Headline.co.id, Jakarta ~ Khutbah Jumat kembali menegaskan pentingnya menjaga silaturahmi sebagai kunci memperkuat ukhuwah, meningkatkan kualitas iman, serta membuka pintu keberkahan rezeki dan umur. Pesan tersebut disampaikan melalui berbagai dalil Al-Qur’an dan hadis Rasulullah SAW yang menempatkan silaturahmi sebagai amalan utama dalam kehidupan umat Islam. Khutbah ini dibacakan dalam suasana ibadah Jumat, di mana jamaah diwajibkan menyimak secara khusyuk sehingga pesan moral dapat terserap secara optimal.
Dalam khutbah bertema “Silaturahmi, Cerminan Ketakwaan Seorang Mukmin”, khatib menekankan bahwa silaturahmi bukan sekadar hubungan sosial, melainkan bentuk ketaatan kepada Allah SWT yang berdampak langsung pada kehidupan dunia dan akhirat.
Khatib mengawali dengan mengutip firman Allah SWT dalam Surah An-Nisa ayat 1 yang memerintahkan umat Islam untuk bertakwa sekaligus memelihara hubungan kekeluargaan. Ayat tersebut menjadi dasar bahwa hubungan antarmanusia, khususnya dengan kerabat, merupakan bagian integral dari ketakwaan.
Selain itu, Rasulullah SAW juga menegaskan keutamaan silaturahmi dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. “Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah silaturahmi,” demikian sabda Nabi SAW yang dikutip dalam khutbah.
Menurut khatib, hadis tersebut menunjukkan bahwa silaturahmi memiliki implikasi nyata, baik secara spiritual maupun sosial. Secara spiritual, silaturahmi mendatangkan pahala dan rahmat Allah, sementara secara sosial dapat memperkuat jaringan persaudaraan, memperluas peluang, serta mempererat solidaritas umat.
Dalam khutbah juga disampaikan bahwa silaturahmi menjadi solusi atas berbagai problematika umat, seperti konflik keluarga, egoisme, dan perpecahan akibat perbedaan pandangan. Al-Qur’an Surah Muhammad ayat 22–23 menegaskan ancaman bagi mereka yang memutus hubungan kekeluargaan, yakni mendapat laknat dan tertutup pendengarannya dari kebenaran.
Khatib menekankan bahwa hakikat silaturahmi bukan sekadar membalas kebaikan atau kunjungan, melainkan menjaga hubungan meskipun pihak lain pernah memutuskan. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “(Hakikat) orang yang menyambung silaturahmi itu bukan orang yang membalas kebaikan, tetapi orang yang apabila silaturahminya terputus, ia bergegas menyambungnya kembali,” (HR. Bukhari).
Dalam praktiknya, silaturahmi dapat dilakukan melalui berbagai cara, mulai dari mengunjungi orang tua dan kerabat, menjalin komunikasi rutin melalui telepon atau media sosial, hingga aktif dalam kegiatan sosial dan keagamaan. Di lingkungan pesantren, tradisi sowan kepada kiai dan guru juga menjadi contoh nyata bagaimana silaturahmi membentuk karakter dan memperkuat jaringan dakwah.
Namun, khatib juga mengingatkan adanya tantangan di era modern, di mana gaya hidup individualistis dan ketergantungan pada teknologi kerap mengurangi interaksi langsung. Oleh karena itu, umat Islam diajak untuk kembali menghidupkan semangat silaturahmi secara nyata agar tidak tergerus perubahan zaman.
Pada bagian penutup, jamaah diajak untuk terus meningkatkan upaya menyambung tali persaudaraan, baik dengan keluarga, tetangga, maupun sesama Muslim. Harapannya, nilai silaturahmi tidak hanya menjadi wacana di mimbar, tetapi benar-benar terwujud dalam kehidupan sehari-hari sebagai jalan meraih keberkahan, kedamaian, dan persatuan umat.
Teks Khutbah Jumat: Silaturahmi, Cerminan Ketakwaan Seorang Mukmin
Khutbah l
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَالْاِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ. وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ.
أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَباَرِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّـدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الزِّحَامِ
أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ اللهِ, أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ
فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِى كِتَابِهِ الْكَرِيْم : اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْن
Ma’asyiral muslimin, jama’ah jum’ah rahimakumullah …
Mari kita renungkan bersama akan pentingnya silaturahmi dalam kehidupan. Silaturahmi bukan hanya sekadar ikatan sosial, tetapi merupakan cerminan ketakwaan dan bukti dari keimanan yang mendalam.
Dalam Islam, silaturahmi menempati posisi yang istimewa, bahkan seringkali didahulukan di atas amal kebaikan lainnya. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۗ إِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
“Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu”. (QS. An-Nisa’: 1)
Rasulullah SAW juga menekankan pentingnya silaturahmi dalam sabdanya:
وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR. Bukhari).
Pernyataan diatas menunjukkan bahwa silaturahmi memiliki kedudukan istimewa setelah takwa, dan menjaga hubungan baik dengan kerabat adalah salah satu ciri orang beriman.
Ma’asyiral muslimin, jama’ah jum’ah rahimakumullah …
Silaturahim membawa banyak keberkahan dalam hidup kita. Dengan menjaga silaturahmi, kita menunjukkan kualitas iman dan mendapatkan pahala dari Allah SWT. Misalnya, kita bisa mulai dengan mengunjungi orang tua atau saudara yang sudah lama tidak kita temui. Mungkin juga kita bisa mengajak mereka makan bersama atau sekadar berbincang-bincang untuk mempererat hubungan.
Nabi SAW pernah ditanya oleh sahabatnya tentang amalan yang dapat memasukkan ke dalam surga. Lalu beliau menjawab:
تَعْبُدُ اللَّهَ لَا تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ، وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ، وَتَصِلُ الرَّحِمَ
“Sembahlah Allah, janganlah berbuat syirik pada-Nya, dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan jalinlah tali silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat).” (HR. Bukhari)
Ini menunjukkan betapa pentingnya silaturahmi dalam rangka mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Kemudian, sebenarnya kepada siapa kita harus bersilaturahmi? Abdullah bin ‘Amr meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ، وَلَكِنَّ الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قَطَعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا
“(Hakikat) orang yang menyambung silaturahmi itu bukan orang yang membalas kebaikan (dengan kebaikan). Akan tetapi, ia yang apabila silaturahminya terputus, bergegas menyambungnya.” (HR. Bukhari)
Hadits tersebut menegaskan bahwa silahturahmi bukan hanya tentang membalas kunjungan atau kebaikan, tetapi lebih kepada usaha untuk terus menjaga hubungan meskipun ada hambatan. Contohnya, jika ada saudara atau teman yang sedang mengalami kesulitan atau konflik, kita bisa menjadi jembatan untuk mendamaikan mereka atau sekadar memberikan dukungan moral.
Ma’asyiral muslimin, jama’ah jum’ah rahimakumullah …
Kemudian, esensi dari silaturahmi tidak sebatas bersalaman atau pertemuan fisik. Silaturahmi merupakan ketaatan dan amalan yang mendekatkan kita kepada Allah Ta’ala serta menjauhkan kita dari perbuatan maksiat. Dengan menjalin hubungan baik dengan keluarga dan kerabat, seperti rutin menghubungi mereka melalui telepon atau media sosial jika jarak memisahkan, kita akan semakin taat kepada Allah dan mendapatkan keberkahan dalam hidup serta menyelamatkan diri kita kelak di akhirat.
Oleh karenanya, mari kita tingkatkan upaya untuk menyambung tali persaudaraan dengan sesama Muslim dan kerabat kita. Semoga Allah SWT senantiasa memberi kita kekuatan untuk menjalankan perintah-Nya dan menjauhkan kita dari perbuatan yang merusak hubungan baik antar sesama. Amin ya Rabbal ‘Alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الذِّكْرِ وَالْآيَاتِ الْحَكِيْمِ ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمَ
Khutbah ll
الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أتَمَّ عَلَيْنَا نِعْمَتَهُ ، وَأَكْمَلَ لَنَا الدِّيْنَ , وَشَرَّعَ لَنَا مِنَ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَاتِ أَنْوَاعًا وَأَصْنَافًا لِنَتَقَرَّبَ بِهَا إِلَى رَبِّ الْعَالَمِيْنَ .
أَشْهَدُ أَنْ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ أَكْرَمُ الْأَكْرَمِيْنَ . وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُصْطَفَى عَلَى جَمِيْعِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ .
اللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْهِمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
أَمَّا بَعْدُ: فَيآأيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ .. اِتَّقُوا اللهَ , اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَأَطِيْعُوْهُ فَإِنَّ طَاعَتَهُ أَقْوَمُ وَأَقْوَى , وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادَ التَّقْوَى , وَاحْذَرُوا أَسْبَابَ سَخَطِ الْجَبَّارِ فَإِنَّ أَجْسَامَكُمْ عَلَى النَّارِ لَا تَقْوَى
وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّاتِهِ أَجْمَعِيْنَ.
اللهم اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ ؛ اللهم ادْفَعْ أَنَّ الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالرِّبَا وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ ، عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً ، وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً ، بِرَحْمَتِكَ يَآ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ ,
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ , رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ … إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ , وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ ,وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
—
Teks khutbah ini ditulis oleh Ustadz M. Shodiq Ma’mun, S.Sos, Ketua RMI MWC NU Ajibarang, disadur dari Laman NU Banyumas.
Khutbah Jumat: Pentingnya Silaturahmi dalam Membangun Umat yang Kuat
Khutbah Pertama
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، الَّذِي جَعَلَ الْمُؤْمِنِينَ إِخْوَةً، وَأَمَرَنَا بِصِلَةِ الْأَرْحَامِ وَالتَّعَاوُنِ عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى. أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى نِعَمِهِ الَّتِي لَا تُعَدُّ وَلَا تُحْصَى، وَأَشْكُرُهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَهِدَايَتِهِ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، إِلَهُ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ، وَرَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرَضِينَ.
وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَصَفِيُّهُ مِنْ خَلْقِهِ وَخَلِيلُهُ، الْمَبْعُوثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ، وَالْهَادِي إِلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الطَّيِّبِينَ الطَّاهِرِينَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَقَدْ قَالَ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾ [آل عمران: ١٠٢]
Hadirin jamaah jumat yang dirahmati Allah,
Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita bersama-sama meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa. Hendaklah kita senantiasa memelihara iman dan amal saleh kita, serta menjaga diri dari segala bentuk kemaksiatan dan kemungkaran. Semoga dengan demikian, kita akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Tema khutbah kita pada hari ini adalah “Pentingnya Silaturahmi dalam Membangun Umat yang Kuat”. Silaturahmi merupakan salah satu ajaran penting dalam Islam yang memiliki dampak luar biasa dalam membangun umat yang kuat dan bersatu. Mari kita telaah bersama pentingnya silaturahmi ini dalam kehidupan kita sebagai umat Islam.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah An-Nisa ayat 1:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)-nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.”
Ayat ini mengingatkan kita akan pentingnya menjaga hubungan kekeluargaan dan silaturahmi. Allah SWT memerintahkan kita untuk bertakwa kepada-Nya dan sekaligus menjaga hubungan dengan sesama manusia, terutama keluarga dan kerabat.
Rasulullah SAW juga sangat menekankan pentingnya silaturahmi dalam berbagai hadits. Salah satunya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.”
Hadits ini menunjukkan bahwa silaturahmi tidak hanya bermanfaat untuk kehidupan sosial kita, tetapi juga memiliki dampak positif terhadap rezeki dan umur kita. Ini menandakan betapa pentingnya silaturahmi dalam pandangan Islam.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Mengapa silaturahmi begitu penting dalam membangun umat yang kuat? Mari kita telaah beberapa alasannya:
1. Memperkuat Ikatan Persaudaraan: Silaturahmi membantu memperkuat ikatan persaudaraan antar sesama muslim. Ketika kita saling mengunjungi, berbagi kabar, dan memperhatikan keadaan saudara-saudara kita, ikatan emosional dan spiritual di antara kita semakin kuat. Hal ini sangat penting dalam membangun umat yang solid dan bersatu.
2. Meningkatkan Empati dan Kepedulian Sosial: Melalui silaturahmi, kita menjadi lebih peka terhadap keadaan orang lain. Kita belajar untuk memahami kesulitan dan tantangan yang dihadapi saudara-saudara kita, sehingga tumbuh rasa empati dan kepedulian sosial. Ini adalah fondasi penting dalam membangun masyarakat yang saling mendukung dan membantu.
