Headline.co.id, Tangerang ~ Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mendorong penerapan layanan bandara berbasis biometrik melalui konsep Seamless Travel Journey untuk membuat perjalanan penumpang lebih mudah, cepat, nyaman, dan terintegrasi. Konsep ini dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) Implementasi Seamless Travel Journey Berbasis Biometrik di Tangerang pada Kamis (8/10/2026). Teknologi seperti pengenalan wajah diharapkan dapat mengurangi proses pemeriksaan dan pelayanan yang berulang di berbagai tahapan perjalanan penumpang. Namun, penerapannya tetap harus memenuhi standar keamanan penerbangan, perlindungan data pribadi, dan keamanan informasi.
Sekretaris Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Achmad Setiyo Prabowo mengatakan, pemanfaatan teknologi dalam layanan bandara harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat tanpa mengurangi keselamatan dan keamanan penerbangan.
“Seamless bukan berarti mengurangi keamanan. Justru teknologi harus kita manfaatkan untuk memberikan pelayanan yang lebih mudah dan efisien, dengan tetap menjaga standar keamanan penerbangan serta melindungi data pribadi masyarakat,” ujar Achmad dalam FGD tersebut.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Biometrik Ditujukan Mengurangi Proses Berulang
Achmad menjelaskan, teknologi biometrik diharapkan dapat menyederhanakan perjalanan penumpang dengan mengurangi pemeriksaan atau pelayanan yang dilakukan secara berulang. Dengan demikian, penumpang dapat melewati sejumlah tahapan layanan bandara secara lebih efisien.
“Yang paling penting adalah bagaimana teknologi ini memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Penumpang tidak perlu melalui proses yang berulang, tetapi di sisi lain seluruh aspek keamanan, perlindungan data, dan ketentuan yang berlaku tetap harus dipenuhi,” jelasnya.
Menurut Achmad, Seamless Travel Journey tidak hanya berkaitan dengan penyediaan perangkat teknologi. Penerapannya juga harus didukung tata kelola yang baik, keamanan informasi, perlindungan data pribadi, serta pembagian tanggung jawab yang jelas di pihak-pihak yang terlibat.
Karena itu, pemanfaatan biometrik perlu dirancang sebagai bagian dari keterpaduan pelayanan publik di bandar udara, bukan sekadar penerapan teknologi pengenalan wajah.
FGD tersebut diselenggarakan Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah I Kelas Utama. Forum dibuka Achmad dan dihadiri perwakilan pemerintah, penyelenggara bandar udara, maskapai penerbangan, serta asosiasi pengguna jasa.
Layanan Bandara Berbasis Biometrik Perlu Kolaborasi
Kepala Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah I Kelas Utama Putu Eka Cahyadhi mengatakan, peningkatan kualitas layanan penumpang membutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak.
Menurut Putu, perjalanan penumpang di bandar udara melibatkan sejumlah instansi dan penyelenggara layanan. Keterpaduan antarpihak diperlukan agar proses perjalanan dapat berlangsung lebih sederhana dari satu tahapan ke tahapan berikutnya.
“Seamless Travel Journey bukan hanya tentang teknologi biometrik, tetapi bagaimana seluruh layanan di bandar udara dapat berjalan secara lebih terpadu. Karena itu, diperlukan kolaborasi agar teknologi yang diterapkan benar-benar memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi masyarakat,” ujar Putu.
Ia mengatakan, penerapan konsep Seamless Travel Journey akan dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan ketentuan yang berlaku. Melalui FGD, pemerintah dan para pemangku kepentingan berupaya membangun pemahaman serta komitmen bersama mengenai tata kelola penerapan teknologi biometrik dalam layanan bandar udara.
“Harapannya, penumpang dapat merasakan proses perjalanan yang lebih simple dan nyaman, sementara keamanan penerbangan, perlindungan data pribadi, dan kualitas pelayanan tetap menjadi prioritas,” tambahnya.
Kebutuhan Penumpang Menjadi Fokus
Penerapan Seamless Travel Journey diharapkan dapat memperkuat pelayanan publik di sektor transportasi udara dengan menempatkan kebutuhan penumpang sebagai salah satu fokus utama.
Pemanfaatan biometrik dapat menjadi bagian dari upaya mempercepat pelayanan, mengurangi tahapan yang berulang, dan menciptakan pengalaman perjalanan yang lebih nyaman. Meski demikian, teknologi tersebut tetap harus diterapkan sesuai standar keamanan penerbangan dan ketentuan perlindungan data pribadi.
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara terus mendorong kolaborasi dan inovasi agar transformasi digital di bandar udara tidak berhenti pada kehadiran teknologi baru. Penerapannya diharapkan menghasilkan layanan yang lebih mudah, aman, nyaman, dan terintegrasi bagi masyarakat.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.


















