Headline.co.id, Jogja ~ Kematian Gajah Craig pada Sabtu (3/1) di Taman Nasional Amboseli membawa duka bagi masyarakat Kenya dan pemerhati satwa di seluruh dunia. Gajah jantan ini meninggal pada usia 54 tahun, menunjukkan keberhasilan Kenya dalam melindungi satwa dari ancaman pemburu. Craig, yang memiliki gading utuh dengan berat masing-masing 45 kg, menjadi simbol keberhasilan konservasi.
Prof. Dr. drh. Raden Wisnu Nurcahyo, Guru Besar UGM di bidang Parasitologi, menyampaikan rasa dukanya. Namun, ia juga mengapresiasi keberhasilan Kenya dalam mempertahankan habitat gajah. “Dengan gading yang panjang, hidupnya terlihat nyaman. Kita bisa berasumsi bahwa selama hidupnya dia tinggal di habitat yang nyaman, terlindungi, bebas dari ancaman, dan ketersediaan pakannya tercukupi,” ujar Wisnu pada Senin (19/1).
Wisnu menilai kematian Craig di usia 54 tahun sebagai bukti keberhasilan program konservasi gajah di Kenya. Taman Nasional Amboseli sering dikunjungi wisatawan, menunjukkan kepedulian terhadap satwa liar. Wisnu menekankan pentingnya menjaga satwa liar sebagai objek wisata tanpa eksploitasi. “Mereka hanya difoto atau diamati dari dekat. Ini harus menjadi catatan bagi pengelola wisata di Indonesia,” tambahnya.
Di Indonesia, Kementerian Kehutanan melalui Taman Nasional dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) telah memiliki program konservasi yang baik. Salah satunya adalah Pusat Latihan Gajah (PLG) di beberapa Taman Nasional seperti Way Kambas, Bukit Barisan Selatan, dan lainnya. PLG bertujuan menyelamatkan gajah dari perburuan dan konflik dengan manusia. “Namun, ancaman populasi gajah liar di alam masih menjadi masalah utama,” jelas Wisnu.
Habitat gajah di alam liar semakin menyusut akibat pembalakan liar, perburuan gading, penyakit, dan pembukaan lahan untuk perkebunan sawit serta pertambangan. Bencana banjir pada November lalu di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat juga mengancam habitat gajah. “Satu-satunya jalan adalah mereka hidup nyaman di Taman Nasional yang terjaga,” ungkapnya.
Wisnu menyebut rata-rata usia gajah di Indonesia sekitar 30-40 tahun, dengan tantangan utama pada kesehatan. Gajah di PLG bergantung pada pakan dari pengelola, dan biaya kesehatan sangat mahal. “Banyak gajah mati karena infeksi parasit kronis. Gajah muda juga rentan terkena virus EEHV,” sebutnya.
Menurut Wisnu, pemerintah perlu mendorong program konservasi gajah dengan melindungi habitat, manajemen pakan, pemeriksaan kesehatan rutin, dan sterilisasi dari ternak. “Untuk gajah di PLG, pakan harus terjamin. Bisa dengan menanam pakan atau digembalakan agar gajah bisa bergerak dan makan alami,” tambahnya.
Ia menekankan pentingnya menjaga lingkungan sebagai habitat asli gajah dengan menghentikan pembukaan lahan baru. Penegakan hukum harus tegas untuk mencegah penyusutan habitat dan bencana alam. “Siapa yang melanggar harus dihukum. Jika tidak, habitat gajah akan terus menyusut,” pesannya.




