3. Memperluas Jaringan dan Sumber Daya: Silaturahmi membuka peluang untuk memperluas jaringan sosial kita. Dengan mengenal lebih banyak orang, kita memiliki akses ke berbagai sumber daya, pengetahuan, dan kesempatan yang dapat bermanfaat bagi pengembangan diri dan umat secara keseluruhan.
4. Menyelesaikan Konflik dan Memperbaiki Hubungan: Silaturahmi menjadi media yang efektif untuk menyelesaikan konflik dan memperbaiki hubungan yang rusak. Dengan saling mengunjungi dan berkomunikasi, kesalahpahaman dapat diluruskan dan perselisihan dapat diselesaikan dengan cara yang baik.
5. Meningkatkan Kesehatan Mental dan Emosional: Interaksi sosial yang positif melalui silaturahmi dapat meningkatkan kesehatan mental dan emosional kita. Merasa terhubung dan didukung oleh komunitas dapat mengurangi stres, depresi, dan kecemasan.
6. Menjaga Tradisi dan Nilai-nilai Islam: Silaturahmi membantu melestarikan tradisi dan nilai-nilai Islam dalam masyarakat. Melalui pertemuan dan interaksi, kita dapat saling mengingatkan tentang ajaran-ajaran agama dan memperkuat identitas kita sebagai umat Islam.
7. Meningkatkan Produktivitas dan Kreativitas: Ketika umat bersatu dan saling mendukung, produktivitas dan kreativitas dapat meningkat. Ide-ide baru dapat muncul dari interaksi dan pertukaran pikiran yang terjadi saat bersilaturahmi.
Hadirin jamaah jumat yang dirahmati Allah,
Dalam konteks kehidupan pesantren, silaturahmi memiliki peran yang sangat penting. Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional telah lama menjadi tempat di mana nilai-nilai silaturahmi dipraktikkan dan diajarkan. Hubungan antara kyai, ustadz, dan santri yang erat mencerminkan pentingnya silaturahmi dalam membentuk karakter dan kepribadian muslim yang baik.
Di pesantren, santri belajar untuk hidup bersama, saling menghormati, dan membangun ikatan persaudaraan yang kuat. Tradisi sowan atau mengunjungi kyai dan guru-guru, misalnya, adalah bentuk silaturahmi yang mengajarkan adab dan rasa hormat. Kegiatan-kegiatan seperti pengajian, diskusi kitab, dan acara-acara keagamaan juga menjadi media silaturahmi yang efektif di kalangan santri dan masyarakat sekitar pesantren.
Lebih dari itu, jaringan alumni pesantren yang tersebar di berbagai daerah menjadi contoh nyata bagaimana silaturahmi dapat memperluas pengaruh positif dan dakwah Islam. Para alumni yang tetap menjaga hubungan baik dengan almamaternya dan sesama alumni menciptakan jaringan sosial yang kuat, yang pada gilirannya berkontribusi pada pembangunan umat Islam yang lebih luas.
Namun, di era modern ini, kita menghadapi tantangan dalam menjaga tradisi silaturahmi. Kemajuan teknologi dan gaya hidup yang semakin individualistis kadang membuat kita lupa akan pentingnya interaksi langsung. Meskipun media sosial dan alat komunikasi modern memudahkan kita untuk tetap terhubung, kita harus ingat bahwa silaturahmi yang sejati membutuhkan lebih dari sekadar pesan singkat atau panggilan video.
Oleh karena itu, marilah kita berusaha untuk menghidupkan kembali semangat silaturahmi dalam kehidupan kita sehari-hari. Beberapa langkah praktis yang dapat kita lakukan antara lain:
1. Meluangkan waktu secara rutin untuk mengunjungi keluarga dan kerabat.
2. Aktif dalam kegiatan sosial dan keagamaan di lingkungan kita.
3. Menjalin komunikasi yang baik dengan tetangga dan rekan kerja.
4. Berpartisipasi dalam kegiatan alumni pesantren atau sekolah.
5. Memanfaatkan momen hari raya dan perayaan Islam untuk bersilaturahmi.
6. Menjadikan masjid sebagai pusat silaturahmi dengan rajin mengikuti shalat berjamaah dan kegiatan masjid.
7. Mengajak keluarga, terutama anak-anak, untuk memahami dan mempraktikkan nilai-nilai silaturahmi.
Hadirin jamaah jumat yang dimuliakan Allah,
Marilah kita jadikan silaturahmi sebagai bagian integral dari kehidupan kita sebagai umat Islam. Dengan memperkuat ikatan persaudaraan melalui silaturahmi, kita dapat membangun umat yang kuat, bersatu, dan mampu menghadapi berbagai tantangan zaman.
