Headline.co.id, Jakarta ~ Cegukan pada bayi umumnya merupakan kondisi normal dan dapat berhenti dengan sendirinya, terutama ketika muncul setelah menyusu. Informasi ini disampaikan berdasarkan laman resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) yang dilansir pada Selasa (29/9/2026), sementara artikel mengenai kondisi tersebut diterbitkan di Jakarta pada 1 Oktober 2026. Cegukan terjadi karena diafragma berkontraksi secara tiba-tiba dan tidak disengaja, kemudian diikuti penutupan glotis yang menimbulkan suara “hik”.
Orang tua tidak perlu langsung panik ketika bayi mengalami cegukan berulang, bahkan hampir setiap hari. Pada bayi sehat, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan perut yang teregang setelah minum atau refluks, sehingga kerap muncul setelah bayi selesai menyusu.
Cegukan bayi tidak selalu menandakan GERD
Secara medis, cegukan muncul ketika diafragma, yaitu otot yang berperan dalam proses pernapasan, berkontraksi tanpa disengaja. Kontraksi tersebut kemudian diikuti penutupan glotis dan menghasilkan suara khas “hik”.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
IDAI menyebut cegukan pada bayi dan anak umumnya tidak perlu dikhawatirkan. Kondisi ini dapat muncul setelah bayi melakukan aktivitas seperti menyusu dan biasanya akan hilang sendiri pada bayi yang sehat.
Penelitian terhadap 100 bayi sehat yang dimuat dalam Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition menemukan 36 persen bayi mengalami cegukan setiap hari. Temuan tersebut menunjukkan bahwa bayi yang cukup sering cegukan belum tentu sedang mengalami sakit.
Cegukan memang dapat muncul bersamaan dengan refluks, tetapi kondisi itu tidak berarti setiap bayi yang cegukan mengalami gastroesophageal reflux disease (GERD). Refluks cukup umum terjadi pada bayi, terutama pada bulan-bulan pertama kehidupan, karena sistem pencernaan bayi masih berkembang dan isi lambung dapat kembali naik ke kerongkongan.
Penelitian terhadap bayi sehat berusia 0-24 bulan juga menemukan gejala yang berkaitan dengan refluks lebih sering dialami bayi yang lebih muda. Frekuensi cegukan menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap skor gejala refluks pada bayi usia dini.
Gejala yang perlu diperhatikan orang tua
Cegukan saja tidak cukup untuk menyimpulkan bayi mengalami GERD. Kondisi tersebut baru menjadi perhatian ketika refluks menimbulkan masalah, seperti muntah terus-menerus, kesulitan makan atau menyusu, hingga pertumbuhan bayi terganggu.
Karena itu, orang tua perlu memperhatikan kondisi bayi secara keseluruhan, bukan hanya menghitung seberapa sering cegukan muncul. Lama cegukan berlangsung dan ada atau tidaknya gejala lain juga menjadi hal penting untuk diamati.
Review PubMed menyebut cegukan akut pada umumnya bersifat jinak dan dapat berhenti dengan sendirinya. Sebaliknya, cegukan yang berlangsung lama atau sulit dihentikan lebih jarang terjadi dan dapat berkaitan dengan kondisi medis tertentu.
Kondisi medis yang dapat berkaitan dengan cegukan berkepanjangan lain gangguan pencernaan, sistem saraf, paru-paru, infeksi, gangguan metabolik, hingga efek obat. Namun, informasi tersebut tidak berarti setiap cegukan yang berlangsung pada bayi disebabkan oleh salah satu kondisi tersebut.
Cara mengurangi cegukan setelah menyusu
Pada cegukan biasa, orang tua tidak perlu buru-buru berusaha menghentikannya karena cegukan pada bayi sehat umumnya dapat hilang sendiri. IDAI menyebut beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi kemungkinan cegukan, khususnya yang muncul setelah menyusu.
Orang tua dapat memastikan bayi tidak minum terlalu cepat dan tidak terlalu banyak menelan udara ketika menyusu. Bayi juga dapat disendawakan setelah minum. Selain itu, memberikan jeda atau waktu istirahat setelah menyusu dapat membantu mengurangi kemungkinan cegukan.
Dengan demikian, suara “hik” yang muncul sesekali tidak otomatis menunjukkan adanya masalah kesehatan. Jika bayi tetap aktif, mau menyusu, bernapas normal, dan tumbuh dengan baik, cegukan tersebut umumnya tidak perlu dikhawatirkan.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.





















