Headline.co.id, Jakarta ~ Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia menegaskan bahwa sikap Indonesia dalam menyikapi ketegangan Amerika Serikat dan Venezuela didasarkan pada penghormatan terhadap hukum internasional, prinsip universal Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), serta hukum humaniter internasional. Pernyataan ini disampaikan oleh Juru Bicara Kemlu RI, Yvonne Mewengkang, dalam keterangan resmi pada Kamis (8/1/2026).
Yvonne Mewengkang menyatakan, “Posisi Indonesia itu jelas dan berbasis prinsip. Kita menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap setiap tindakan yang melibatkan ancaman atau penggunaan kekuatan.” Pernyataan ini muncul sebagai tanggapan atas kritik terhadap pernyataan resmi Indonesia yang tidak menyebutkan nama Amerika Serikat saat merespons operasi militer yang menyebabkan penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores, oleh pasukan militer AS pada awal Januari 2026.
Indonesia menyerukan kepada semua pihak untuk mengedepankan upaya deeskalasi, dialog, dan perlindungan warga sipil. Fokus Indonesia tetap pada norma internasional, stabilitas, serta keselamatan dan keamanan warga negara Indonesia (WNI) di Venezuela. Pelaksana Tugas Direktur Pelindungan WNI Kemlu RI, Heni Hamidah, menyatakan bahwa hingga saat ini Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Caracas belum merencanakan evakuasi terhadap 37 WNI di Venezuela karena situasi dinilai berangsur stabil dan normal.
Meskipun demikian, KBRI Caracas telah menyiapkan rencana kontinjensi yang dapat dilaksanakan segera jika kondisi darurat meningkat. Heni Hamidah menambahkan bahwa KBRI Caracas terus berkomunikasi dengan WNI dan memantau situasi setempat, dengan harapan kondisi semakin kondusif.
Sebelumnya, serangan militer Amerika Serikat ke Venezuela beberapa waktu lalu menewaskan 100 orang, menurut keterangan Kementerian Dalam Negeri Venezuela pada Rabu (7/1/2026). Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores, mengalami luka-luka dalam serangan tersebut, seperti yang disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri Venezuela Diosdado Cabello. Maduro dan istrinya diculik dalam operasi militer besar-besaran AS di Venezuela pada Sabtu (3/1/2026) dini hari dan diterbangkan ke New York.




















