Headline.co.id, Lombok Tengah ~ Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana meninjau proses rehabilitasi Desa Adat Sade di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), Minggu (11/10/2026). Kunjungan itu dilakukan setelah kebakaran pada 22 Agustus 2026 yang berdampak terhadap masyarakat dan aktivitas pariwisata di kawasan tersebut. Pemerintah memastikan pemulihan Desa Adat Sade tidak hanya mencakup pembangunan kembali fasilitas, tetapi juga pelestarian budaya, peningkatan keselamatan, dan pemulihan ekonomi warga.
Widiyanti mengatakan rehabilitasi Desa Adat Sade harus menjaga keaslian arsitektur dan nilai-nilai adat masyarakat Sasak. Menurut dia, kawasan tersebut perlu dibangun kembali agar lebih aman dan tangguh tanpa menghilangkan identitas budayanya.
“Prinsip kita jelas, yaitu membangun kembali Desa Adat Sade agar lebih aman dan lebih tangguh, tanpa kehilangan keaslian arsitektur serta nilai-nilai adat yang menjadi identitasnya,” kata Widiyanti.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Rekonstruksi Desa Adat Sade Dimulai sejak 3 September
Proses rekonstruksi Desa Adat Sade dimulai pada 3 September 2026. Tahap awal ditandai ritual adat Nyemulak atau Tanjak Teken sebagai simbol peletakan batu pertama pembangunan kembali kawasan bersama para mitra.
Pembangunan awal diprioritaskan pada fasilitas yang menunjang kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Fasilitas tersebut meliputi masjid, sekenam sebagai ruang berkumpul, museum semipermanen, serta kamar mandi dan toilet yang layak.
Rekonstruksi selanjutnya akan dilakukan secara menyeluruh dengan mempertahankan karakter arsitektur rumah adat, tata ruang tradisional, dan pola kehidupan masyarakat Sasak yang menjadi kekhasan Desa Adat Sade.
Kementerian Pariwisata juga mendorong integrasi sistem perlindungan terhadap risiko kebakaran dan kesiapsiagaan keadaan darurat. Aspek tersebut mencakup sistem proteksi kebakaran, jalur evakuasi yang jelas, pasokan air, alat pemadam kebakaran, perbaikan sanitasi, serta infrastruktur pendukung penanganan keadaan darurat.
“Namun, bagi kita, angka tersebut tidak hanya menggambarkan kerugian fisik. Ada kehidupan masyarakat, aktivitas ekonomi, dan warisan budaya yang harus kita pulihkan secara bersamaan,” ujar Widiyanti.
Menurut dia, pelestarian budaya harus berjalan beriringan dengan peningkatan keselamatan masyarakat dan wisatawan. Dengan demikian, Desa Adat Sade diharapkan kembali menjadi destinasi wisata budaya yang menarik sekaligus lingkungan yang aman, tangguh, dan nyaman.
Kemenpar Salurkan Bantuan Rp817,5 Juta
Selain memulihkan infrastruktur, Kementerian Pariwisata memberikan dukungan untuk menjaga mata pencaharian warga selama proses rehabilitasi dan rekonstruksi berlangsung.
Kemenpar telah menyalurkan bantuan modal usaha dan peralatan kerja dengan nilai keseluruhan mencapai Rp817,5 juta. Bantuan itu terdiri atas 15 unit alat tenun gedogan, modal kerja bagi 69 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), 70 paket bahan baku tenun, serta 43 paket peralatan kerajinan nontenun.
Bantuan tersebut diharapkan membuat para pengrajin dan pelaku UMKM di Desa Adat Sade dapat kembali berproduksi, memasarkan kerajinan, dan memperoleh penghasilan harian tanpa harus menunggu seluruh pembangunan fisik selesai.
Dukungan itu juga ditujukan untuk mempertahankan keterampilan tradisional masyarakat Sasak. Kerajinan tenun dinilai tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga merepresentasikan identitas budaya dan pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
Saat berdialog dengan salah satu penenun Desa Sade, Ina Aris, Widiyanti menerima harapan agar produk tenun lokal semakin dikenal wisatawan.
“Motif tenun Sade punya ciri khas tersendiri. Saya berharap, wisatawan yang berkunjung ke Desa Sade tidak hanya menikmati keindahan desa, tetapi juga mengenal proses pembuatan tenun dan membeli produk lokal. Dengan begitu, tenun Sade semakin dikenal, tetap lestari, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” kata Ina.
Widiyanti menegaskan masyarakat adat Sade harus menjadi pelaku utama dalam setiap tahapan pemulihan. Pelibatan warga diperlukan agar penataan kawasan menghormati nilai adat, mempertahankan kearifan lokal, dan menjawab kebutuhan masyarakat.
Pelatihan dan Peluncuran Kembali Disiapkan
Dalam kunjungan tersebut, Widiyanti turut meninjau Museum Sade bersama kurator Museum NTB dan mencoba fasilitas virtual tour yang didukung Politeknik Pariwisata Lombok. Pemanfaatan teknologi digital itu ditujukan untuk memperkaya pengalaman wisatawan, memperluas akses terhadap warisan budaya Sasak, serta mendukung pelestarian budaya lokal.
Kemenpar juga menyiapkan program pelatihan bagi masyarakat lokal. Program tersebut mencakup peningkatan kompetensi pemandu wisata, penerapan standar keselamatan dan pelayanan, pembaruan katalog produk kerajinan, penguatan identitas dan citra produk, serta pemasaran digital.
Selain itu, Kemenpar mempersiapkan peluncuran kembali atau relaunching Desa Adat Sade sebagai destinasi wisata budaya. Peluncuran itu akan dilakukan dengan memastikan kesiapan masyarakat, fasilitas pendukung, dan standar keselamatan agar wisatawan dapat berkunjung dengan aman dan nyaman.
Kepala Dusun Adat Sade, Endap, mengapresiasi kunjungan dan dukungan pemerintah selama proses pemulihan.
“Bagi kami, Sade bukan sekadar destinasi wisata, tetapi rumah bagi budaya dan adat istiadat warisan leluhur yang harus terus kami jaga. Kami berharap dukungan dari Ibu Menteri dan seluruh pihak dapat mempercepat pemulihan Sade agar masyarakat kembali beraktivitas dan tradisi kami tetap lestari,” kata Endap.
Dalam kunjungan itu, Widiyanti didampingi Sekretaris Kementerian Bayu Aji, Plt. Deputi Bidang Pengembangan Penyelenggaraan Kegiatan (Events) Hafiz A. Rifai, Asisten Deputi Pengembangan Amenitas dan Aksesibilitas Wilayah II Marhen Dwi Yono, serta Direktur Politeknik Pariwisata Lombok Ali Muhtasom.
Turut hadir Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono, Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal, Wakil Gubernur NTB Indah Damayanti, Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena, jajaran Pemerintah Provinsi NTB, perwakilan Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, dan PT Amerta Indah Otsuka sebagai mitra strategis.
Widiyanti mengatakan kolaborasi pemerintah, masyarakat adat, mitra pembangunan, dan seluruh pemangku kepentingan perlu dilanjutkan hingga pemulihan memberikan manfaat nyata bagi warga.
“Ukuran keberhasilan kita bukan hanya seberapa banyak bangunan yang kembali berdiri, melainkan saat masyarakat kembali berdaya, budaya tetap hidup, ekonomi bergerak, dan wisatawan dapat berkunjung dengan aman,” ucapnya.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.




















