Headline.co.id, Jakarta ~ Keamanan makanan dalam program Makanan Bergizi Gratis (MBG) perlu dipastikan sebelum dikonsumsi siswa di lingkungan sekolah. Ahli toksikologi Dr. dr. Tri Maharani meminta guru dan pihak yang menangani makanan memeriksa kondisi makanan secara visual dan organoleptik. Hal itu disampaikan dalam pemaparan literasi gizi dan keamanan pangan yang digelar Badan Gizi Nasional pada Rabu (12/8/2026) di Jakarta. Pemeriksaan dilakukan untuk mengenali makanan yang rusak atau terkontaminasi serta mencegahnya didistribusikan kepada siswa.
Menurut Tri, pemeriksaan awal dapat dilakukan dengan memperhatikan karakteristik makanan melalui indera. Sejumlah parameter yang perlu dicek meliputi warna, keberadaan jamur atau bercak abnormal, benda asing, kondisi fisik, serta aroma makanan.
Warna dan Aroma Makanan MBG Perlu Diperiksa
Warna makanan harus sesuai dengan jenisnya dan tidak mengalami perubahan yang tidak normal. Tri mencontohkan sayuran hijau yang perlu diperiksa untuk memastikan warnanya tetap hijau, bukan berubah menjadi hitam atau kecokelatan.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Misalnya, kalau itu adalah sayur hijau, apakah warnanya hijau, atau sudah jadi hitam, atau kecokelatan,” ujarnya.
Pemeriksaan juga perlu dilakukan untuk memastikan makanan tidak ditumbuhi jamur atau memiliki bercak yang tidak normal. Hal tersebut berlaku untuk berbagai jenis makanan, termasuk sayuran, tempe, telur, dan daging.
Selain itu, makanan harus terbebas dari benda asing, kotoran, dan serangga. Kondisi fisik makanan juga perlu diperhatikan, termasuk kemungkinan makanan menjadi berlendir atau mengalami perubahan bentuk yang tidak semestinya.
Aroma menjadi parameter lain yang tidak boleh diabaikan. Makanan dengan aroma busuk, asam, tengik, atau seperti amonia perlu diwaspadai karena menunjukkan adanya perubahan yang tidak normal. Tanda fermentasi yang seharusnya tidak terdapat pada makanan juga perlu diperhatikan.
Tri mengingatkan agar makanan yang dicurigai rusak tidak dicicipi. “Jangan mencicipi makanan yang dicurigai rusak,” tegasnya.
Kemasan dan Tanggal Kedaluwarsa Wajib Dicek
Keamanan MBG juga berkaitan dengan kondisi kemasan makanan dan minuman. Kemasan harus dipastikan bersih serta tidak bocor, menggelembung, robek, atau terbuka. Bagian penutupnya juga harus dalam kondisi baik dan tertutup rapat.
Label tanggal produksi dan kedaluwarsa harus dapat dibaca. Tri menceritakan pengalamannya menerima cokelat yang secara fisik masih terlihat baik, tetapi setelah diperiksa ternyata tanggal kedaluwarsanya telah terlewati.
Kemasan juga harus diperiksa untuk memastikan tidak ada tanda kontaminasi dari lingkungan, termasuk bau yang tidak semestinya. Namun, Tri mengingatkan bahwa makanan yang terkontaminasi tidak selalu menunjukkan perubahan pada tampilan, aroma, maupun rasa.
Karena itu, makanan yang diragukan keamanannya perlu ditahan dan diverifikasi sebelum didistribusikan. Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah makanan yang berisiko dikonsumsi siswa.
Tindakan Awal Jika Siswa Diduga Keracunan
Selain mengenali makanan yang tidak aman, warga sekolah perlu mengetahui tindakan awal apabila terjadi dugaan keracunan makanan. Tri mengatakan penanganan harus dilakukan dengan cepat, dimulai dari penilaian tingkat kesadaran, jalan napas, pernapasan, hingga sirkulasi siswa.
Guru atau pihak sekolah juga perlu memperhatikan keluhan seperti mual, muntah, nyeri perut, pusing, dan lemas. Waktu munculnya keluhan serta makanan yang sebelumnya dikonsumsi siswa perlu dicatat.
“Jika siswa dalam kondisi sadar, cairan seperti oralit dapat diberikan sedikit demi sedikit. Pemberian makanan ringan juga dapat dilakukan sesuai toleransi. Namun, terdapat sejumlah tindakan yang tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Jangan memaksa korban muntah. Jangan memberikan obat anti-diare, atau anti-metika, secara sembarangan,” kata Tri.
Ia juga meminta guru dan pihak sekolah tidak memberikan susu atau ramuan tertentu sebagai penawar karena kondisi korban belum diketahui. “Saya lihat sekarang, banyak sekali orang yang memberikan susu, atau ramuan-ramuan. Mohon jangan diberikan, karena kita tidak tahu apa yang terjadi,” ujarnya.
Makanan atau minuman tidak boleh diberikan kepada siswa yang tidak sadar karena dapat menyebabkan tersedak. Dalam kondisi tersebut, siswa harus segera dirujuk ke fasilitas kesehatan.
Rujukan juga diperlukan apabila siswa mengalami gangguan kesadaran, kesulitan bernapas, muntah terus-menerus hingga tidak dapat makan atau minum, tanda dehidrasi berat, darah dalam muntahan atau tinja, nyeri perut hebat, demam tinggi, kondisi yang memburuk dengan cepat, atau dugaan keracunan bahan kimia.
Sekolah Diminta Hentikan Konsumsi Makanan Terduga Terkontaminasi
Ketika terdapat dugaan makanan terkontaminasi, Tri menekankan konsumsi makanan tersebut harus segera dihentikan. Pihak sekolah perlu memastikan tidak ada siswa lain yang mengonsumsi makanan itu, menjaga keamanan siswa, memberikan pendampingan awal, dan melakukan rujukan sesuai tingkat kegawatan.
Menurut Tri, literasi keamanan pangan penting untuk membangun kewaspadaan di lingkungan sekolah. Kemampuan mengenali kondisi makanan sebelum dikonsumsi dan memahami tanda bahaya pada siswa dapat membantu warga sekolah mengambil tindakan lebih cepat.
“Kenali secara dini, tindakan cepat menyelamatkan jiwa raga, keselamatan siswa sebagai prioritas, dan kita bekerja sama untuk melindungi bersama-sama,” pungkas Tri.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.



















