Headline.co.id, Jakarta ~ Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bersama Badan Karantina Indonesia (Barantin) memperkuat kesiapan ekspor produk UMKM melalui fasilitasi pemenuhan persyaratan karantina. Sinergi itu ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman Menteri UMKM Maman Abdurrahman dan Kepala Barantin Abdul Kadir Karding dalam kegiatan Gerakan 1.000 Pelaku Usaha Ekspor dan Pengusaha UMKM Menuju Pasar Global di Kota Palu, Sulawesi Tengah, Senin (28/9/2029). Kerja sama tersebut diarahkan untuk membantu pelaku UMKM memenuhi standar negara tujuan, meningkatkan daya saing, dan memperluas akses pasar internasional.
Penguatan kerja sama Kementerian UMKM dan Barantin mencakup fasilitasi persyaratan karantina bagi produk hewan, ikan, dan tanaman. Barantin akan menyediakan informasi mengenai ketentuan karantina di negara tujuan ekspor serta memberikan asistensi teknis kepada pelaku usaha.
Sementara itu, Kementerian UMKM memfasilitasi pelaku UMKM agar lebih siap memenuhi berbagai persyaratan yang diperlukan untuk memasuki pasar global. Sinergi tersebut juga meliputi peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pemanfaatan sarana dan prasarana, serta pertukaran data dan informasi.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Potensi Produk UMKM di Pasar Global
Menteri UMKM Maman Abdurrahman mengatakan produk UMKM Indonesia memiliki peluang besar di pasar luar negeri. Salah satu contohnya terlihat dari petani di Sulawesi Tengah yang difasilitasi PT Duco Food Indonesia dan berhasil mengekspor 918 ton durian.
“Produk UMKM Indonesia memiliki peluang pasar yang besar di luar negeri. Hal tersebut lain terlihat dari petani di Sulawesi Tengah yang difasilitasi PT Duco Food Indonesia dan berhasil mengekspor 918 ton durian,” ujar Maman melalui keterangan resminya, Selasa (29/9/2026).
Selain itu, PT Sentra Pangan Sejahtera yang menggandeng petani lokal berhasil meraih keuntungan hingga Rp227 miliar dari kegiatan ekspor durian. Menurut Maman, capaian tersebut menunjukkan komoditas lokal dapat dikembangkan menjadi produk berorientasi ekspor.
Potensi produk UMKM juga terlihat dalam keikutsertaan 75 pemilik usaha yang difasilitasi Kementerian UMKM pada China International Small and Medium Enterprises Fair (CISMEF) 2026 di Guangzhou, China.
Dalam pameran itu, pelaku UMKM yang membawa komoditas seperti kopi, cocopeat, teripang, kerupuk, dan rendang berhasil menjalin kontrak dagang senilai Rp54,6 miliar. Selain kontrak dagang, tercatat transaksi business to consumer (B2C) sebesar Rp325,5 juta dan potensi transaksi business to business (B2B) mencapai Rp76,9 miliar.
Persyaratan Karantina Jadi Perhatian
Maman menilai capaian tersebut memperlihatkan adanya minat pasar internasional terhadap produk Indonesia. Namun, peluang itu perlu diikuti peningkatan kesiapan produk, perluasan akses pasar, dan pendampingan agar UMKM mampu memenuhi ketentuan ekspor yang berlaku di negara tujuan.
“UMKM kita harus memiliki produk berkualitas dan memenuhi standar, serta mencukupi persyaratan karantina negara tujuan ekspor agar siap masuk pasar global dan menjangkau pembeli dari luar negeri,” katanya.
Menurut Maman, kolaborasi lintas kementerian dan lembaga diperlukan karena proses ekspor mencakup berbagai aspek dan ketentuan. Pendampingan yang terintegrasi diharapkan membantu UMKM meningkatkan daya saing sekaligus memperluas akses ke pasar internasional.
Selain mendampingi UMKM berorientasi ekspor, Maman menekankan pentingnya monitoring, evaluasi, dan pengawasan terhadap produk impor yang masuk ke Indonesia. Pengawasan tersebut diperlukan untuk mencegah masuknya produk impor ilegal yang dapat merugikan masyarakat dan memengaruhi daya saing UMKM lokal.
Ia mengatakan setiap negara memiliki persyaratan tertentu terhadap produk yang masuk ke wilayahnya. Karena itu, Barantin diharapkan memperkuat penerapan ketentuan karantina secara konsisten, baik untuk melindungi pasar domestik maupun menciptakan hubungan perdagangan yang lebih setara.
“Sinergi, kebersamaan, dan kekompakan kita pada akhirnya bisa memberikan pelayanan maksimal buat masyarakat Indonesia, terutama UMKM,” tegas Maman.
Barantin Siapkan Klinik Ekspor
Kepala Barantin Abdul Kadir Karding menegaskan kesiapan lembaganya mendukung pemberdayaan UMKM agar mampu menghasilkan produk berkualitas unggul dan memenuhi standar internasional untuk ekspor.
“Insyaallah kita akan membentuk klinik ekspor sebagai pusat konsultasi supaya UMKM mengetahui cara ekspor dan standar produk berskala internasional sehingga UMKM sukses memasarkan produk ke luar negeri,” ujar Karding.
Klinik ekspor tersebut diharapkan menjadi ruang konsultasi dan pendampingan bagi pelaku UMKM. Fasilitas itu juga diharapkan mendorong semakin banyak produk lokal memenuhi persyaratan pasar internasional dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
Maman turut menekankan pentingnya dukungan pemerintah daerah dalam memperluas pasar ekspor UMKM. Dukungan itu dapat dilakukan melalui sosialisasi berbagai program pemberdayaan UMKM pemerintah agar dimanfaatkan secara optimal oleh pelaku usaha di daerah.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.
















