Headline.co.id, Jakarta ~ Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memperkuat empat fondasi pendidikan dalam dua tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Kebijakan tersebut mencakup infrastruktur fisik, pedagogis, budaya, dan manajerial. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti memaparkan capaian serta arah kebijakan itu dalam acara 2 Tahun Prabowo-Gibran: Rapor untuk Rakyat di Jakarta, Rabu (28/10/2026). Penguatan dilakukan untuk meningkatkan mutu pembelajaran, kualitas sumber daya manusia, serta akses masyarakat terhadap layanan pendidikan.
Dalam acara tersebut, Abdul Mu’ti juga menerima Piala Adripraya dari Garuda TV. Ia menjelaskan, pembangunan pendidikan tidak hanya berfokus pada perbaikan sarana sekolah, tetapi juga mencakup peningkatan kompetensi guru, pembentukan karakter murid, dan pembenahan tata kelola pendidikan.
Revitalisasi Sekolah dan Digitalisasi Pembelajaran
Fondasi pertama yang diperkuat Kemendikdasmen adalah infrastruktur fisik. Program Revitalisasi Satuan Pendidikan dan Digitalisasi Pembelajaran dijalankan untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman dan nyaman sekaligus mendukung pemanfaatan teknologi di sekolah.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Sepanjang 2025–2026, lebih dari 59.000 satuan pendidikan telah direvitalisasi. Kemendikdasmen juga mendistribusikan lebih dari 300.000 Interactive Flat Panel (IFP) ke sekolah-sekolah di berbagai wilayah Indonesia.
“Lebih dari 59 ribu satuan pendidikan yang kita revitalisasi di tahun 2025 dan 2026. Selain itu, sudah lebih dari 300 ribu Interactive Flat Panel yang kita distribusikan ke sekolah-sekolah di seluruh Indonesia,” ujar Abdul Mu’ti.
Penyediaan sarana tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap proses pembelajaran. Namun, pemanfaatan teknologi tetap membutuhkan kemampuan guru agar perangkat yang tersedia dapat memberikan nilai tambah bagi murid.
Peningkatan Kualifikasi dan Kesejahteraan Guru
Fondasi kedua ialah infrastruktur pedagogis yang berfokus pada kualitas guru dan proses pembelajaran. Kemendikdasmen membuka kesempatan bagi guru yang belum memiliki kualifikasi diploma empat (D4) atau sarjana (S1) untuk melanjutkan pendidikan melalui program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL).
Peserta program RPL memperoleh beasiswa sebesar Rp3 juta per orang. Pada tahun pertama, sebanyak 12.500 guru telah menyelesaikan program tersebut. Adapun RPL gelombang kedua pada tahun kedua disiapkan untuk lebih dari 50.000 guru.
Kemendikdasmen juga menyediakan lima jenis pelatihan bagi pendidik, yakni pembelajaran mendalam, bimbingan dan konseling, koding dan kecerdasan artifisial, sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM), serta bahasa Inggris.
Menurut Abdul Mu’ti, pelatihan tersebut dibiayai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sebagian kegiatan juga dapat didukung dengan dana bantuan operasional satuan pendidikan sesuai ketentuan yang berlaku.
Dukungan terhadap guru turut diberikan melalui peningkatan tunjangan dan insentif. Tunjangan guru non-ASN naik dari Rp1,5 juta menjadi Rp2 juta. Sementara itu, insentif bagi guru yang belum memiliki sertifikat pendidik meningkat dari Rp300.000 menjadi Rp400.000 per bulan. Kedua bantuan tersebut disalurkan langsung kepada guru.
Penguatan Karakter dan Pengembangan Bakat Murid
Kemendikdasmen menempatkan pembentukan karakter sebagai fondasi ketiga melalui infrastruktur budaya. Kebijakan yang didorong meliputi 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, kegiatan Pagi Ceria, serta pengembangan bakat dan minat murid melalui kegiatan ekstrakurikuler.
Salah satu kebijakan yang disampaikan Abdul Mu’ti adalah menjadikan Pramuka sebagai kegiatan ekstrakurikuler wajib. Sekolah juga didorong menyediakan ruang yang lebih luas agar murid dapat mengembangkan potensi sesuai minat dan bakatnya.
“Kami memberikan kesempatan bagi para murid untuk mengembangkan bakat dan minatnya melalui sebanyak mungkin kegiatan ekstrakurikuler,” tuturnya.
Melalui kegiatan tersebut, pendidikan karakter diharapkan tidak hanya berlangsung melalui materi pembelajaran di kelas. Aktivitas di sekolah juga diarahkan untuk membangun kedisiplinan, tanggung jawab, kerja sama, dan kemampuan sosial murid.
Penyederhanaan Tata Kelola Pendidikan
Fondasi keempat yang diperkuat adalah infrastruktur manajerial. Aspek ini diarahkan untuk membenahi tata kelola layanan pendidikan sekaligus mengurangi beban administratif yang harus ditanggung guru.
Kemendikdasmen berupaya menyederhanakan birokrasi, termasuk mengurangi kewajiban pelaporan administratif guru. Dengan demikian, pendidik diharapkan dapat menggunakan lebih banyak waktu untuk mendampingi murid.
“Kami juga berusaha untuk membangun birokrasi yang tidak birokratis sebagaimana diharapkan Bapak Presiden. Kami juga berusaha agar guru tidak banyak terlibat dalam pelaporan yang administratif, tetapi mereka dapat memberikan laporan cukup satu tahun sekali,” ungkap Abdul Mu’ti.
Selain penguatan empat fondasi pendidikan, Kemendikdasmen melaksanakan Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang kini memasuki tahun kedua. Pemerintah juga menyiapkan kebijakan lanjutan mengenai pengelolaan pembelajaran, termasuk evaluasi kenaikan kelas dan penerapan penjurusan murid mulai kelas XI pada jenjang pendidikan menengah atas.
Abdul Mu’ti menegaskan, penguatan empat fondasi tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan Asta Cita keempat dan tindak lanjut arahan Presiden untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan.
“Kami akan terus melakukan akselerasi peningkatan mutu pendidikan dengan berbagai layanan yang semakin dirasakan oleh masyarakat, memberikan layanan pendidikan yang accessible, flexible, dan affordable,” pungkasnya.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.

















