Headline.co.id ~ Penghitungan dampak event pariwisata di Indonesia dinilai perlu memiliki standar teknis yang seragam. Dalam satu dekade terakhir, pemerintah pusat dan daerah semakin aktif memanfaatkan event pariwisata untuk mempercepat pembangunan destinasi, meningkatkan daya saing sektor pariwisata, memulihkan ekonomi, serta memperkuat UMKM. Namun, pengukuran yang selama ini berfokus pada jumlah event dan peserta belum cukup untuk mengetahui nilai tambah ekonomi, dampak sosial, kemajuan kebudayaan, maupun potensi dampak negatifnya. Karena itu, diperlukan penghitungan yang lebih komprehensif agar kinerja berbagai event pariwisata dapat dinilai dan dibandingkan secara lebih tepat.
Event pariwisata semakin beragam
Event pariwisata telah menjadi instrumen strategis dalam pembangunan destinasi dan penguatan daya saing sektor pariwisata. Pemanfaatannya dilakukan oleh pemerintah pusat maupun daerah untuk mendukung sejumlah kepentingan, mulai dari pemulihan ekonomi hingga promosi pariwisata berbasis budaya dan kreativitas.
Selain itu, event pariwisata digunakan untuk memperkuat UMKM dan mengembangkan destinasi prioritas. Peran tersebut menunjukkan bahwa event tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan, tetapi juga diharapkan memberikan manfaat yang lebih luas bagi perekonomian, masyarakat, kebudayaan, dan destinasi.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Jenis event pariwisata yang berkembang juga semakin beragam. Kegiatannya mencakup festival budaya, wisata olahraga, serta Pertemuan, Perjalanan Insentif, Konvensi, dan Pameran atau MICE. Event berbasis komunitas turut menjadi bagian dari perkembangan tersebut.
Keragaman bentuk dan tujuan event membuat kebutuhan terhadap pengukuran dampak yang menyeluruh semakin penting. Setiap event dapat memiliki karakteristik dan sasaran berbeda, sehingga penghitungan tidak cukup hanya mencatat jumlah penyelenggaraan atau jumlah orang yang hadir.
Jumlah event dan peserta belum menggambarkan dampak
Praktik penghitungan yang hanya berfokus pada output, seperti jumlah event pariwisata dan jumlah peserta, belum dapat menjawab pertanyaan kebijakan yang lebih fundamental. Data tersebut memang menggambarkan skala pelaksanaan kegiatan, tetapi belum menjelaskan manfaat atau konsekuensi yang muncul setelah event berlangsung.
Pemerintah dan pemangku kepentingan membutuhkan informasi mengenai apakah event pariwisata benar-benar memberikan nilai tambah bagi perekonomian. Pengukuran juga perlu menjawab apakah kegiatan tersebut meningkatkan kesejahteraan sosial dan memajukan kebudayaan.
Di sisi lain, dampak event tidak selalu bersifat positif. Penghitungan perlu melihat kemungkinan timbulnya dampak negatif terhadap kehidupan sosial, nilai budaya, maupun pengelolaan lingkungan. Dengan demikian, evaluasi event tidak berhenti pada keberhasilan pelaksanaan, tetapi juga mencakup pengaruhnya terhadap berbagai aspek yang terkait.
Kebutuhan tersebut menjadi semakin relevan karena event pariwisata dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan pembangunan. Ketika event diposisikan sebagai instrumen pemulihan ekonomi, penguatan UMKM, pengembangan destinasi, dan promosi budaya, ukuran keberhasilannya perlu mencerminkan seluruh tujuan tersebut.
Tanpa pedoman, estimasi dampak rentan bias
Ketiadaan pedoman teknis yang seragam dapat menimbulkan sejumlah persoalan dalam penghitungan dampak event pariwisata. Salah satunya adalah munculnya estimasi yang bias. Perbedaan cara menghitung juga dapat mendorong klaim dampak yang berlebihan karena tidak terdapat acuan yang sama dalam menilai hasil kegiatan.
Situasi tersebut turut menyulitkan pemerintah dan pemangku kepentingan ketika hendak membandingkan kinerja event pariwisata. Perbandingan akan menjadi kurang akurat apabila setiap event menggunakan ukuran, pendekatan, atau batasan penghitungan yang berbeda.
Padahal, hasil penghitungan dibutuhkan untuk memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kontribusi event terhadap pembangunan destinasi dan sektor pariwisata. Informasi tersebut juga penting untuk menilai apakah pelaksanaan event telah memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan budaya sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
Penghitungan perlu mencakup dampak positif dan negatif
Petunjuk teknis penghitungan dampak event pariwisata diperlukan agar penilaian tidak hanya didasarkan pada indikator output. Standar tersebut diharapkan dapat menjadi dasar untuk melihat nilai tambah ekonomi, kesejahteraan sosial, kemajuan kebudayaan, serta kemungkinan dampak negatif terhadap kehidupan sosial, nilai budaya, dan pengelolaan lingkungan.
Dengan penghitungan yang lebih komprehensif, laporan mengenai event pariwisata tidak hanya memuat jumlah kegiatan dan peserta. Evaluasi juga dapat memberikan informasi mengenai manfaat dan konsekuensi kegiatan secara lebih utuh.
Kebutuhan terhadap standar penghitungan muncul seiring meningkatnya peran event pariwisata di Indonesia. Tanpa ukuran yang seragam, laporan berisiko menghasilkan gambaran yang tidak sebanding antar-event. Sebaliknya, pedoman teknis dapat menjadi landasan untuk mengukur dampak secara lebih konsisten dan mendukung penilaian kinerja event pariwisata.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.



















