Headline.co.id, Jakarta ~ Kasus meninggalnya seorang siswa sekolah dasar berinisial YBS (10) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi perhatian nasional. Korban ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tergantung di dahan pohon cengkeh dekat pondok tempat tinggalnya bersama nenek pada Kamis (29/1/2026) siang. Aparat kepolisian menyatakan dugaan sementara korban mengakhiri hidupnya sendiri, namun penyelidikan masih terus dilakukan untuk memastikan rangkaian peristiwa secara utuh.
Kepala Seksi Humas Polres Ngada Inspektur Dua Benediktus E. Pissort mengatakan, peristiwa tersebut terjadi di Dusun Sawasina, Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu.
“Dugaan sementara bunuh diri, tetapi kami masih melakukan pendalaman dengan memeriksa saksi dan mengumpulkan bukti,” ujar Benediktus saat dihubungi, Senin (2/2/2026).
Berikut sejumlah fakta yang dihimpun dari keterangan polisi, saksi, keluarga, dan pihak terkait:
Ditemukan Warga Saat Siang Hari
Korban pertama kali ditemukan oleh Kornelis Dopo (59), warga setempat, sekitar pukul 11.00 Wita. Saat hendak mengikat kerbau di sekitar pondok nenek korban, saksi melihat tubuh korban sudah dalam kondisi tergantung. Kornelis kemudian berlari ke jalan sambil berteriak meminta pertolongan hingga warga berdatangan dan menghubungi polisi.
Sempat Terlihat Murung Pagi Hari
Sebelum ditemukan meninggal, korban sempat terlihat oleh dua saksi lain, Gregorius Kodo (35) dan Rofina Bera (34), sekitar pukul 08.00 Wita. Saat itu, korban duduk di bale-bale di luar pondok dan tampak murung. Keduanya sempat menanyakan alasan korban tidak masuk sekolah serta keberadaan neneknya.
Surat Tulisan Tangan Ditemukan di Lokasi
Dalam olah tempat kejadian perkara, polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan berbahasa Ngada yang ditujukan kepada ibu korban. Benediktus mengatakan, penyidik telah mencocokkan tulisan dalam surat tersebut dengan tulisan korban di beberapa buku tulis.
“Dari hasil pencocokan, ditemukan adanya kecocokan tulisan,” katanya. Surat itu berisi pesan perpisahan dan permintaan agar sang ibu merelakan kepergiannya.
Korban Tinggal Bersama Nenek
Korban diketahui tinggal di pondok bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun. Saat kejadian berlangsung, nenek korban tidak berada di pondok karena sedang berada di rumah tetangga. Kondisi ini turut menjadi bagian dari pendalaman polisi.
Keterangan Ibu Korban
Ibu korban, MGT (47), dalam pemeriksaan terpisah menuturkan bahwa pada malam sebelum kejadian, YBS sempat menginap di rumahnya. Keesokan pagi sekitar pukul 06.00 Wita, korban dititipkan kepada tukang ojek untuk kembali ke pondok neneknya. Ia mengaku sempat menasihati anaknya agar rajin bersekolah, sekaligus menjelaskan kondisi ekonomi keluarga yang serba terbatas.
Latar Belakang Keluarga
Warga setempat, Lipus Djio (47), mengatakan korban dikenal sebagai anak periang dan cerdas. Namun, ia juga menyebut kondisi keluarga korban menghadapi banyak tantangan. Ayah korban meninggal dunia saat korban masih dalam kandungan, sementara ibunya harus menafkahi lima anak. Menurut Lipus, kondisi tersebut membuat korban lebih banyak tinggal bersama neneknya.
Permintaan Buku dan Pena
Sebelum peristiwa terjadi, korban sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan pena. Permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi karena keterbatasan ekonomi keluarga. Informasi ini juga menjadi perhatian dalam penyelidikan dan sorotan publik.
Kasus ini mendapat respons dari pemerintah pusat. Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyampaikan duka cita dan menyebut peristiwa ini sebagai perhatian bersama. Ia menekankan pentingnya pendampingan sosial dan pembenahan data keluarga miskin agar masyarakat rentan mendapatkan perlindungan yang tepat.
Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyatakan akan mendalami informasi terkait peristiwa tersebut. Ia mengatakan perlu penelusuran lebih lanjut untuk mengetahui penyebab dan langkah yang harus diambil ke depan.




















