekolah lansia, dan pemangku kepentingan setempat. Hadir dalam acara ini lain Wakil Ketua Komisi D DPRD DIY Anton Prahu Semendawai, serta anggota Komisi D Muslimatun, Demas Kursiswanto, Tustiyani dari Fraksi PDI Perjuangan Bantul, dan Ketua DPC PDIP Kabupaten Kulonprogo Fajar Gegana.
Wakil Ketua Komisi D DPRD DIY, Anton Prahu Semendawai, menyampaikan apresiasi atas berbagai kegiatan produktif yang dijalankan para lansia. Menurutnya, usia tidak menjadi penghalang untuk tetap aktif dan berkontribusi. “Usia boleh 60 atau 70 tahun, tapi semangat harus tetap 17 tahun. Kegiatan positif seperti ini harus terus didukung. Kami siap mendukung dari sisi kebijakan,” ujarnya di sela-sela kunjungan.
Anton menambahkan bahwa sejumlah kebutuhan yang telah diidentifikasi, seperti perangkat gamelan, ternak sapi dan kambing, alat olahraga, serta bibit lele, dapat diusulkan melalui Kepala Sekolah Lansia untuk dirangkum dan diperjuangkan dalam kebijakan maupun penganggaran daerah.
Dalam kesempatan yang sama, anggota Komisi D DPRD DIY Demas Kursiswanto menekankan fungsi legislasi dan penganggaran yang melekat pada lembaga legislatif. Ia menegaskan bahwa aspirasi masyarakat dapat masuk dalam pembahasan anggaran, meskipun realisasinya mengikuti siklus penganggaran tahun berikutnya. “Kami ingin mendengar langsung keterkaitan program di masyarakat. Membangun negara dimulai dari keluarga. Aspirasi bisa kami kawal dalam fungsi budgeting dan legislasi, termasuk Perda tentang Lansia,” ujar Demas.
Sementara itu, anggota Komisi D lainnya, Muslimatun, mengaku terkesan dengan semangat para lansia Kalimasada yang tetap produktif. Ia menyoroti paradoks sosial di DIY yang memiliki angka kemiskinan ekstrem cukup tinggi secara nasional, namun dinilai sebagai provinsi dengan tingkat kebahagiaan tinggi. “Umur hanya bilangan, yang penting bagaimana mengisinya. Kami hadir bukan atas nama pribadi, tetapi sebagai anggota Komisi D. Kami ingin mengetahui program apa yang sudah berjalan dan apa yang masih menjadi kebutuhan,” ungkapnya.
Menurut Muslimatun, kekuatan sosial seperti kerukunan dan kepedulian menjadi modal penting dalam menjaga kesejahteraan masyarakat, termasuk di kalangan lansia. Kepala Sekolah Lansia Kalimasada, Zakiyah, memaparkan bahwa kegiatan di sekolah lansia berlangsung aktif tanpa jeda melalui sistem tujuh meja Posbindu di bawah Puskesmas Ngaglik II. Saat ini terdapat 24 kader yang terlibat, termasuk seorang dokter warga setempat, serta bersinergi dengan Bina Keluarga Lansia (BKL).
Kegiatan rutin yang dijalankan meliputi hidroterapi sebulan sekali untuk terapi sendi dan saraf terjepit, asupan rohani di TPA Lansia Husnul Khotimah setiap akhir pekan, serta kebaktian di kapel bagi lansia Katolik dua minggu sekali. Di bidang ekonomi, KWT Panguripan mengembangkan budidaya empon-empon yang dipanen bersama Dinas Pertanian. Hasil penjualan produk turut menopang konsumsi lansia dalam berbagai kegiatan.
Salah seorang pengurus, Kasmin, menyampaikan harapan adanya dukungan untuk wisuda S3 lansia, seperti bantuan sewa toga dan konsumsi. Selain itu, pihaknya juga memohon dukungan bibit, pengolahan, serta pemasaran empon-empon agar usaha produktif tersebut dapat berkelanjutan. (Endarwati/KIM Donoharjo Ngaglik)





