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita untuk menjaga dan memperkuat tali silaturahmi di antara kita. Marilah kita tutup khutbah ini dengan berdoa kepada Allah SWT agar memberikan kekuatan dan kemudahan bagi kita dalam mempraktikkan nilai-nilai silaturahmi dalam kehidupan sehari-hari.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ الَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرْتَ بِهِ أَنْ يُوصَلَ. اللَّهُمَّ قَوِّ أَوَاصِرَ الْمَحَبَّةِ وَالْأُخُوَّةِ بَيْنَنَا، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَسْعَوْنَ فِي صَلَاحِ ذَاتِ الْبَيْنِ. اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ ارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ، أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِينَ، وَعَنِ التَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ ارْحَمْ مَوْتَانَا، وَاشْفِ مَرْضَانَا، وَعَافِ مُبْتَلَانَا، وَاقْضِ الدَّيْنَ عَنْ مَدِينِينَا، وَارْحَمْ ضَعْفَنَا يَا قَوِيُّ.
اللَّهُمَّ انْصُرِ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَعْلِ كَلِمَةَ الْحَقِّ وَالدِّينِ. اللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا، وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُورِنَا، وَاجْعَلْهُمْ هُدَاةً مُهْتَدِينَ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى. اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ، وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ، وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ، وَجَمِيعِ سَخَطِكَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
Teks khutbah ini dinukil dari laman Pesantren Darunnajah 2 Cipining Bogor
Khutbah Jumat: Menjaga Silaturahim Merawat Perdamaian
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى : وَمَنْ يَّتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا، وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَايَحْتَسِبُ.
Hadirin shalat Jumat hafidzakumullah,
Segala puji hanyalah milik Allah swt, Dzat yang telah menganugerahkan kita banyak sekali nikmat, baik materi maupun imateri. Bahkan dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa bila kita hendak menghitung nikmat-Nya, maka pastinya kita tidak akan mampu. Shalawat dan salam harus senantiasa kita haturkan bagi Nabi Muhammad saw beserta keluarga dan para sahabatnya. Atas perjuangan mereka, agama Islam bisa tegak pada hari ini hingga kiamat nanti.
Hadirin shalat Jumat hafidzakumullah,
Salah satu kunci keberhasilan Nabi Muhammad dan para sahabatnya dalam memperkenalkan dan memperjuangkan agama ini adalah dengan cara menjaga hubungan antar sesama umat Islam agar tetap terjalin dan tidak sampai terputus, atau yang biasa disebut dengan silaturrahmi. Jika hendak meninjau definisinya, Imam Nawawi dalam Syarh Muslim mengatakan bahwa silaturahim merupakan bersikap baik kepada kerabat/ karib yang dapat menghubungkan antara dua pihak.
Berbuat baik di sini terkadang berupa materi atau imateri seperti membantu, berkunjung, memberikan salam, dan lain sebagainya. Adapun yang dimaksud dengan kerabat atau karib di sini bisa berwujud sanak saudara (nasab), tetangga, teman, serta kolega. Dengan kata lain, tidak terbatas pada orang-orang yang hanya mempunyai hubungan darah saja.
Bahkan dalam cakupan yang lebih luas, kerabat atau karib di sini bisa saja berwujud yang berbeda agama. Sebab dalam Islam, perbedaan agama bukan menjadi momok yang dapat membatasi interaksi antar sesama manusia. Dengan demikian, silaturahim dalam ajaran Islam adalah ditujukan untuk menciptakan sebuah masyarakat yang rukun, guyub, dan akur.
Interaksi di antara sesama terjalin dengan baik sehingga praktik-praktik sosial yang terjadi sangat tentram dan damai. Namun bukan berarti Islam tidak menyadari perbedaan selaku sebuah keniscayaan, termasuk perbedaan pandangan. Dalam Al-Qur’an telah ditegaskan bahwa Allah menciptakan manusia dengan keberagaman. Dalam surat Ar-Rum ayat 22 disebutkan:
وَمِنْ آَيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ
Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah penciptaan langit dan bumi, dan berlain-lainan bahasa dan warna kulit kalian. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui”. (QS. Ar-Rum: 22).
