Pasar Global Berguguran di Tengah Kekhawatiran Resesi AS
Jakarta, Headline.co.id – Pasar keuangan Asia dan dunia ambruk pada Senin (5/8/2024) seiring meningkatnya kekhawatiran akan datangnya resesi di Amerika Serikat (AS). Data ekonomi AS yang terus memburuk telah memicu kecemasan investor.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal perdagangan hari ini anjlok 1,75%. Bursa Asia lainnya mengikuti tren yang sama. Indeks Nikkei Jepang turun 5,15%, Straits Times Singapura merosot 3%, Hang Seng turun 0,9%, dan Shanghai SSEC melemah 0,55%.
Kejatuhan bursa Asia berlanjut setelah akhir pekan lalu, di mana mayoritas pasar juga mengalami penurunan. Bursa AS dan Eropa juga terdampak dalam pekan terakhir.
Data Ekonomi AS Memburuk
Kejatuhan pasar saham global dipicu oleh kekhawatiran investor akan ancaman resesi di AS, yang diindikasikan oleh data ekonomi yang memburuk dengan cepat.
* Pengangguran Meningkat: Tingkat pengangguran AS melonjak ke 4,3% pada Juli 2024, tertinggi sejak Oktober 2021.
* Penambahan Lapangan Kerja Melambat: Penambahan tenaga kerja sektor non-pertanian (non-farm payrolls) hanya mencapai 114.000 pada Juli 2024, jauh di bawah ekspektasi.
* Klaim Pengangguran Naik: Klaim pengangguran naik ke 249.000 pada minggu yang berakhir 27 Juli 2024, melampaui perkiraan.
* Manufaktur Jeblok: Indeks PMI Manufaktur S&P Global AS turun ke 49,6 pada Juli 2024, menunjukkan penurunan kondisi bisnis di sektor manufaktur.
* Sentimen Konsumen Melemah: Indeks sentimen kepercayaan konsumen Universitas Michigan turun ke 66,4 pada Juli 2024, terendah dalam delapan bulan.
Peningkatan pengangguran dan rendahnya non-farm payrolls menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja AS telah mendingin karena suku bunga tinggi. Namun, kondisi tersebut juga meningkatkan kekhawatiran resesi.
The Fed Siap Pangkas Suku Bunga
Pelaku pasar memperkirakan kondisi tenaga kerja yang melemah pada Juli akan memberikan ruang bagi bank sentral AS (The Fed) untuk memangkas suku bunga. The Fed mempertahankan suku bunga pada level 5,25-5,50% pada pertemuan terakhirnya, tetapi memberikan sinyal kuat untuk memangkas suku bunga pada September.
“Peningkatan pesimisme ekonomi ke depan menjadi pertanda buruk bagi pasar saham global,” kata Russ Mould, direktur investasi di AJ Bell. “Pemotongan suku bunga kini lebih mendesak karena adanya ancaman resesi di AS.”
Ekonomi AS masih tumbuh 2,8% (tahun ke tahun) pada kuartal II-2024. Namun, pertumbuhan tersebut dapat melambat drastis jika kondisi tenaga kerja memburuk dan The Fed belum memangkas suku bunga.
sumber: https://www.cnbcindonesia.com/mymoney/20240805095128-72-560337/amerika-terancam-resesi-5-fakta-ini-buat-dunia-gentar.






















