Headline.co.id ~ Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto mengajak lulusan Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin (UIN SMH) Banten menciptakan lapangan kerja di desa, bukan hanya mencari pekerjaan. Ajakan itu disampaikan dalam Orasi Ilmiah pada wisuda sarjana dan pascasarjana UIN SMH Banten Tahun 2026 di Convention Hall and Business Center UIN SMH Banten, Sabtu (8/8/2026). Yandri menilai potensi ekonomi desa di Banten dapat dikembangkan melalui berbagai program pemerintah, seperti desa ekspor, desa wisata, BUM Desa, desa tematik, dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Ia mendorong lulusan memanfaatkan program tersebut melalui pengembangan usaha dan kolaborasi dengan perguruan tinggi.
Menurut Yandri, desa memiliki peluang besar menjadi pusat pertumbuhan ekonomi seiring semakin kuatnya keberpihakan pemerintah terhadap pembangunan dari desa dan dari bawah. Posisi desa, kata dia, semakin strategis dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto melalui Asta Cita keenam yang menekankan pemerataan ekonomi serta pemberantasan kemiskinan.
Lapangan Kerja di Desa Terbuka melalui Berbagai Program
Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) menjabarkan Asta Cita tersebut melalui 12 Aksi Bangun Desa Bangun Indonesia. Program itu mencakup pengembangan sejumlah potensi desa, mulai dari BUM Desa, desa wisata, desa tematik hingga desa ekspor.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Yandri menyebut program tersebut membuka ruang bagi mahasiswa dan alumni UIN SMH Banten untuk terlibat dalam pembangunan desa. Salah satu peluangnya berada di sektor desa ekspor yang menurut dia telah menunjukkan perkembangan.
“Kita ingin baik mahasiswa UIN Banten maupun alumninya bisa berkontribusi di 12 aksi Bangun Desa Bangun Indonesia ini. Salah satunya ada desa ekspor yang hari ini sudah ada 400 desa ekspor yang kami luncurkan dengan transaksi hampir mencapai Rp1 triliun,” ujar Yandri.
Selain desa ekspor, Kemendes PDT mendorong pengembangan desa wisata dari berbagai desa rintisan di Banten. Potensi lain dapat dikembangkan melalui desa tematik sesuai keunggulan setiap wilayah.
Yandri mencontohkan desa ayam petelur, desa pedaging, desa ikan nila, desa ikan lele, desa jagung, desa bawang merah, hingga desa jahe. Pengembangan berbasis keunggulan wilayah tersebut dinilai dapat menjadi pilihan bagi lulusan untuk membangun kegiatan ekonomi sekaligus membuka lapangan kerja di desa.
Serapan Tenaga Kerja dari Ekonomi Desa
Yandri meminta para sarjana tidak menjadikan ijazah semata-mata sebagai modal untuk melamar pekerjaan. Menurut dia, menjadi pegawai negeri sipil (PNS) atau melamar pekerjaan tetap merupakan pilihan, tetapi lulusan juga perlu melihat peluang untuk merekrut tenaga kerja.
“Jangan hanya berpikir bagaimana mencari pekerjaan. Jadi PNS itu bagus, luar biasa, melamar kerja itu boleh, tidak ada masalah. Tapi bagaimana kita mengubah mindset kita, cara berpikir kita, bahwa sarjana itu tidak mesti ijazahnya hanya untuk melamar pekerjaan, tapi dia bisa menghadirkan pekerjaan dalam artian merekrut tenaga kerja,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, berbagai sektor ekonomi desa memiliki kemampuan menyerap tenaga kerja. Desa ekspor, misalnya, berpotensi merekrut sekitar 10 hingga 15 orang. BUM Desa dapat menyerap tujuh hingga 10 orang, sedangkan KDMP juga berpotensi menyediakan lapangan kerja bagi tujuh hingga 10 orang.
Sementara itu, desa wisata memiliki potensi penyerapan tenaga kerja yang lebih besar. Apabila dikelola secara optimal, sektor tersebut bahkan dapat menyerap sekitar 100 orang.
Yandri menegaskan, pengembangan berbagai program itu tidak hanya berpotensi memenuhi kebutuhan ekonomi masyarakat lokal. Program tersebut juga dapat menghasilkan pendapatan melalui pasar ekspor.
Kolaborasi Kemendes PDT dan UIN SMH Banten
Dalam kesempatan tersebut, Yandri mengajak civitas akademika UIN SMH Banten mengintegrasikan program pembangunan desa dengan Tri Dharma perguruan tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Ia menyebut terdapat lebih dari 1.200 desa di Banten yang dapat menjadi ruang kolaborasi perguruan tinggi dan program pembangunan desa. Salah satu program yang disebut ialah Swasembada Ekonomi Hijau dan Ketahanan Pangan Terintegrasi (SEHATI), selain program-program lain dalam 12 Aksi Bangun Desa Bangun Indonesia.
“Dari 1.200 lebih desa di Banten, saya kira dengan program kami ada program Swasembada Ekonomi Hijau dan Ketahanan Pangan Terintegrasi (SEHATI), dan juga program-program yang lain dari 12 aksi Bangun Desa Bangun Indonesia, kami bisa memadu-padankan dengan Tri Dharma perguruan tinggi UIN Banten,” jelasnya.
Kolaborasi Kemendes PDT dan UIN SMH Banten kemudian diperkuat melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU). Kerja sama tersebut mencakup pertukaran dan pemanfaatan data serta informasi, pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan sumber daya manusia, penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pemberdayaan masyarakat.
Yandri dalam kegiatan itu didampingi Sekjen Kemendes PDT Taufik Madjid, Dirjen PEID Kemendes Tabrani, Dirjen PPDT Samsul Widodo, dan Kepala BPSDM Kemendes Agustomi Masik.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.



