Ayat ini memang tidak secara gamblang mengatakan mengenai perbedaan pandangan. Namun perbedaan kedua aspek pada ayat tersebut menjadi simbol dari perbedaan banyak aspek, termasuk soal pandangan yang berbeda. Sebab setiap manusia pasti mempunyai wawasan, informasi, dan faktor eksternal lainnya yang berbeda dengan manusia yang lain.
Begitu juga dalam pilihan politik, yang sarat dengan kepentingan yang bisa mengakibatkan jurang perbedaan semakin terlihat jelas. Maka sejatinya, perbedaan dalam hal ini merupakan fenomena alamiah yang tidak perlu dijadikan sebagai sebuah masalah. Justru perbedaan pilihan politik dijadikan sebagai kekhasan sebuah masyarakat yang menganut sistem demokrasi.
Hadirin shalat Jumat hafidzakumullah,
Dengan demikian, mengingat perbedaan pandangan merupakan fitrah manusia, maka tidak ada alasan lagi untuk memaksakan keinginan dan merasa paling benar sehingga menuntut orang lain untuk mengikuti pilihan politiknya. Begitu juga sangat tidak bijak bila akibat keinginannya itu tidak terwujud sampai memutus tali silaturahim, entah dengan saudara, tetangga, maupun teman.
Nabi Muhammad dalam riwayat Bukhari dan Muslim pernah mengultimatum bahwa orang yang memutus silaturahim tidak akan masuk surga. Sabda beliau:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ
Artinya: “Orang yang memutus (silaturahim) tidak akan masuk surga.” Ancaman ini merupakan bentuk keseriusan baginda Nabi bahwa silaturahim merupakan ajaran agama yang harus dijaga. Maka umatnya tidak boleh ada yang memutus silaturahim, terlebih hanya karena perbedaan pilihan politik yang sifatnya agenda lima tahunan.
Hubungan yang sudah dirajut bertahun-tahun menjadi tercerai-berai seketika yang diakibatkan oleh keadaan yang bersifat sementara. Seandainya orang yang memutus silaturahim itu mendapatkan kompensasi berupa jabatan, tapi tetap saja jabatan itu bersifat fana, hanya sebentar dan sementara.
Sedangkan hubungan dengan sanak saudara, tetangga, teman, dan kolega mempunyai jangka waktu yang jauh lebih lama. Maka aneh kiranya bila lebih memprioritaskan sesuatu yang sementara daripada yang lebih lama. Mari kita renungkan bersama: kira-kira lebih intens manakah berinteraksi dengan sanak saudara dan tetangga atau orang-orang yang sama pilihan politik?
Dengan kultur dan karakter sosial orang Indonesia yang suka berkumpul dan bersosialisasi, yang didukung oleh berbagai tradisi keagamaan dan kebudayaan, tentu saja berinteraksi lebih intens dengan keluarga dan tetangga.
Hadirin shalat Jumat hafidzakumullah,
Oleh karena itu, melalui mimbar khutbah ini, khatib hendak menegaskan sekali lagi bahwa silaturahim tidak boleh sampai terputus hanya perbedaan pilihan politik. Konsekuensi memutus silaturahim bukan hanya berdampak pada pelakunya langsung, melainkan bisa juga kepada orang-orang sekitarnya. Hal ini berdasarkan hadits riwayat Imam Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad:
إِنَّ الرَّحْمَةَ لَا تَنْزِلُ عَلَى قَوْمٍ فِيهِمْ قَاطِعُ الرَّحِمِ
Artinya: “Sesungguhnya rahmat (Allah) tidak akan turun kepada suatu kaum yang di dalamnya terdapat pelaku memutus silaturrahim.”
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani mengutip pendapat al-Thibi menjelaskan bahwa maksud hadits tersebut bisa saja berupa suatu kaum yang kompak untuk mendukung seseorang memutus silaturahim dan mereka tidak mengingkari perbuatan orang tersebut. Akibatnya, kehidupan sosial kaum itu tidak tentram dan sejahtera, akan banyak masalah yang dialami kaum tersebut.
