HeadLine.co.id, (Surabaya) – Merebaknya virus Corona membuat harga bahan pokok di Jawa Timur naik cukup tajam. Imron Mawardi, pengamat Ekonomi Universitas Airlangga menjelaskan bahwa secara alamiah harga barang-barang cenderung naik, apalagi menjelang bulan Ramadan.
“Secara alamiah harga barang-barang cenderung naik, ditambah ada pengurangan suplai seperti lombok, bawang putih pengurangan suplai karena kasus corona, beberapa tentu barang-barang impor berkurang. Itu juga mempengaruhi harga di bahan-bahan pokok di Jatim,” ucapnya pada Sabtu (21/03).
Baca Juga: Tri Rismaharini Terima Bilik Sterilisasi Anti Corona
Ia melanjutkan bahwa kenaikan tersebut sangat signifikan. “Karena harga gula sudah sampai Rp 17.000 dan cabai Rp 60.000/kg. Momentum itu salah satunya karena pengaruh virus corona,” jelasnya.
Wabah virus corona memang terjadi panik buying. Beberapa orang belanja dengan takar yang kurang wajar. Kebutuhan melebihi normal mempengaruhi suplai di pasar.
“Saya kira seperti biasa ada orang yang mengambil keuntungan jangka pendek, membeli dalam jumlah banyak, sedikit yang menimbun meski tidak dalam skala yang besar,” ujarnya.
Baca Juga: Cegah Penyebaran Corona, Gubernur Bali Instruksikan Supaya Pawai Ogoh-Ogoh Tidak Digelar
Lebih lanjut ia menjelaskan untuk pemerintah sendiri, kebutuhan bahan pokok secara normal masih bisa diprediksi. Sebab setiap tahun ada masa panen berkurang dan melimpah.
“Permintaan bisa diprediksi, misalnya kalau dua bulan menjelang Ramadan permintaan bahan pokok pasti meningkat. Saat ini yang lebih berdampak adalah syok, panik buying melihat supermarket dibatasi menimbulkan persepsi bisa jadi stok tidak terlalu banyak. Sehingga malah menimbulkan keinginan masyarakat untuk berbelanja,” jelasnya.
Baca Juga: Pewarta Foto Indonesia Bagikan 1000 Masker ke Jurnalis Foto di Jakarta
Imron menambahkan seharusnya pemerintah meyakinkan kepada masyarakat bahwa kebutuhan pangan akan terjamin. Hal ini dikarenakan pemerintah punya buffer seperti gula dan beras.
“Memang yang tidak punya buffer cabai. Pemerintah tidak punya cadangan yang bisa dilakukan, misalnya operasi pasar nggak ada. Ini saya kira perlu diantisipasi dengan memperhitungkan perilaku harga dimasa lalu semestinya bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat,” jelasnya.

















