Headline.co.id, Jogja ~ Bencana banjir yang melanda wilayah Aceh masih belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Akibat bencana ini, sejumlah wilayah masih terisolasi, terutama karena akses jalan darat yang terputus. Dampak dari bencana ini sangat besar, sehingga banyak korban yang belum menerima bantuan logistik. Berdasarkan data dari Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah, ada 26 kampung yang masih terisolasi. Akses jalan dan jembatan yang rusak belum dapat diperbaiki. Pemerintah Provinsi Aceh telah memperpanjang status tanggap bencana banjir dan longsor dari 9 hingga 22 Januari 2026.
Prof. Djati Mardiatno, pakar geomorfologi lingkungan dari UGM, menyarankan agar bantuan disalurkan melalui jalur udara dan sungai untuk mengatasi keterisolasian wilayah terdampak bencana. “Ya, sebenarnya kalau kondisinya seperti itu, itu kan berarti kan faktor aksesibilitas ya. Sehingga kalau kondisinya masih seperti itu, mau nggak mungkin memang harus mencari sarana penghubung lain untuk bisa masuk ke daerah-daerah yang terisolasi tadi. Terpaksa harus melalui jalur udara, nggak ada pilihan lain lagi atau misal melalui jalur sungai,” ungkapnya pada Rabu (14/1).
Djati menekankan pentingnya perencanaan rencana kontingensi dalam situasi tanggap darurat untuk membantu daerah yang terisolasi. “Jadi, sebelum kejadian bencana, di dalam rencana contingency itu sudah ada skenario itu. Nah, misalnya jika ada rencana contingency dan ada kejadian bencana maka daerah-daerah yang terisolasi tentunya juga menjadi prioritas untuk mendapatkan pasokan logistik agar mereka sementara bisa bertahan hidup ya, terutama kebutuhan-kebutuhan dasar,” jelasnya.
Namun, Djati juga menyoroti bahwa besarnya dampak bencana banjir dan longsor di Sumatera menunjukkan bahwa rencana kontingensi dari pemerintah pusat dan daerah belum sepenuhnya berhasil. Menurutnya, hal ini mencerminkan lemahnya perencanaan konektivitas wilayah di daerah rawan bencana.
Lebih lanjut, Djati menjelaskan bahwa kerusakan infrastruktur dapat meningkatkan risiko bencana, terutama akibat pembukaan hutan yang mengurangi kemampuan lahan menyerap air hujan. “Jika terjadi hujan ekstrim, air hujan lebih banyak mengalir menjadi aliran pembukaan yang dapat memicu terjadinya erosi, longsor, banjir, dan banjir bandang. Termasuk juga bertambahnya kerusakan infrastruktur,” pungkasnya.




