Tentu hal seperti ini tidak diharapkan terjadi di bumi kita, Indonesia. Masa-masa politik saat ini harus disikapi dengan tenang dan bersukaria. Meskipun banyak pandangan yang semakin memperjelas perbedaan itu, namun kehidupan berbangsa dan bernegara harus tetap terpelihara dengan baik.
Silaturahim yang senantiasa terjalin di tengah-tengah perbedaan itu menjadi perekat dalam merawat kerukunan dan perdamaian bersama.
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا اَمَرَ، اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ اِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَبِهِ وَ كَفَرَ، وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَاِئِقَ وَالْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَ اَصْحَابِهِ وَسَلَّمُ تَسْلِيْمًا كَثِيْراً۰ اَمَّابَعْدُ فَيَاعِبَادَ ﷲ… اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. إِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَأَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ مِنْ جِنِّهِ وَإِنْسِهِ، فَقَالَ قَوْلًا كَرِيْمًا: ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻭَﻣَﻼَﺋِﻜَﺘَﻪُ ﻳُﺼَﻠُّﻮْﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ، ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬﺎَ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮْﺍ ﺻَﻠُّﻮْﺍ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠِّﻤُﻮْﺍ ﺗَﺴْﻠِﻴْﻤًﺎ .ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠَﻰسَيِّدِنَا ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁلهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْن اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْنَا وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَأَصْلِحْ مَنْ فِي صَلَاحِهِمْ صَلَاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِيْنَ، وَأْهْلِكْ مَنْ فِي هَلَاكِهِمْ صَلاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِيْنَ، اللهُمَّ وَحِّدْ صُفُوْفَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَارْزُقْنَا وَإِيَّاهُمْ زِيَادَةَ التَّقْوَى وَالْإِيْمَانِ، اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Penulis: M. Syarofuddin Firdaus, Dosen Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences, dinukil dari laman NU Jakarta.
Khutbah Jumat: Syawal, Menjalin Silaturahmi dan Memperkokoh Persatuan Bangsa
Khutbah I
اَلْحَمْدُ للهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْمَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖوَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنْقَذَكُمْ مِّنْهَا ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ
Alhamdulillah, puji syukur senantiasa kita panjatkan kehadirat Allah, Tuhan semesta alam, atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga kita dapat kembali berkumpul di masjid pada hari yang mulia ini untuk melaksanakan ibadah Shalat Jumat. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw, beserta keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga akhir zaman.
Hadirin Sidang Jumat Rahimakumullah
Indonesia telah merdeka selama 79 tahun. Pertanyaannya, apa yang membuat bangsa ini tetap bertahan di tengah berbagai tantangan dan konflik? Jawabannya adalah persatuan. Rasa persatuan yang kuat antar rakyat Indonesia menjadi kunci utama kelangsungan bangsa ini.
Meskipun diwarnai dengan berbagai konflik dan segregasi di tengah masyarakat, Indonesia tetap mampu menjaga persatuannya. Hal ini menunjukkan bahwa semangat persatuan bangsa Indonesia sangatlah kuat dan tidak mudah goyah.
Kemampuan bangsa Indonesia untuk bersatu dan menyelesaikan konflik secara damai menjadi bukti nyata kekuatan persatuan. Persatuan ini jugalah yang menjadi modal utama bangsa Indonesia untuk terus maju dan berkembang di masa depan.
Hadirin Sidang Jumat Rahimakumullah
Indonesia, negara yang kaya akan keberagaman, harus selalu menjaga dan merawat persatuannya. Keberagaman suku, agama, budaya, ras, dan bahasa bagaikan harta karun yang perlu dijaga. Tanpa persatuan, keragaman ini bukannya menjadi kekuatan, melainkan bom atom yang dapat menghancurkan bangsa.
Sejarah telah menunjukkan banyak contoh bangsa yang punah karena mengabaikan persatuan. Uni Soviet, raksasa dunia, runtuh bukan karena serangan fisik, melainkan kegagalan dalam mewujudkan kesatuan bangsa. Negara-negara Skandinavia pun bernasib sama, terpecah belah akibat gagal menjaga persatuan dan membiarkan perpecahan berkembang.
