Headline.co.id, Malang ~ Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) VI 2026 di Kabupaten Malang mendapat pembekalan kurikulum cinta dan pentingnya menjaga alam berbasis kajian kitab kuning. Pembekalan tersebut disampaikan dalam Seminar dan Lokakarya Kurikulum Berbasis Cinta yang digelar Kementerian Agama di Pondok Pesantren An-Nur II Bululawang, Malang. Kegiatan ini ditujukan agar nilai-nilai pesantren tidak berhenti pada pemahaman, tetapi diterapkan dalam kebiasaan santri dan tata kelola pondok. Direktur Bina Dakwah Pesantren dan Pendidikan Nonformal, Mahrus, menekankan penerapan kurikulum cinta dan ekoteologi harus dilakukan secara berkelanjutan.
Kurikulum Cinta Harus Berlanjut di Pesantren
Mahrus mengatakan kurikulum berbasis cinta dan ekoteologi yang terintegrasi dengan kitab kuning tidak boleh hanya menjadi materi dalam kegiatan seminar. Menurut dia, penerapannya harus masuk ke pengajian sehari-hari, kebiasaan santri, hingga pengelolaan pesantren.
“Kurikulum berbasis cinta dan ekoteologi yang terintegrasi dengan kitab kuning perlu berkelanjutan. Ia tidak cukup selesai di ruang seminar, tetapi harus hidup dalam pengajian sehari-hari, dalam kebiasaan santri, dan dalam tata kelola pondok,” ujar Mahrus, Sabtu (3/10/2026).
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Ia juga menilai pesantren tidak perlu mencari rujukan dari luar tradisinya untuk mengajarkan kepedulian terhadap lingkungan. Nilai tersebut, kata Mahrus, telah terdapat dalam kitab-kitab yang dipelajari santri.
“Kitab-kitab yang dikaji santri setiap hari sudah mengajarkan cara memperlakukan air, tanah, dan sesama makhluk. Tugas kita adalah memastikan nilai itu terus diajarkan dan diamalkan dari satu angkatan santri ke angkatan berikutnya,” katanya.
Panca Cinta Menjadi Dasar Pembelajaran
Guru Besar pada UIN Malang, M. Faisol Fatawi, yang hadir sebagai narasumber, menyampaikan materi bertajuk “Merawat Cinta dalam Setiap Halaman Kitab Kuning”. Ia menjelaskan, Kurikulum Cinta bertumpu pada Panca Cinta, yakni cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, cinta ilmu, cinta diri dan sesama, cinta lingkungan, serta cinta tanah air.
“Panca Cinta bukan pelajaran baru, melainkan jantung pembelajaran. Ia adalah nilai dan pendekatan yang meresapi seluruh kajian kitab kuning,” kata Faisol.
Menurut Faisol, ilmu yang hanya berhenti pada pemahaman belum tentu terwujud dalam perilaku. Ia menyebut intoleransi, perundungan, kekerasan, dan kerusakan lingkungan sebagai persoalan yang menunjukkan adanya krisis adab.
Persoalan tersebut, lanjut dia, tidak dapat dijawab hanya dengan menambah mata pelajaran. Pesantren dinilai memiliki modal keilmuan untuk menghubungkan pengetahuan dengan pembentukan akhlak.
“Pesantren memiliki modal besar. Kita hanya perlu menyambungkan kembali sanad keilmuan dengan sanad akhlak,” ujarnya.
Kajian Fikih Jadi Pintu Masuk Kesadaran Ekologi
Dalam konteks cinta alam, Faisol menempatkan kepedulian terhadap lingkungan sejajar dengan hifzh al-bi’ah atau menjaga lingkungan. Konsep tersebut merupakan pengembangan maqashid syariah oleh ulama kontemporer.
Ia mengatakan pintu masuk penerapan nilai tersebut dapat dimulai dari kajian fikih yang sejak awal dipelajari santri. Salah satunya melalui pembahasan bab thaharah dalam kitab Fathul Qarib.
“Manusia adalah khalifah. Kajian bab thaharah dalam Fathul Qarib menjadi pintu masuk kesadaran ekologi. Misalnya, melalui larangan israf atau berlebihan dalam menggunakan air,” jelasnya.
Penerapannya dalam kehidupan sehari-hari dapat dilakukan melalui kebiasaan menjaga kebersihan dan menghemat air di lingkungan pondok. Dengan demikian, pemahaman dalam kajian kitab diarahkan menjadi tindakan yang dapat dilakukan santri.
Refleksi Kajian Diarahkan pada Aksi Nyata
Untuk mendukung penerapan harian, Faisol menawarkan siklus refleksi pada akhir kajian kitab. Siklus tersebut dilakukan melalui tiga pertanyaan: maqashid apa yang dijaga oleh hukum dalam bab yang dikaji, cinta apa yang harus tumbuh agar santri menaatinya dengan ikhlas, dan satu aksi nyata apa yang dapat dilakukan pada pekan tersebut.
Pada pembahasan bab thaharah, refleksi itu dapat diwujudkan melalui gerakan hemat air dan piket pondok. Pola tersebut menghubungkan tujuan syariat, pembentukan sikap, dan tindakan nyata di lingkungan pesantren.
“Ilmu tanpa cinta melahirkan kesombongan, cinta tanpa ilmu melahirkan kebutaan. Maqashid adalah tujuan syariat, cinta adalah cara menumbuhkannya dalam hati. Di titik inilah pesantren hadir memadukan keduanya,” pungkas Faisol.
Melalui seminar dan lokakarya tersebut, peserta santri pramuka diharapkan mampu mengintegrasikan kurikulum berbasis cinta dengan kajian kitab kuning. Kementerian Agama berharap hasil pendalaman itu menjadi pijakan bagi penerapan kurikulum berbasis cinta dan ekoteologi secara berkelanjutan di pesantren.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.

















