Headline.co.id, Palembang ~ Masjid Agung Palembang menjadi salah satu simbol kejayaan Kesultanan Palembang Darussalam yang masih bertahan hingga kini. Masjid bersejarah yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan 19 Ilir, Kecamatan Bukit Kecil, Kota Palembang, Sumatera Selatan ini telah berdiri sejak abad ke-18 dan memasuki usia 278 tahun. Dibangun oleh Sultan Mahmud Badaruddin I, masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai pusat ibadah, tetapi juga menjadi penanda perkembangan peradaban Islam dan identitas budaya masyarakat Palembang. Keberadaan masjid dengan arsitektur unik hasil akulturasi budaya lokal dan asing menjadikannya ikon religius sekaligus destinasi sejarah di jantung kota.
Sejarah Masjid Agung Palembang Dibangun Sejak 1738
Berdasarkan jurnal berjudul Perkembangan Masjid Sultan Mahmud Badarudin Jayo Wikramo Sebagai Warisan Budaya Lokal Tahun 1999–2003 karya Syarifuddin dkk, pembangunan Masjid Agung Palembang dimulai pada tahun 1738 M. Masjid ini juga dikenal dengan nama Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin, merujuk pada pendirinya, Sultan Mahmud Badaruddin I yang memerintah pada periode 1724–1750 M.
Bangunan masjid mulai digunakan secara resmi pada tahun 1748 M. Sejak saat itu, masjid menjadi pusat kegiatan keagamaan sekaligus simbol kemegahan Kesultanan Palembang Darussalam. Keberadaannya menandai kuatnya peran Islam dalam kehidupan sosial, budaya, dan pemerintahan masyarakat Palembang pada masa itu.
Tujuan Pembangunan Masjid sebagai Pusat Ibadah dan Simbol Kesultanan
Rencana pembangunan Masjid Agung Palembang telah dirancang sejak sekitar abad ke-18 dengan tujuan menghadirkan pusat ibadah representatif sekaligus lambang kejayaan kesultanan. Proses pembangunan melibatkan tenaga dari berbagai latar belakang, mulai dari masyarakat lokal hingga pekerja dari Tiongkok, Arab, dan Eropa.
Keterlibatan lintas budaya tersebut menjadikan masjid ini sebagai salah satu konstruksi monumental di Palembang pada masanya. Bangunan utama dengan atap tumpang didirikan pada masa Sultan Mahmud Badaruddin I, sementara menara masjid dibangun kemudian pada masa pemerintahan Sultan Ahmad Najamudin Adi Kesumo.
Sumber Dana Pembangunan dari Sumur Palembang di Bangka Belitung
Pendanaan pembangunan masjid diperoleh dari “Sumur Palembang”, yaitu sistem teknologi penambangan timah modern di wilayah Bangka Belitung yang menjadi sumber pemasukan utama Kesultanan Palembang Darussalam saat itu. Dana tersebut digunakan untuk membiayai material bangunan dan tenaga kerja.
Selain dukungan finansial dari kesultanan, masyarakat Sumatera Selatan juga berpartisipasi aktif melalui kegiatan kerja bakti. Setiap daerah turut menyumbangkan tenaga dan bahan bangunan sebagai wujud gotong royong dan kepedulian terhadap pembangunan pusat ibadah bersama.
Keunikan Arsitektur Masjid Agung Palembang Hasil Akulturasi Budaya
Masjid Agung Palembang dikenal memiliki arsitektur unik yang memadukan unsur budaya lokal, Eropa, dan Tiongkok. Atap masjid berbentuk atap tumpang bertingkat tiga menyerupai rumah limas khas Sumatera Selatan. Pada bagian ujung atap terdapat lengkungan yang kerap dikaitkan dengan pengaruh arsitektur Tiongkok, menyerupai atap klenteng.
Sejumlah ahli juga menilai bahwa bentuk bertingkat tersebut memiliki akar tradisi arsitektur Hindu-Jawa, sebagaimana terlihat pada bangunan candi dan kuil di Bali. Perpaduan ini mencerminkan akulturasi budaya yang kaya dan sarat makna simbolik.
Pada bagian interior dan ornamen, sebagian besar material kayu dihiasi ukiran tradisional Palembang yang dikenal sebagai lekeur. Motif-motif tersebut memperkuat identitas budaya lokal meskipun berpadu dengan gaya arsitektur asing.
Menara Masjid Bergaya Eropa Klasik Jadi Ikon Landmark Kota
Salah satu ciri khas Masjid Agung Palembang terletak pada menaranya yang bergaya Eropa klasik. Menara pertama dibangun pada tahun 1758 dengan bentuk segi enam dan tinggi sekitar 30 meter. Desainnya berbeda dari menara masjid pada umumnya di Indonesia.
Corak menara ini menyerupai menara klenteng dengan ujung atap yang sedikit melengkung. Setiap tingkat menara dilengkapi teras berpagar yang mengelilingi bangunan, menjadikannya landmark unik di pusat Kota Palembang.
Renovasi Masjid Tetap Menjaga Keaslian Bangunan Bersejarah
Masjid Agung Palembang telah mengalami renovasi besar dan perluasan sebanyak enam kali pada periode 1999–2003. Meski demikian, renovasi tidak menghilangkan bentuk awal bangunan, melainkan memberikan jarak antara bangunan lama dan bangunan baru.
Langkah ini dilakukan agar pondasi dan struktur asli masjid tetap terlihat dan tidak tertutup bangunan tambahan. Sebagian material bangunan kuno juga masih dipertahankan hingga kini, menunjukkan kekokohan konstruksi masjid yang telah berusia ratusan tahun.
Ornamen Masjid Mengandung Nilai Filosofis dan Religius
Berbagai ornamen dan ukiran di Masjid Agung Palembang tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetika, tetapi juga mengandung nilai filosofis dan religius. Ukiran bunga tropis pada jenjang mustaka serta motif tradisional Palembang melambangkan kesucian, keindahan, dan kejayaan Kesultanan Palembang di masa lampau.
Dalam restorasi tahun 1999, salah satu ciri penting yang dikembalikan adalah fungsi tiga penampil di sisi selatan, timur, dan barat masjid. Penampil ini berfungsi sebagai gerbang utama menuju ruang salat dan menjadi bagian dari upaya pelestarian bentuk asli bangunan.
Dengan sejarah panjang, keterlibatan lintas budaya, serta arsitektur yang tetap terjaga, Masjid Agung Palembang tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga simbol kejayaan Kesultanan Palembang Darussalam yang terus hidup dalam denyut kehidupan masyarakat hingga hari ini.




