Hadirin Sidang Jumat Rahimakumullah
Karena itu, sudah menjadi kewajiban kita bersama untuk menjaga dan merawat persatuan Indonesia. Kita harus saling menghormati perbedaan satu sama lain, serta bekerja sama untuk membangun bangsa yang lebih maju dan sejahtera. Persatuan adalah kunci kekuatan bangsa, dan hanya dengan persatuan kita dapat mencapai cita-cita kemerdekaan.
Hadirin Sidang Jumat Rahimakumullah
Islam mengajarkan kepada para pemeluknya untuk selalu mengedepankan persatuan dan kesatuan. Hal ini ditekankan dalam berbagai ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad saw. Persatuan dan kesatuan sangatlah penting bagi umat Islam karena dapat memperkuat mereka dalam menghadapi berbagai tantangan dan rintangan.
Dengan bersatu, umat Islam dapat saling membantu dan menguatkan satu sama lain. Mereka juga dapat lebih mudah mencapai tujuan bersama, baik dalam hal agama maupun duniawi. Persatuan dan kesatuan juga dapat menjaga perdamaian dan keharmonisan dalam masyarakat.
Hadirin Sidang Jumat Rahimakumullah
Dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 103, Allah berfirman:
وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُواْ
Artinya: “Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai berai.
Menurut Prof Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah, ayat 103 Surat Ali Imran mengandung pesan penting tentang konsekuensi persatuan dan perpecahan umat Islam. Ayat ini mengingatkan umat Islam untuk selalu menjaga persatuan dan keutuhan demi meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat. Perpecahan hanya akan membawa mereka kepada kesengsaraan dan kehinaan.
Bagi orang yang beriman dan bersatu, Allah menjanjikan keberuntungan dan kenikmatan di dunia dan akhirat. Persatuan ini diibaratkan sebagai tali Allah yang mengikat mereka, melambangkan kekuatan dan keteguhan dalam keyakinan.
Hadirin Sidang Jumat Rahimakumullah
Di sisi lain, Allah memperingatkan kelompok yang sesat dan berselisih akan mendapatkan kecelakaan dan siksa, baik di dunia maupun di akhirat. Perpecahan ini digambarkan sebagai jurang neraka, melambangkan bahaya dan kehancuran yang menanti mereka.
Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Tafsir Marah Labid jilid I halaman 144 menjelaskan, ayat Ali Imran ayat 103 mengandung pesan penting tentang pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan. Ayat ini mengingatkan kita untuk menghindari perpecahan dan perselisihan, yang dapat timbul dari berbagai faktor seperti permusuhan, perbedaan pendapat dalam agama, bahkan kesombongan dan egoisme.
Ayat ini menjelaskan bahwa perpecahan dan perselisihan akan membawa konsekuensi berat di hari kiamat. Pada hari tersebut, wajah orang-orang mukmin akan bersinar dengan kebahagiaan dan lembaran amalnya akan putih bersih. Sebaliknya, wajah orang-orang yang suka berpecah belah akan menjadi hitam legam dan lembaran amalnya akan penuh dosa.
Nabi berpesan tentang pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan umat. Dalam hadis riwayat Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dijelaskan bahwa memutus hubungan silaturahmi merupakan tindakan yang diharamkan dalam Islam. Nabi saw menganjurkan umatnya untuk saling menjaga hubungan baik dan saling memaafkan jika terjadi perselisihan.
وَعَنْ أنَسٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عليهِ وسلم: لاَ تَقَاطَعُوا وَلاَ تَدَا بَرُوا وَلَا تَبَا غَضُوا وَلاَ تَحَا سَدُوا، وَكُونُواعِبَادَ اللهِ إخْوَانًا، وَلاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أنْ يَهْجُرَ أخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثٍ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Artinya: “Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Jangan saling mencerca, jangan saling menjelekkan, jangan saling marah, dan jangan saling memutus hubungan. Jadilah kalian sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara. Tidak halal bagi seorang muslim untuk mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari’.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Marilah kita jadikan bulan Syawal ini sebagai momentum untuk memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. Marilah kita bersatu padu untuk membangun bangsa Indonesia yang maju, adil, dan sejahtera.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَمَّا بَعْدُ
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَعَنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
—
Teks Khutbah ini ditulis oleh Ustadz Zainuddin Lubis, Pegiat Kajian Islam, dinukil dari laman UIM Makassar








